Mengenal Hoarding Disorder: Penyakit Tak Bisa Buang Barang pada Lansia Sragen

Apr 6, 2026 - 14:21
 0  9
Mengenal Hoarding Disorder: Penyakit Tak Bisa Buang Barang pada Lansia Sragen

Hoarding disorder adalah gangguan kesehatan mental yang membuat penderitanya mengalami kesulitan ekstrem dalam membuang barang-barang, sehingga menimbulkan penumpukan benda secara berlebihan. Gangguan ini sering kali dialami oleh lansia, termasuk di wilayah Sragen, yang dapat berdampak serius pada kesehatan dan kualitas hidup mereka.

Ad
Ad

Apa Itu Hoarding Disorder?

Hoarding disorder merupakan kondisi psikologis yang membuat seseorang merasa sangat sulit bahkan tidak mampu membuang barang, meskipun barang tersebut sudah tidak berguna atau menumpuk secara berlebihan. Hal ini berbeda dengan kebiasaan menabung atau menyimpan barang secara wajar, karena penderita hoarding mengalami kesulitan pengambilan keputusan, kecemasan berlebih, hingga ketergantungan emosional terhadap benda-benda yang disimpan.

Menurut laporan Tribun Solo, gangguan ini banyak ditemukan pada lansia yang tinggal di Sragen, sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi keluarga dan lingkungan sekitar.

Ciri-Ciri Hoarding Disorder

Memahami tanda-tanda hoarding disorder sangat penting untuk membantu penderita mendapatkan penanganan yang tepat. Berikut ini ciri-ciri umum yang dapat dikenali:

  • Kesulitan membuang barang meskipun barang sudah tidak berguna atau rusak.
  • Penumpukan benda hingga memenuhi ruang-ruang di rumah, membuat kondisi lingkungan menjadi tidak higienis dan berbahaya.
  • Ketergantungan emosional pada barang-barang yang disimpan, merasa barang-barang tersebut memiliki nilai sentimental atau berguna di masa depan.
  • Kecemasan dan stres ketika harus membuang atau mengatur barang.
  • Kesulitan dalam pengambilan keputusan terkait barang-barang yang dimiliki.
  • Mengisolasi diri akibat malu atau takut orang lain mengetahui kondisi rumahnya.

Faktor Penyebab Hoarding Disorder

Beberapa faktor yang dapat memicu hoarding disorder antara lain:

  1. Faktor psikologis, seperti gangguan kecemasan, depresi, atau trauma masa lalu.
  2. Faktor neurologis, adanya perubahan fungsi otak yang mempengaruhi kemampuan mengambil keputusan.
  3. Faktor lingkungan, seperti isolasi sosial atau kehilangan orang terdekat yang membuat penderita mengandalkan barang sebagai pengganti hubungan sosial.
  4. Usia lanjut, karena lansia lebih rentan mengalami penurunan fungsi kognitif dan sosial.

Dampak Hoarding Disorder pada Lansia

Penumpukan barang yang berlebihan tidak hanya membahayakan kondisi fisik dan mental penderita, tetapi juga berdampak pada lingkungan sekitar. Beberapa risiko yang muncul antara lain:

  • Bahaya kebakaran, karena tumpukan barang mudah terbakar dan menghambat akses keluar rumah saat darurat.
  • Risiko jatuh dan cedera akibat lorong dan ruang yang sempit karena dipenuhi barang.
  • Gangguan kesehatan, seperti infeksi, alergi, atau gangguan pernapasan karena debu dan kotoran menumpuk.
  • Isolasi sosial dan stres yang memperburuk kondisi mental penderita.

Cara Menangani Hoarding Disorder

Penanganan hoarding disorder perlu dilakukan dengan pendekatan psikologis dan medis. Berikut langkah yang dapat diambil:

  1. Konsultasi dengan tenaga profesional, seperti psikolog atau psikiater untuk diagnosis dan terapi.
  2. Terapi perilaku kognitif (CBT) untuk membantu penderita mengubah pola pikir dan perilaku terkait barang yang disimpan.
  3. Dukungan keluarga dan lingkungan, memberikan pengertian dan membantu proses decluttering secara bertahap.
  4. Pemberian obat-obatan jika diperlukan untuk mengatasi gangguan kecemasan atau depresi yang menyertai.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, hoarding disorder merupakan masalah kesehatan mental yang masih kurang mendapat perhatian serius di Indonesia, terutama di kalangan lansia yang rentan mengalami gangguan ini. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga keluarga dan masyarakat luas karena potensi risiko bahaya yang tinggi. Penanganan yang terlambat dapat memperburuk kualitas hidup dan menimbulkan beban sosial.

Selain itu, fenomena ini mengingatkan kita pentingnya edukasi kesehatan mental yang menyeluruh dan sistem pendukung yang memadai, khususnya bagi lansia yang sering kali mengalami keterbatasan akses layanan kesehatan. Pemerintah dan komunitas perlu berkolaborasi dalam menyediakan program deteksi dini dan intervensi holistik agar hoarding disorder dapat diatasi secara efektif.

Ke depan, masyarakat diharapkan semakin peka terhadap gejala gangguan mental seperti hoarding disorder agar langkah penanganan bisa dilakukan lebih cepat. Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional ketika menemukan tanda-tanda hoarding, terutama pada orang tua atau lansia di sekitar Anda.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad