Net Sell Asing Tembus Rp 20 T, BBCA Jadi Saham Paling Banyak Dijual di Pasar Reguler

Mar 26, 2026 - 19:00
 0  4
Net Sell Asing Tembus Rp 20 T, BBCA Jadi Saham Paling Banyak Dijual di Pasar Reguler

Pasar modal Indonesia kembali mengalami tekanan akibat aksi jual besar-besaran oleh investor asing. Pada sesi pertama perdagangan Kamis, 26 Maret 2026, net foreign sell mencapai angka fantastis Rp 20 triliun, menandakan aliran dana asing yang keluar dari pasar saham Tanah Air sangat deras.

Ad
Ad

Meski begitu, terdapat transaksi besar di saham FAP Agri (FAPA) sebesar Rp 18,8 triliun yang terjadi di pasar negosiasi, sehingga volume transaksi reguler dipengaruhi oleh transaksi ini.

BBCA Mendominasi Net Sell Asing di Pasar Reguler

Berdasarkan data perdagangan, Bank Central Asia (BBCA) menjadi saham yang paling banyak dijual asing di pasar reguler. Investor asing melepas sebanyak 35,3 juta saham BBCA dengan nilai transaksi mencapai Rp 243,8 miliar. Posisi ini membuat BBCA menjadi sorotan utama dalam aksi jual asing hari ini.

Selain BBCA, saham-saham perbankan lain juga mengalami tekanan serupa. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Negara Indonesia (BBNI) masing-masing mengalami net sell asing sebesar Rp 89,2 miliar dan Rp 79 miliar. Saham-saham lain yang turut masuk dalam daftar penjualan asing terbesar adalah Aneka Tambang (Rp 72,7 miliar), GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) (Rp 63,6 miliar), serta Petrosea (PTRO) dengan Rp 60,9 miliar.

Daftar 10 Saham dengan Net Foreign Sell Terbesar Sesi 1, 26 Maret 2026

  1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) - Rp 243,8 miliar
  2. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) - Rp 89,2 miliar
  3. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) - Rp 79 miliar
  4. PT Aneka Tambang (Persero) Tbk - Rp 72,7 miliar
  5. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) - Rp 63,6 miliar
  6. PT Petrosea Tbk (PTRO) - Rp 60,9 miliar
  7. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) - Rp 58,8 miliar
  8. PT Darma Henwa Tbk (DEWA) - Rp 57,6 miliar
  9. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) - Rp 43,3 miliar
  10. PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) - Rp 35,1 miliar

IHSG Turun Signifikan Mengiringi Aksi Jual Asing

Seiring dengan aksi jual asing yang masif, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun berakhir di zona merah dengan penurunan 1,21% atau 88,04 poin ke level 7.214,08 pada sesi 1 hari ini. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 371 saham mengalami penurunan harga, 311 saham naik, dan 276 saham stagnan.

Nilai transaksi sepanjang sesi 1 cukup besar, mencapai Rp 25,94 triliun. Namun, sebagian besar nilai transaksi ini tersumbang dari transaksi di saham FAP Agri (FAPA) di pasar negosiasi sebesar Rp 18,8 triliun. Jumlah saham yang berpindah tangan mencapai 18,71 miliar saham dengan 1,03 juta kali transaksi, sementara kapitalisasi pasar merosot ke angka Rp 12.693 triliun.

Pergerakan sektor saham juga menunjukkan tren negatif. Hampir seluruh sektor utama merosot, dengan sektor bahan baku, teknologi, dan utilitas mencatat penurunan terdalam. Bahkan saham-saham yang sebelumnya menjadi penggerak IHSG hari kemarin justru tertekan cukup dalam hari ini.

Contohnya, saham Telkom Indonesia (TLKM) yang pada perdagangan kemarin naik 8,2%, hari ini turun drastis 3,64%, menyeret IHSG turun sebesar 12,62 poin. Begitu pula saham Astra International (ASII) yang turun 4,55% ke level 6.300 setelah kemarin sempat naik 13,79%, membebani IHSG sebesar 12,28 poin.

Pengaruh Bursa Regional dan Sentimen Global

Tekanan di pasar saham Indonesia juga sejalan dengan pergerakan negatif di bursa saham kawasan Asia. Bursa Nikkei Jepang turun 0,84%, dan bursa Kospi Korea Selatan bahkan turun cukup dalam sebesar 2,44% pada sesi siang hari ini. Hal ini menunjukkan sentimen global yang sedang kurang mendukung pasar saham Asia.

Menurut laporan CNBC Indonesia, aksi jual asing ini menandakan kewaspadaan investor terhadap kondisi makroekonomi dan geopolitik yang tengah berlangsung, yang turut memengaruhi keputusan investasi mereka di pasar Indonesia.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, aksi jual asing yang mencapai Rp 20 triliun dalam satu sesi ini merupakan sinyal penting bahwa pasar modal Indonesia tengah menghadapi tekanan signifikan dari faktor eksternal maupun internal. Pelepasan saham unggulan seperti BBCA, BBRI, dan BBNI mengindikasikan kekhawatiran investor asing terhadap sektor perbankan yang selama ini menjadi tulang punggung IHSG.

Selain itu, volatilitas saham-saham teknologi dan sumber daya alam juga memperlihatkan ketidakpastian yang melingkupi pasar global. Penurunan bursa regional di Asia menambah tekanan pada sentimen investor lokal. Jika tren ini berlanjut, IHSG kemungkinan akan menghadapi koreksi lebih dalam dalam waktu dekat.

Investor domestik dan pelaku pasar perlu mewaspadai dinamika global dan kesiapan kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar. Perhatian khusus harus diberikan pada perkembangan ekonomi makro, suku bunga, dan geopolitik yang menjadi pemicu utama aliran modal keluar. Memantau perkembangan ini secara cermat akan membantu pelaku pasar mengambil keputusan investasi yang lebih bijak ke depan.

Untuk informasi terkini dan analisis mendalam lainnya, terus ikuti pembaruan berita pasar saham Indonesia dan global dari sumber terpercaya seperti CNBC Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad