Amankah Intermittent Fasting untuk Penderita GERD? Penjelasan Lengkap dr Tirta
Intermittent fasting atau puasa berselang kini menjadi salah satu metode diet yang populer dan dianggap mudah untuk menurunkan berat badan. Namun, bagi mereka yang memiliki riwayat gastroesophageal reflux disease (GERD) atau gangguan asam lambung, muncul pertanyaan apakah metode ini aman untuk dijalani.
Influencer kesehatan dan dokter Tirta Mandira Hudhi memberikan penjelasan penting mengenai hal ini. Menurutnya, intermittent fasting bagi penderita GERD dapat dilakukan secara kondisional, bahkan berpotensi membantu memperbaiki kondisi asam lambung yang diderita.
Apa itu Intermittent Fasting dan Hubungannya dengan GERD?
Intermittent fasting adalah pola makan yang mengatur waktu makan dan puasa secara bergantian dalam periode tertentu, misalnya 16 jam puasa dan 8 jam makan. Metode ini diyakini efektif untuk mengurangi berat badan dan meningkatkan kesehatan metabolik.
Namun, bagi penderita GERD yang memiliki masalah dengan naiknya asam lambung ke kerongkongan, pola makan yang berubah drastis kadang menimbulkan kekhawatiran akan memperparah gejala.
Penjelasan dr Tirta tentang Intermittent Fasting untuk Penderita GERD
Dalam sebuah video yang diunggah di akun Instagramnya pada 9 Juni 2026, dr Tirta menegaskan bahwa penderita GERD tetap bisa menjalani intermittent fasting dengan baik. Bahkan, ia menyebutkan ada kemungkinan kondisi GERD menjadi lebih baik atau sembuh.
“Bisa enggak orang GERD menjalani IF dengan baik? Oh, bisa. Malah GERD-nya bisa sembuh,” ujar dr Tirta.
Penjelasan ini dilandasi oleh fakta bahwa penderita GERD biasanya memerlukan pengobatan rutin, seperti obat penghambat asam lambung. Saat menjalani intermittent fasting, pasien tetap bisa mengonsumsi obat ini sehingga gejala asam lambung tidak memburuk.
"Intermittent fast itu bisa dijalani oleh orang yang mengalami gangguan asam lambung. Karena bisa jadi dia tetap meminum obat-obatan untuk asam lambungnya," tambah dr Tirta.
Tips dan Pertimbangan untuk Penderita GERD yang Ingin Menjalani Intermittent Fasting
Agar intermittent fasting dapat berjalan lancar tanpa memperburuk kondisi GERD, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- Konsultasi dengan dokter sebelum memulai puasa berselang untuk memastikan kondisi asam lambung stabil dan mendapat rekomendasi pengobatan yang tepat.
- Minum obat asam lambung secara teratur sesuai anjuran meskipun sedang berpuasa.
- Hindari makan makanan pemicu seperti makanan pedas, asam, dan berlemak tinggi saat periode makan.
- Mulai dengan durasi puasa yang pendek dan tingkatkan secara bertahap sesuai toleransi tubuh.
- Perhatikan tanda-tanda memburuknya gejala seperti nyeri dada, mulas berat, atau sesak napas dan segera hentikan puasa jika gejala muncul.
Dengan mengikuti langkah-langkah ini, penderita GERD dapat mencoba intermittent fasting secara aman dan berpotensi mendapatkan manfaat kesehatan yang lebih baik.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, penjelasan dr Tirta membuka perspektif baru bahwa intermittent fasting tidak harus menjadi pantangan keras bagi penderita GERD. Selama dilakukan dengan perencanaan matang dan pengawasan medis, metode ini bisa menjadi alternatif diet yang bermanfaat sekaligus membantu mengelola asam lambung.
Namun, penting untuk diingat bahwa kondisi GERD sangat bervariasi antar individu. Ada risiko bagi sebagian orang jika mereka memaksakan puasa tanpa memperhatikan kebutuhan obat dan pola makan khusus. Oleh karena itu, intermittent fasting bukan solusi instan dan harus diadaptasi secara personal.
Kedepannya, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkaji efek jangka panjang intermittent fasting pada penderita GERD. Sementara itu, masyarakat dianjurkan untuk terus mengikuti update dari ahli kesehatan dan tidak ragu berkonsultasi sebelum memulai diet ini.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat membaca artikel lengkapnya di SINDOnews dan sumber terpercaya lainnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0