Eks Menlu Iran Kamal Kharazi Luka Parah, Istri Tewas dalam Serangan Israel di Teheran

Apr 2, 2026 - 22:30
 0  4
Eks Menlu Iran Kamal Kharazi Luka Parah, Istri Tewas dalam Serangan Israel di Teheran

Mantan Menteri Luar Negeri Iran, Kamal Kharazi, mengalami luka parah sementara istrinya meninggal dunia dalam serangan udara yang diduga dilakukan oleh Israel di rumahnya di Teheran. Serangan ini merupakan bagian dari gelombang serangan udara yang terus berlangsung antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran selama lima minggu terakhir.

Ad
Ad

Serangan Udara Terbaru di Teheran dan Dampaknya

Menurut laporan media Iran pada Kamis, rumah Kharazi menjadi sasaran serangan udara sehari sebelumnya, menyebabkan kerusakan berat dan korban serius. Kharazi dilarikan ke rumah sakit dengan kondisi kritis, sementara istrinya dilaporkan tewas di lokasi kejadian.

"Kami telah melihat apa yang tampak seperti upaya pembunuhan terhadap mantan menteri luar negeri, Kamal Kharazi... Kami tidak tahu mengapa dia menjadi sasaran. Dia terluka parah, dan istrinya tewas," kata Mohamed Vall dari Al Jazeera, yang melaporkan langsung dari Teheran.

Serangan udara yang terjadi pada hari Kamis tidak hanya terjadi di Teheran, tetapi juga meluas ke beberapa kota lain di Iran seperti Isfahan dan Shiraz. Di Larestan, Iran selatan, empat orang dilaporkan meninggal dunia dalam gelombang serangan ini.

Serangan Terhadap Infrastruktur Kesehatan dan Respons Iran

Lebih jauh, serangan juga menargetkan Institut Pasteur Iran, sebuah pusat penelitian medis yang berdiri sejak 1920. Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, mengungkapkan bahwa serangan ini menyebabkan kerusakan parah pada institusi kesehatan yang sudah berusia satu abad tersebut.

"Serangan terhadap pilar kesehatan global berusia seabad di Teheran merupakan serangan langsung terhadap keamanan kesehatan internasional," tulis Kermanpour dalam unggahan di platform X.

Sementara itu, juru bicara komando gabungan angkatan bersenjata Iran menyatakan bahwa Teheran akan melanjutkan perang di Timur Tengah hingga Amerika Serikat dan Israel menghadapi "penyesalan permanen dan penyerahan diri". Pernyataan ini disampaikan oleh Ebrahim Zolfaghari, juru bicara markas besar Khatam al-Anbiya, yang juga menegaskan bahwa Iran akan meningkatkan aksi militernya dengan serangan yang lebih luas dan merusak.

Konflik Berkepanjangan dan Ancaman Militer

Ketegangan ini muncul di tengah ancaman Presiden AS Donald Trump yang menyatakan Washington akan menyerang Iran "dengan sangat keras" dalam beberapa minggu mendatang, meskipun menyebut bahwa Iran "pada dasarnya telah hancur" dan pihaknya berada di jalur yang tepat untuk mencapai tujuan militernya.

Menanggapi ancaman tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa Teheran tidak akan mentolerir siklus perang yang berulang, dan menilai perang ini sebagai perang yang tidak adil yang telah dipaksakan kepada rakyat Iran. "Kita tidak punya pilihan selain melawan dengan kuat," tambahnya.

Sejak serangan udara gabungan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari, lebih dari 2.000 orang tewas di Iran. Di sisi lain, setidaknya 24 orang tewas di Israel dan 13 tentara AS dilaporkan meninggal di wilayah tersebut. Serangan rudal Iran juga menimbulkan korban di wilayah Israel, termasuk empat warga terluka di Bnei Brak, sebelah timur Tel Aviv.

Komando Pertahanan Dalam Negeri Israel telah mengeluarkan peringatan tentang potensi serangan roket lanjutan dan meminta masyarakat untuk berlindung. Situasi ini menunjukkan eskalasi konflik yang semakin memanas dan berpotensi berdampak luas di kawasan.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, serangan yang menargetkan mantan Menlu Iran Kamal Kharazi dan infrastruktur penting seperti Institut Pasteur merupakan eskalasi serius dalam konflik Iran-Israel yang berpotensi membuka babak baru perang terbuka. Targeting figur politik senior dan lembaga kesehatan menunjukkan bahwa pihak agresor ingin melemahkan tidak hanya kemampuan militer, tetapi juga stabilitas sosial dan kesehatan masyarakat Iran.

Selain itu, pernyataan tegas dari pihak Iran bahwa mereka akan memperluas aksi militernya menandakan bahwa masa depan konflik ini sangat berbahaya dan bisa melibatkan negara-negara lain di Timur Tengah. Masyarakat internasional perlu mencermati dinamika ini karena dampaknya bukan hanya terbatas pada Iran dan Israel, tetapi juga pada keamanan regional dan global.

Ke depan, penting untuk mengamati langkah diplomatik yang mungkin diambil oleh negara-negara besar dan peran organisasi internasional dalam meredam ketegangan. Namun, dengan sikap saling ancam yang terus diperkuat, kemungkinan perdamaian jangka pendek tampak sulit tercapai.

Untuk informasi lebih lanjut dan update terkini mengenai konflik ini, pembaca dapat merujuk langsung ke laporan detikNews dan berita internasional terkait.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad