IHSG Anjlok 2,55%: Saham Konglomerasi Jadi Biang Kerok Penurunan

Mar 4, 2026 - 11:37
 0  6
IHSG Anjlok 2,55%: Saham Konglomerasi Jadi Biang Kerok Penurunan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan pagi Rabu, 4 Maret 2026, dengan penurunan signifikan sebesar 2,55% ke level 7.736,92. Pelemahan ini melanjutkan tren koreksi tajam dari dua hari sebelumnya, yang masing-masing mencatat penurunan 0,96% dan 2,65%.

Ad
Ad

Tekanan Jual Tinggi dan Saham Konglomerasi Berguguran

Kurang dari 30 menit setelah pembukaan pasar, IHSG sudah kehilangan sekitar 202 poin. Tekanan jual yang sangat tinggi tercermin dari 561 saham yang turun, sementara hanya 105 naik dan 168 saham stagnan. Total nilai transaksi pagi ini mencapai Rp 5,97 triliun dengan volume sebanyak 11,07 miliar saham yang diperdagangkan dalam 693.762 transaksi.

Saham-saham milik konglomerasi menjadi faktor utama yang membebani IHSG hari ini. Emiten milik beberapa pengusaha besar seperti Prajogo Pangestu, Hapsoro, Aguan, Bakrie, Hary Tanoe, dan Garibaldi 'Boy' Thohir kompak melemah. Hal ini turut memperparah tekanan jual di pasar saham Indonesia.

Sektor dan Saham yang Jadi Pendorong Penurunan

Seluruh sektor di Bursa Efek Indonesia berada di zona merah, dengan sektor infrastruktur dan barang baku mengalami koreksi terdalam. Sementara itu, sektor kesehatan dan energi relatif lebih tahan banting dengan penurunan yang lebih kecil.

Berikut adalah 10 saham utama yang menekan IHSG hari ini:

  1. Barito Renewables Energy (BREN) – turun 15,73 poin
  2. Amman Mineral Internasional (AMMN) – turun 10,62 poin
  3. Telkom Indonesia (TLKM) – turun 10,52 poin
  4. Bank Mandiri (BMRI) – turun 10,09 poin
  5. Bumi Resources Minerals (BRMS) – turun 9,70 poin
  6. Chandra Asri Pacific (TPIA) – turun 8,29 poin
  7. Bank Central Asia (BBCA) – turun 7,10 poin
  8. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) – turun 6,29 poin
  9. Merdeka Gold Resources (MDKA) – turun 5,96 poin
  10. VKTR Teknologi Mobilitas (VKTR) – turun 5,61 poin

Faktor Internal dan Eksternal yang Memengaruhi Pasar

Dari sisi domestik, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang melakukan sejumlah pembaruan penting terkait tata kelola pasar modal. Di antaranya adalah pemutakhiran data pemegang saham dengan kepemilikan lebih dari 1%, proses reklasifikasi tipe investor dari 9 menjadi 27 tipe, serta rencana kenaikan free float minimum dari 7,5% menjadi 15%. Proses kenaikan free float ini masih dalam tahap internal di Bursa Efek Indonesia dan menunggu persetujuan OJK.

Selain itu, OJK juga akan menghadirkan shareholder concentration list untuk membantu investor menilai risiko konsentrasi kepemilikan saham. Namun, ketidakpastian atas kebijakan ini turut menambah tekanan di pasar.

Dari sisi global, sentimen negatif datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama konflik yang melibatkan Iran dan penutupan Selat Hormuz. Harga minyak dunia terus naik, dengan Brent mencapai US$81,96 per barel dan minyak mentah AS di kisaran US$75,21 per barel, yang memicu kekhawatiran pasar atas pasokan energi dunia.

Indeks saham utama di Asia juga melemah tajam, seperti Kospi Korea Selatan turun 7,24%, S&P/ASX 200 Australia turun 1,81%, dan Nikkei 225 Jepang turun 1,59%. Pasar saham AS juga mengalami sesi yang bergejolak dengan Dow Jones turun 0,83% dan Nasdaq melemah 1,02%, mencerminkan kekhawatiran atas konflik yang berkepanjangan.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, koreksi tajam IHSG hari ini bukan hanya akibat sentimen negatif global, tetapi juga didorong oleh dinamika internal pasar modal Indonesia yang sedang beradaptasi dengan regulasi baru. Penyesuaian free float dan pengungkapan kepemilikan saham yang lebih transparan memang penting untuk meningkatkan kualitas pasar, namun dalam jangka pendek dapat memicu tekanan jual karena investor menilai risiko baru dan potensi perubahan kepemilikan saham secara masif.

Selain itu, pelemahan saham konglomerasi menandakan investor mulai mengurangi eksposur pada saham-saham yang selama ini dianggap sebagai tulang punggung IHSG. Jika tren ini berlanjut, IHSG berpotensi menghadapi volatilitas tinggi hingga kebijakan-kebijakan OJK benar-benar jelas dan pasar mulai menyerap perubahan tersebut.

Untuk ke depan, investor dan pelaku pasar perlu mewaspadai perkembangan geopolitik global serta kesiapan pasar modal Indonesia menyambut regulasi baru. Penguatan fundamental ekonomi domestik dan stabilisasi hubungan internasional akan menjadi kunci pemulihan sentimen positif di pasar saham.

Simak terus update terkini untuk memahami bagaimana dinamika pasar saham Indonesia berkembang di tengah tantangan yang ada.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad