Bedanya Campak dan Rubella: Dokter PAPDI Jelaskan Gejala dan Risiko Penting
Campak dan rubella seringkali membingungkan masyarakat karena keduanya sama-sama menimbulkan ruam pada kulit. Namun, menurut dokter spesialis penyakit dalam dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), kedua penyakit ini memiliki penyebab, gejala, dan risiko yang berbeda secara mendasar. Adityo Susilo, dokter spesialis yang juga anggota PAPDI, menjelaskan perbedaan penting ini dalam sebuah forum kesehatan di Jakarta pada 1 April 2026.
Campak Bukan Penyakit Baru, Ini Penyebab dan Karakteristiknya
Menurut Adityo, campak atau yang dikenal juga dengan nama rubeola adalah penyakit lama yang sudah dikenal dan terus dipantau secara global. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari kelompok Morbillivirus. Meskipun sudah lama ada, kesalahan mengenali gejala campak masih sering terjadi di masyarakat.
“Campak ini bukan penyakit baru. Sudah ada sejak lama dan terus dipantau di seluruh dunia,”ujar Adityo.
Gejala khas campak, yang membedakannya dari rubella, adalah munculnya bercak koplik, yaitu bercak putih kebiruan di dalam pipi. Tanda ini tidak ditemukan pada rubella.
Perbedaan Utama Campak dan Rubella
Rubella, meskipun juga menimbulkan ruam, adalah penyakit yang berbeda penyebabnya dan memiliki karakteristik tersendiri. Menurut Adityo, rubella biasanya memiliki gejala yang lebih ringan namun berbahaya bagi ibu hamil karena berisiko menyebabkan gangguan serius pada janin.
Berikut ini perbandingan gejala utama campak dan rubella:
- Campak: Disebabkan oleh virus Morbillivirus, memiliki gejala "tiga C" yaitu Cough (batuk), Coryza (pilek), dan Conjunctivitis (mata merah), serta bercak koplik di dalam pipi.
- Rubella: Gejala lebih ringan, ruam kulit, dan risiko utama adalah komplikasi pada janin ibu hamil.
Adityo menegaskan bahwa perbedaan ini penting untuk diketahui agar deteksi dan penanganan dapat dilakukan secara tepat.
Risiko dan Komplikasi Kedua Penyakit
Walaupun rubella cenderung lebih ringan, dampaknya bisa sangat serius terutama pada ibu hamil karena berpotensi menyebabkan kelainan kongenital pada bayi. Sebaliknya, campak tidak bersifat teratogenik, namun tetap berisiko menimbulkan komplikasi berat seperti pneumonia dan ensefalitis, terutama pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.
Menurut Adityo, pemahaman masyarakat terhadap perbedaan ini akan membantu meningkatkan kewaspadaan dan meminimalkan risiko komplikasi yang tidak perlu.
Langkah Pencegahan dan Penanganan
Vaksinasi merupakan cara paling efektif untuk mencegah kedua penyakit ini. Pemerintah Indonesia telah menjalankan program imunisasi campak dan rubella (MR) untuk mencegah penyebaran dan melindungi masyarakat, khususnya anak-anak.
Beberapa langkah penting yang disarankan adalah:
- Mengenali gejala awal campak dan rubella agar bisa segera mendapatkan penanganan medis.
- Mengikuti program imunisasi MR sesuai jadwal yang dianjurkan.
- Memperhatikan risiko khusus pada ibu hamil dan melakukan konsultasi rutin dengan tenaga kesehatan.
- Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala ruam kulit sebagai tanda penyakit menular.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kesalahan persepsi masyarakat terhadap perbedaan campak dan rubella dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis dan penanganan yang tepat. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko komplikasi serius, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil.
Selain itu, fokus yang kurang pada edukasi kesehatan terkait dua penyakit ini juga bisa menghambat keberhasilan program imunisasi nasional. Oleh karena itu, edukasi publik yang jelas dan intensif sangat penting untuk membedakan kedua penyakit ini dalam kehidupan sehari-hari.
Ke depan, pemerintah dan tenaga kesehatan perlu mengoptimalkan sosialisasi dan kampanye vaksinasi, serta memperkuat sistem surveilans penyakit menular agar bisa menangani kejadian campak dan rubella dengan cepat dan efektif. Masyarakat juga harus lebih aktif mencari informasi yang valid dan berkonsultasi dengan dokter saat menemui gejala mencurigakan.
Untuk informasi lebih lengkap dan update terbaru, kunjungi sumber berita asli di Kompas TV dan laman resmi kesehatan pemerintah.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0