Hari Kesehatan Sedunia 2026: WHO Puji Langkah Indonesia Cegah Penyakit Zoonosis
Pada peringatan Hari Kesehatan Sedunia 2026, World Health Organization (WHO) memberikan pujian khusus kepada Indonesia atas komitmennya dalam mengurangi risiko penyakit zoonosis melalui pendekatan One Health. Pendekatan ini menegaskan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling berkaitan dan harus ditangani secara terintegrasi.
Penguatan Pendekatan One Health di Indonesia
Menurut Dr. N. Paranietharan, Perwakilan WHO untuk Indonesia, negara ini telah berhasil menjalankan aksi multisektor yang terkoordinasi, melibatkan sektor kesehatan manusia, pertanian, kedokteran hewan, dan lingkungan. Langkah ini mencakup penguatan deteksi dini, peningkatan respons cepat, serta perlindungan masyarakat yang paling berisiko terkena penyakit zoonosis.
“Indonesia menunjukkan cara aksi multisektoral yang terkoordinasi dapat mengurangi risiko kita dari penyakit zoonosis,” ujar Dr. Paranietharan dalam keterangan resmi.
WHO menyoroti beberapa penyakit zoonosis prioritas yang menjadi fokus Indonesia, yaitu:
- Flu burung
- Leptospirosis
- Antraks
- Rabies
Program dan Upaya Strategis WHO di Indonesia
Pada tahun 2025, WHO mendukung uji coba surveilans terpadu flu burung berbasis One Health di lima provinsi prioritas. Pasar unggas tradisional dipilih sebagai titik awal untuk peringatan dini penyebaran penyakit ini. Upaya ini penting mengingat pasar tradisional menjadi pusat interaksi manusia-hewan yang berisiko tinggi.
Untuk leptospirosis, peningkatan surveilans terintegrasi, penilaian risiko bersama, serta pengobatan cepat telah berhasil mengurangi angka kematian terutama di daerah rawan banjir. Keterlibatan masyarakat juga menjadi kunci dalam meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap penyakit ini.
Menghadapi antraks, WHO memberi dukungan pelatihan bagi petugas kesehatan di garis depan dan melakukan pemantauan kejadian akut secara intensif. Sementara dalam pengendalian rabies, fokus WHO adalah pada surveilans kasus, manajemen kasus yang efektif, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kolaborasi lintas sektor.
Indonesia sebagai Pemimpin One Health di ASEAN
WHO menilai Indonesia tidak hanya aktif secara nasional, tetapi juga memimpin upaya One Health di kawasan ASEAN. Indonesia menjadi tuan rumah One Health Summit yang mengumpulkan kepala negara dan menteri terkait untuk memperkuat dukungan politik dan menerjemahkan komitmen menjadi aksi nyata untuk kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Setelah pertemuan tersebut, Global Forum of WHO Collaborating Centres digelar untuk menekankan pentingnya investasi berkelanjutan dalam sains dan kedokteran. Forum ini merayakan jaringan global WHO yang mencakup lebih dari 800 pusat kolaborasi, termasuk dua pusat di Indonesia yang fokus pada keperawatan, kebidanan, pencegahan ketulian, dan gangguan pendengaran.
Lembaga-lembaga tersebut berperan penting dalam penelitian ilmiah yang menyelamatkan nyawa, mendukung deteksi dini wabah penyakit, memperkuat sistem laboratorium, meningkatkan keamanan pangan, dan membangun tenaga kesehatan yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, pengakuan WHO terhadap langkah Indonesia dalam mengimplementasikan One Health menandai titik penting dalam upaya pengendalian penyakit zoonosis yang berpotensi menimbulkan pandemi. Pendekatan multisektor yang terintegrasi ini tidak hanya menangani penyakit secara reaktif, tetapi juga memperkuat sistem pencegahan yang holistik.
Lebih jauh, peran Indonesia sebagai pemimpin di ASEAN dalam memajukan One Health menunjukkan kesiapan negara dalam menghadapi tantangan kesehatan global yang semakin kompleks, termasuk dampak perubahan iklim dan interaksi manusia-hewan yang semakin intensif. Ini adalah game-changer bagi kawasan dalam memperkuat ketahanan kesehatan bersama.
Ke depan, yang perlu mendapat perhatian adalah bagaimana Indonesia mempertahankan dan memperluas kolaborasi lintas sektor serta memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi surveilans dan respons penyakit zoonosis. Selain itu, penguatan kapasitas sumber daya manusia dan edukasi masyarakat harus terus menjadi prioritas agar langkah yang sudah dibuat bisa berkelanjutan.
Untuk informasi lebih lengkap dan mendalam terkait perkembangan ini, Anda dapat membaca laporan asli di Liputan6.com dan mengikuti update dari World Health Organization.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0