Tren Resign Usai THR: Gaji Bukan Alasan Utama Karyawan Pindah Kerja

Mar 27, 2026 - 15:31
 0  3
Tren Resign Usai THR: Gaji Bukan Alasan Utama Karyawan Pindah Kerja

Tren resign usai menerima Tunjangan Hari Raya (THR) kembali menjadi perhatian setiap tahunnya. Namun, di balik anggapan umum bahwa karyawan hanya pindah kerja demi gaji lebih tinggi, data terbaru mengungkap bahwa alasan di balik keputusan pindah kerja jauh lebih kompleks.

Ad
Ad

Pasca-Lebaran memang kerap menjadi momentum bagi pekerja untuk mengevaluasi karier dan mencari peluang baru. Aktivitas pencarian kerja meningkat signifikan di periode ini, yang sering kali disalahartikan sebagai fenomena "kutu loncat" semata karena uang.

Gaji Bukan Faktor Utama Resign, Ini Temuan Laporan Workplace Happiness Index

Menurut laporan Workplace Happiness Index, kenaikan gaji bukanlah satu-satunya faktor yang mendorong karyawan untuk resign. Ria Novita, Talent Acquisition Manager dari JobStreet by SEEK, mengungkapkan bahwa walaupun fenomena resign setelah Lebaran memang ada, jumlahnya tidak lebih besar dibandingkan periode lain seperti akhir tahun atau masa setelah performance review.

"Angkanya tidak lebih tinggi dibanding periode lain seperti akhir tahun atau setelah performance review," jelas Ria pada Jumat (27/3/2026).

Ia menambahkan bahwa banyak karyawan yang resign setelah THR sebenarnya sudah merencanakan keputusannya sejak lama, namun menunggu hak mereka dibayarkan terlebih dahulu. Secara etika, tindakan ini dinilai sah selama karyawan mengikuti prosedur yang berlaku, seperti memberikan pemberitahuan sesuai masa notice dan menyelesaikan tanggung jawab kerja.

Faktor Utama: Keseimbangan Kerja dan Makna Pekerjaan

Meski 54% pekerja Indonesia mengakui gaji lebih tinggi bisa meningkatkan kebahagiaan, laporan tersebut menegaskan bahwa uang bukanlah faktor utama yang membuat karyawan bertahan di perusahaan. Dua faktor yang justru paling berpengaruh adalah:

  • Work-life balance atau keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi
  • Purpose atau makna dalam pekerjaan yang dijalani

Ria menyatakan, "Karyawan yang merasa pekerjaannya bermakna terbukti lebih bahagia dan cenderung bertahan lebih lama di perusahaan." Bahkan, mereka yang bahagia di tempat kerja memiliki peluang 24% lebih besar untuk memberikan kinerja ekstra.

Fenomena resign usai THR seharusnya tidak dilihat sebagai krisis, tetapi sebagai momentum evaluasi bagi perusahaan dan karyawan. Ini saat yang tepat bagi manajemen untuk memahami alasan mendasar di balik keputusan karyawan keluar, mulai dari jenjang karier, budaya kerja, hingga keseimbangan hidup.

Peran Perusahaan dalam Menahan Karyawan Setelah THR

Perusahaan kini dihadapkan pada realita baru dalam memenangkan kandidat terbaik pasca-Lebaran. Gaji memang menjadi gerbang pembuka, tetapi budaya kerja yang memanusiakan karyawan adalah kunci utama penahan mereka.

Ria menegaskan, "Yang penting bukan hanya soal gaji kompetitif, tapi juga bagaimana menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan bermakna." Budaya perusahaan yang mendukung keseimbangan hidup dan memberikan makna dalam pekerjaan menjadi faktor penting untuk mengurangi angka resign.

Berikut beberapa poin penting yang perlu diperhatikan perusahaan untuk mengurangi tren resign pasca-THR:

  1. Mengembangkan program work-life balance yang nyata dan berkelanjutan
  2. Meningkatkan komunikasi tentang tujuan dan makna pekerjaan di setiap level
  3. Menyediakan jalur karier yang jelas dan peluang pengembangan diri
  4. Membangun budaya kerja yang inklusif dan mendukung kesejahteraan karyawan

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, tren resign pasca-THR mencerminkan perubahan mindset karyawan modern yang lebih memprioritaskan kualitas hidup dan kepuasan batin daripada sekadar kompensasi finansial. Ini adalah sinyal penting bagi perusahaan untuk tidak hanya bersaing soal gaji, tetapi juga memperbaiki budaya kerja dan memberikan makna pada pekerjaan.

Jika perusahaan gagal memahami hal ini, mereka berisiko kehilangan talenta terbaik yang dapat berkontribusi pada pertumbuhan jangka panjang. Di sisi lain, perusahaan yang mampu menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan bermakna akan mendapat keuntungan kompetitif yang berkelanjutan.

Ke depan, perlu ada pendekatan yang lebih holistik dalam pengelolaan sumber daya manusia, termasuk adaptasi terhadap kebutuhan keseimbangan kerja dan hidup serta pemberdayaan karyawan agar merasa pekerjaannya bermakna. Hal ini tidak hanya menekan angka resign, tetapi juga meningkatkan produktivitas dan loyalitas.

Untuk informasi lebih lengkap dan update tentang tren ketenagakerjaan dan budaya kerja, tetap ikuti berita terpercaya seperti CNBC Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad