Ruang Kantor Kosong di Jakarta Capai 3 Juta Meter, Ancaman atau Pemulihan?
Ruang kantor kosong di Jakarta kini mencapai sekitar 3 juta meter persegi, tertinggi di kawasan Asia-Pasifik. Data ini menjadi perhatian banyak pihak karena melibatkan sektor properti yang sangat penting bagi perekonomian ibu kota. Namun, apakah jumlah ruang kantor yang kosong ini merupakan ancaman serius bagi pasar properti atau justru menandakan proses pemulihan pasca pandemi Covid-19? Mari kita telaah lebih dalam.
Jumlah Ruang Kantor Kosong di Jakarta dan Perbedaan Data
Konsultan properti terkemuka, CBRE Indonesia, mengungkapkan bahwa ruang kantor kosong di Jakarta mencapai sekitar 2,6 juta meter persegi. Sementara itu, data dari Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia pada Oktober 2025 mencatat angka yang sedikit lebih tinggi, yakni 3 juta meter persegi. Perbedaan ini wajar karena metode dan cakupan penghitungan yang berbeda antara perusahaan konsultan.
"Perbedaan angka ini merupakan hal yang wajar karena masing-masing perusahaan memiliki perhitungannya sendiri," ujar Albert DW, Co-Head of Office Services CBRE Indonesia.
Namun, angka ini bukan pertanda yang buruk. Justru sektor perkantoran di Jakarta telah menunjukkan pertumbuhan yang baik dalam lima tahun terakhir, terutama pasca pandemi yang sempat menurunkan okupansi secara signifikan.
Tingkat Okupansi dan Distribusi Kantor Kosong
Angka 2,6 juta meter persegi tersebut merupakan akumulasi ruang kosong di seluruh gedung perkantoran Jakarta. Tidak ada gedung yang benar-benar kosong 100 persen. Rata-rata okupansi di kawasan Central Business District (CBD) sudah mencapai 75 persen, sementara di luar CBD sekitar 73 persen. Bahkan, gedung kantor grade A dan premium grade menunjukkan tingkat keterisian mencapai 90 persen.
"Kalau saya melihatnya, nggak mengancam okupansi yang di 75 persen sampai 73 persen. Kita malah melihatnya bahwa ini berangsur-angsur recovery," tambah Judy Sinurat, Co-Head of Office Services CBRE Indonesia.
Fenomena ruang kantor kosong ini lebih banyak merupakan dampak dari penyesuaian pasca pandemi serta tren kerja dari rumah (WFH) yang sempat mengubah kebutuhan ruang kerja perusahaan. Namun, tren ini mulai berbalik mengarah ke pemulihan dengan peningkatan okupansi kantor.
Faktor Penyebab dan Dampak Geopolitik
Menurut Martin Hutapea, Head of Research & Consultancy PT Leads Property Service Indonesia, tingginya ruang kantor kosong adalah akibat pembangunan ruang kantor yang masif sekitar tahun 2015-2016. Saat itu, banyak gedung dibangun tanpa mempertimbangkan permintaan pasar sehingga saat ini terjadi kelebihan pasokan.
- Pengembangan ruang kantor yang terlalu masif selama 10 tahun terakhir.
- Kurangnya sinkronisasi antara pasokan kantor dan permintaan pasar.
- Tren WFH sejak pandemi yang mengurangi kebutuhan ruang kantor.
Meski isu geopolitik seperti konflik AS-Israel vs Iran dan kebijakan pemerintah soal WFH untuk penghematan BBM muncul, dampaknya terhadap okupansi ruang kantor di Jakarta dinilai tidak signifikan.
"Kalau kita melihat secara direct impact, sih nggak mengubah kebutuhan perkantoran yang sudah established lama di Indonesia," jelas Albert DW.
Proyeksi Pasar Kantor Jakarta Hingga 2028
Martin Hutapea memaparkan bahwa setelah lonjakan pembangunan beberapa tahun lalu, mulai tahun 2024 hingga 2028, pasokan ruang kantor baru di Jakarta diperkirakan sangat terbatas. Beberapa daerah bahkan tidak akan mengalami penambahan ruang kantor baru sama sekali.
Harapannya, dengan berkurangnya pasokan baru ini, ruang kantor kosong yang mencapai 3 juta meter persegi dapat terserap secara bertahap oleh pasar hingga 2028.
"Hingga 2028 tidak ada proyek perkantoran baru yang signifikan, potensi okupansi naik sudah lumayan banget," kata Martin.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, meskipun data ruang kantor kosong di Jakarta terbilang tinggi, hal ini bukan sinyal kehancuran pasar properti perkantoran. Justru, angka ini menunjukkan adanya penyesuaian wajar pasca pandemi dan ledakan pembangunan yang berlebihan beberapa tahun lalu. Fakta bahwa okupansi rata-rata masih di atas 70 persen bahkan di tengah kondisi demikian menunjukkan pasar yang sehat dan mulai pulih.
Namun, harus diwaspadai bahwa masa depan sektor perkantoran sangat bergantung pada adaptasi model kerja hybrid dan WFH. Jika perusahaan semakin fleksibel dalam penggunaan ruang, permintaan ruang kantor mungkin tidak akan kembali ke level pra-pandemi. Oleh karena itu, pelaku industri perlu inovasi dalam menawarkan konsep ruang kerja yang lebih dinamis dan menarik.
Selain itu, berkurangnya pasokan baru hingga 2028 menjadi peluang bagi pengembang dan investor untuk menstabilkan pasar dan meningkatkan nilai sewa ruang kantor. Pemerintah dan pemangku kepentingan juga harus terus memantau dinamika ini agar kebijakan yang dikeluarkan mampu mendukung pemulihan ekonomi dan kebutuhan bisnis nasional secara berkelanjutan.
Untuk informasi lebih lanjut dan update terkini tentang pasar properti Jakarta, Anda dapat mengunjungi langsung sumber berita detikProperti dan laporan dari CBRE Indonesia.
Dengan pemahaman yang tepat, ruang kantor kosong ini dapat menjadi peluang bagi pertumbuhan dan inovasi sektor properti di ibu kota.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0