Asing Serok 10 Saham Ini Saat IHSG Ambruk ke Level 7.500-an
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Rabu (4/3/2026), kembali turun ke level 7.500-an setelah merosot sebesar 4,57% atau 362,71 poin ke posisi 7.557,06. Penurunan ini menandai koreksi tajam di pasar saham Indonesia yang mencerminkan sentimen negatif global dan domestik.
Nilai transaksi pada hari yang sama juga cukup tinggi, menembus Rp 29,72 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 53,61 miliar saham dalam 3,30 juta kali transaksi. Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, hanya 54 saham yang mengalami kenaikan, sementara 734 saham melemah dan 33 saham tidak bergerak.
Aktivitas Investor Asing di Tengah Penurunan IHSG
Meskipun IHSG melemah tajam, aktivitas investor asing menunjukkan dinamika menarik. Investor asing tercatat melakukan pembelian bersih sebesar Rp 96,06 miliar di pasar negosiasi dan tunai. Namun, di sisi lain, mereka juga melakukan penjualan bersih sebesar Rp 213,98 miliar di pasar reguler dan Rp 117,91 miliar di seluruh pasar. Ini mengindikasikan adanya rotasi portofolio dan seleksi saham yang dilakukan oleh investor asing di tengah kondisi pasar yang tidak stabil.
Lalu, saham-saham apa saja yang menjadi incaran asing selama koreksi pasar ini? Mengutip data dari Stockbit, berikut 10 saham dengan pembelian bersih asing terbesar pada perdagangan Rabu:
- PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) - Rp 114,61 miliar
- PT Petrosea Tbk. (PTRO) - Rp 87,26 miliar
- PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) - Rp 72,42 miliar
- PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) - Rp 72,16 miliar
- PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) - Rp 67,43 miliar
- PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) - Rp 50,40 miliar
- PT United Tractors Tbk. (UNTR) - Rp 46,49 miliar
- PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) - Rp 45,18 miliar
- PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) - Rp 44,20 miliar
- PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) - Rp 40,65 miliar
Faktor Penyebab Penurunan IHSG dan Implikasinya
Penurunan IHSG yang cukup tajam ini dipicu oleh berbagai faktor eksternal dan internal, antara lain:
- Sentimen geopolitik global: Konflik dan ketegangan di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan negara lain, meningkatkan ketidakpastian pasar global.
- Penurunan peringkat kredit: Penyesuaian peringkat kredit oleh lembaga pemeringkat seperti Fitch turut memberikan tekanan pada pasar saham Indonesia.
- Fluktuasi harga komoditas: Harga batu bara, minyak, dan logam yang menjadi komoditas utama Indonesia mengalami volatilitas, mempengaruhi saham-saham energi dan pertambangan.
Penurunan ini berdampak luas, mulai dari menurunnya nilai portofolio investor domestik hingga tekanan pada perusahaan yang tergantung pada modal pasar saham. Namun, pembelian bersih oleh investor asing di beberapa saham unggulan menunjukkan adanya peluang bagi saham-saham tersebut untuk rebound di masa depan.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, meskipun IHSG mengalami koreksi signifikan, aksi beli asing pada 10 saham unggulan tersebut menunjukkan strategi selektif yang dilakukan investor global. Mereka cenderung memanfaatkan momentum harga murah untuk mengakumulasi saham-saham dengan fundamental kuat dan potensi pertumbuhan jangka panjang, terutama di sektor energi dan pertambangan.
Hal ini menjadi sinyal positif bahwa pasar saham Indonesia masih menarik di mata investor asing meski sedang dalam tekanan. Namun, volatilitas pasar masih berpotensi meningkat, terutama jika geopolitik global dan sentimen ekonomi dunia tidak membaik. Investor harus tetap waspada dan melakukan diversifikasi portofolio.
Ke depan, penguatan IHSG sangat bergantung pada stabilitas makroekonomi dalam negeri, perkembangan geopolitik global, dan harga komoditas. Para pelaku pasar disarankan untuk terus memonitor berita dan analisis mendalam agar dapat mengambil keputusan investasi yang tepat.
Untuk pembaca yang ingin mengetahui perkembangan terbaru IHSG dan aktivitas investor asing, terus ikuti update kami di CNBC Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0