Eks Presiden Moderat Iran Hassan Rouhani Masuk Bursa Pengganti Khamenei

Mar 5, 2026 - 21:40
 0  3
Eks Presiden Moderat Iran Hassan Rouhani Masuk Bursa Pengganti Khamenei

Seiring dengan meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan udara gabungan Israel dan Amerika Serikat pada 28 Februari 2026, muncul pertanyaan besar tentang siapa yang akan menggantikannya. Eks Presiden Iran yang dikenal moderat, Hassan Rouhani, kini masuk dalam bursa kandidat pengganti Khamenei, menandai potensi perubahan signifikan dalam lanskap politik Iran.

Ad
Ad

Tokoh Kunci dalam Bursa Pengganti Khamenei

Selain Rouhani, nama-nama lain yang disebut-sebut sebagai kandidat pengganti Khamenei adalah Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran; Ayatollah Alireza Arafi, anggota Dewan Kepemimpinan Sementara; dan Mojtaba Khamenei, putra mendiang Khamenei. Namun, nama Rouhani menarik perhatian karena rekam jejaknya yang pragmatis dan moderat dalam politik Iran yang selama ini didominasi oleh ulama konservatif dan militan.

Para analis menilai, kembalinya Rouhani ke panggung politik mencerminkan dinamika faksional di Iran yang mengimbangi antara kompromi taktis, pengelolaan ekonomi, dan keterlibatan diplomatik, dengan tetap mempertahankan nilai-nilai konstitusional-religius Republik Islam.

Profil Hassan Rouhani: Negosiator Nuklir dan Moderat

Hassan Rouhani bukan sosok baru dalam politik Iran. Ia pernah menjadi anggota parlemen, pejabat senior keamanan nasional, serta negosiator utama dalam perundingan nuklir yang menghasilkan kesepakatan penting dengan negara-negara Barat. Sebagai Presiden Iran periode 2013-2021, Rouhani dikenal sebagai sosok yang mengedepankan dialog dan diplomasi, berbeda dengan pemimpin konservatif yang mengutamakan pendekatan militer dan keamanan.

Pencapaian terbesar Rouhani adalah Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) tahun 2015, kesepakatan nuklir yang dinegosiasikan dengan P5+1 (AS, China, Rusia, Prancis, Inggris, dan Uni Eropa). Kesepakatan ini membuka akses Iran terhadap aset beku senilai lebih dari 100 miliar dolar AS dan mereduksi sebagian besar sanksi internasional, dengan imbalan pembatasan program pengayaan uranium Iran.

Ideologi dan Politik Moderasi Rouhani

Untuk memahami posisi Rouhani, penting menyadari fase-fase sejarah politik Iran yang beragam, mulai dari arus "Islam kiri", liberalisme Islam, hingga periode populis dan keadilan sosial di bawah beberapa pemimpin sebelumnya. Rouhani muncul dengan konsep e'tedal atau "moderasi" yang berupaya menyeimbangkan dua pilar utama sistem Iran: aspek republik yang pragmatis dan aspek Islam yang revolusioner.

Dalam kampanyenya pada 2013, Rouhani berjanji untuk mengurangi tekanan luar negeri, memulihkan ekonomi, dan menurunkan polarisasi politik domestik tanpa mengubah struktur otoritas ulama yang sangat kuat. Kemenangannya pada 2017 dipandang sebagai kelanjutan dari arah keterbukaan dan pengurangan isolasi internasional.

Namun, kendali atas keamanan, peradilan, dan media inti tetap di tangan institusi konservatif, membatasi kekuasaan presiden dalam sistem Iran yang kompleks. Keberhasilan diplomasi Rouhani pun terganggu oleh kebijakan keras yang diambil Presiden AS Donald Trump pada 2018, yang menarik AS keluar dari JCPOA dan menerapkan kembali sanksi berat terhadap Iran.

Konsekuensi Suksesi dan Pilihan Politik Iran

Saat Iran menghadapi suksesi Khamenei, pertanyaan utama adalah apakah negara tersebut akan memilih sosok pragmatis seperti Rouhani yang dapat memperluas legitimasi dengan mengadopsi pendekatan diplomatik dan ekonomi, atau memilih pemimpin konservatif yang mengutamakan keamanan dan kekuatan militer. Pilihan ini akan sangat menentukan arah kebijakan dalam negeri dan hubungan Iran dengan dunia Barat.

  • Ali Larijani: Tokoh senior keamanan nasional dan politik konservatif.
  • Ayatollah Alireza Arafi: Anggota Dewan Kepemimpinan Sementara, ulama berpengaruh.
  • Mojtaba Khamenei: Putra mendiang Khamenei, kemungkinan meneruskan garis konservatif.
  • Hassan Rouhani: Moderat, pragmatis, fokus pada diplomasi dan ekonomi.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, masuknya nama Hassan Rouhani dalam bursa pengganti Ayatollah Khamenei menjadi indikasi penting bahwa politik Iran tengah menghadapi titik balik. Jika Rouhani terpilih, ini bisa menjadi sinyal bahwa Iran siap mengadopsi pendekatan yang lebih pragmatis dan moderat, membuka ruang bagi diplomasi yang lebih intensif dengan Barat dan perbaikan hubungan internasional yang sempat memburuk.

Namun, jangan lupakan bahwa struktur kekuasaan Iran sangat kompleks dan konservatif; presiden terpilih tidak memiliki kendali penuh atas aspek keamanan dan militer. Jadi, meskipun Rouhani kembali berkuasa, perubahan besar tetap memerlukan dukungan dari lembaga-lembaga ulama konservatif dan militer seperti Garda Revolusi.

Yang perlu diwaspadai adalah potensi ketegangan internal antara faksi moderat dan konservatif yang bisa memicu konflik politik berkepanjangan. Dunia internasional pun wajib mencermati perkembangan ini karena keputusan suksesi akan sangat mempengaruhi stabilitas regional Timur Tengah dan dinamika hubungan Iran dengan kekuatan besar dunia.

Ke depan, pergerakan politik di Iran akan menjadi salah satu isu utama yang menentukan arah geopolitik global. Selalu pantau update terbaru dan analisis mendalam mengenai perkembangan suksesi Pemimpin Tertinggi Iran.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad