Alasan Rusia dan China Tak Intervensi Militer Dukung Iran Serangan AS-Israel

Mar 6, 2026 - 06:50
 0  6
Alasan Rusia dan China Tak Intervensi Militer Dukung Iran Serangan AS-Israel

Rusia dan China mengecam keras serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang menewaskan lebih dari 1.000 orang, namun keduanya tidak menunjukkan tanda-tanda akan melakukan intervensi militer secara langsung untuk membantu Teheran.

Ad
Ad

Reaksi Keras Rusia dan China atas Serangan AS-Israel ke Iran

Presiden Rusia Vladimir Putin secara terbuka mengutuk pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026). Putin menyebut peristiwa tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap norma kemanusiaan dan pelanggaran sinis terhadap semua norma moral manusia.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengirimkan pesan tegas kepada Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, bahwa penggunaan kekuatan militer bukan solusi yang tepat untuk menyelesaikan konflik yang sedang berlangsung.

"Penggunaan kekuatan tidak benar-benar dapat menyelesaikan masalah," kata Wang Yi sambil mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menghindari eskalasi lebih lanjut.

Dalam rangka respons diplomatik, Rusia dan China juga bersama-sama meminta digelarnya pertemuan darurat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) sebagai langkah menekan agar situasi tidak makin memburuk.

Hubungan Diplomatik dan Batasan Intervensi Militer Rusia dan China

Hubungan antara Rusia, China, dan Iran memang semakin erat dalam beberapa tahun terakhir. Moskow dan Beijing telah memperdalam kerja sama bilateral dengan Teheran, termasuk latihan militer bersama dan kesepakatan strategis di berbagai bidang.

Namun, meski retorika yang disampaikan sangat keras, baik Rusia maupun China belum menunjukkan sinyal untuk melakukan intervensi militer langsung. Hal ini karena perjanjian yang ada lebih bersifat kemitraan strategis, bukan aliansi pertahanan yang mengikat.

Menurut pakar hubungan internasional Rusia, Andrey Kortunov, perjanjian Rusia-Iran tidak mencakup klausul pertahanan bersama yang mewajibkan intervensi militer. Sebaliknya, Rusia memiliki contoh perjanjian yang lebih mengikat dengan Korea Utara, di mana Rusia wajib membantu secara militer jika terjadi konflik.

Kortunov menyatakan, "Dalam perjanjian dengan Iran hanya disebutkan kedua pihak sepakat untuk menahan diri dari tindakan bermusuhan apabila salah satu pihak sedang terlibat konflik." Ia juga menilai kemungkinan Rusia melakukan aksi militer langsung sangat kecil karena risiko yang terlalu besar dan prioritas Moskow saat ini adalah mediasi konflik dengan Ukraina.

Di sisi lain, hubungan China dengan Iran, terutama di bidang ekonomi dan energi, juga cukup dekat. Pada 2021, keduanya menandatangani perjanjian kerja sama 25 tahun yang mencakup proyek Belt and Road Initiative China dan investasi besar di Iran.

Namun, seperti dijelaskan oleh peneliti keamanan internasional Jodie Wen dari Tsinghua University, China menetapkan batas tegas dalam kemitraannya dengan Iran, terutama terkait keterlibatan militer. Beijing berpegang pada prinsip tidak mencampuri urusan negara lain dan tidak akan mengirimkan senjata ke Iran.

Wen menambahkan, peran China dalam krisis ini lebih kepada diplomasi dan manajemen krisis, termasuk melakukan komunikasi dengan Amerika Serikat dan negara-negara Teluk untuk menjaga ketenangan regional.

Implikasi dan Prospek Kedepan

Meskipun dukungan diplomatik terhadap Iran dari Rusia dan China sangat kuat, ketidaksiapan mereka untuk melakukan intervensi militer langsung menunjukkan keterbatasan aliansi yang dibangun selama ini. Hal ini menandakan bahwa konflik yang melibatkan Iran masih berpotensi berlanjut dan berisiko eskalasi lebih luas tanpa adanya penahan dari kekuatan besar tersebut.

Selain itu, ketegangan ini juga memperlihatkan pergeseran geopolitik di kawasan Timur Tengah dan bagaimana negara-negara besar mencoba menyeimbangkan kepentingan mereka antara dukungan strategis dan risiko keterlibatan militer.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, sikap Rusia dan China yang memilih untuk tidak langsung terlibat secara militer meski mengutuk keras serangan AS-Israel terhadap Iran mencerminkan prioritas pragmatis dalam politik luar negeri mereka. Kedua negara ini lebih memilih menjaga stabilitas regional dan menghindari konflik terbuka yang bisa memperluas ketegangan global, terutama di tengah tekanan konflik lain seperti perang Rusia-Ukraina.

Selain itu, ketidakterlibatan militer juga menunjukkan bahwa kemitraan dengan Iran lebih bersifat strategis dan ekonomis, bukan aliansi militer penuh. Ini menjadi sinyal bagi Iran bahwa dukungan internasionalnya tetap terbatas dan harus mengelola risiko konflik dengan sangat hati-hati.

Pemantauan selanjutnya perlu difokuskan pada peran diplomasi global, terutama inisiatif mediasi yang mungkin diambil oleh Rusia dan China di Dewan Keamanan PBB. Bagaimana dinamika hubungan antara negara besar ini dan Amerika Serikat dalam meredam ketegangan akan menjadi kunci penting bagi masa depan stabilitas di kawasan Timur Tengah.

Konflik ini bukan hanya pertarungan militer, tapi juga ujian diplomasi dan keseimbangan kekuatan global yang sedang berlangsung. Pembaca disarankan untuk terus mengikuti perkembangan situasi ini karena implikasinya bisa berdampak luas, tidak hanya bagi regional Timur Tengah tetapi juga keamanan dan politik internasional secara keseluruhan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad