China Tegas Salahkan AS dan Israel atas Penutupan Selat Hormuz oleh Iran

Apr 3, 2026 - 11:59
 0  5
China Tegas Salahkan AS dan Israel atas Penutupan Selat Hormuz oleh Iran

China secara tegas menyalahkan Amerika Serikat (AS) dan Israel atas keputusan Iran menutup sebagian Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan jalur internasional. Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, sebagai respons terhadap ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut.

Ad
Ad

Selat Hormuz dan Pentingnya bagi Pasokan Energi Dunia

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menjadi rute utama pengiriman minyak dari Timur Tengah. Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati selat ini, sehingga gangguan apapun di wilayah ini berpotensi mengganggu pasar energi dunia secara signifikan.

Selama hampir sebulan terakhir, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengalami penurunan drastis akibat ketegangan yang memuncak antara Iran dengan AS dan sekutunya. Penutupan sebagian selat ini memicu kekhawatiran pasar energi global dan negara-negara yang bergantung pada minyak Timur Tengah.

China Sebut AS dan Israel Sebagai Penyebab Utama

Dalam konferensi pers, Mao Ning mengungkapkan bahwa akar penyebab gangguan navigasi melalui Selat Hormuz adalah operasi militer ilegal yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa tindakan ini melanggar hukum internasional dan menjadi penyebab utama ketegangan di kawasan.

"Akar penyebab gangguan navigasi melalui Selat Hormuz adalah operasi militer ilegal Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran," kata Mao Ning kepada wartawan.

Pernyataan ini mencerminkan posisi Beijing yang semakin vokal dalam mendukung Iran sekaligus mengkritik peran Washington dalam eskalasi konflik di Timur Tengah. Sikap ini juga menunjukkan keinginan China untuk menjadi suara penengah sekaligus pelindung kepentingannya di kawasan tersebut.

Respons Amerika Serikat dan Peran Sekutu

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump dalam pidato nasional menyatakan bahwa negara-negara yang bergantung pada pengiriman minyak melalui Selat Hormuz harus berperan aktif dalam menjaga keamanan jalur tersebut. Pernyataan ini menjadi indikasi perubahan strategi AS, yang kini mengharapkan sekutu dan mitra regional untuk mengambil tanggung jawab lebih besar dalam menjaga stabilitas kawasan.

"Negara-negara yang menerima minyak melalui jalur tersebut harus menjaga jalur tersebut," ujar Trump tanpa menjelaskan langkah-langkah konkret yang akan diambil oleh AS.

Namun, langkah ini masih dianggap kurang tegas oleh banyak pihak mengingat ketegangan yang terus berlanjut dan risiko konflik yang semakin meningkat.

Dampak dan Implikasi Global

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran menimbulkan berbagai dampak serius, antara lain:

  • Kenaikan harga minyak global akibat gangguan pasokan
  • Ketidakpastian keamanan maritim di salah satu koridor perdagangan vital dunia
  • Peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi meluas
  • Tekanan terhadap negara-negara konsumen energi untuk mencari alternatif pasokan

Situasi ini mengharuskan komunitas internasional untuk segera mencari solusi diplomatik agar stabilitas kawasan dapat dipulihkan dan jalur pelayaran kembali aman.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, tudingan China terhadap AS dan Israel bukan hanya retorika politik, melainkan cerminan nyata dari dinamika kekuatan geopolitik yang semakin kompleks di Timur Tengah. China mengambil posisi strategis sebagai pendukung Iran untuk melawan dominasi Amerika di kawasan ini, sekaligus memperkuat pengaruhnya dalam urusan global.

Langkah Iran menutup Selat Hormuz jelas mengirim pesan kuat kepada komunitas internasional bahwa ketegangan militer dan politik yang dipicu oleh operasi Washington dan Tel Aviv tidak bisa diabaikan begitu saja. Namun, respons AS yang menyerahkan tanggung jawab keamanan kepada negara lain juga menimbulkan pertanyaan mengenai komitmen jangka panjang Washington terhadap stabilitas regional.

Kedepannya, penting untuk memantau bagaimana peran negara-negara kunci di kawasan dan global dalam meredam konflik ini. Upaya diplomasi dan kerja sama multilateral harus menjadi prioritas agar risiko gangguan pasokan energi dan konflik militer dapat diminimalisasi.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat membaca berita asli di SINDOnews dan mengikuti perkembangan terbaru dari berbagai sumber berita terpercaya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad