Negara Eropa Tolak Awal Serang Iran, Tapi Akhirnya Ikuti AS

Mar 6, 2026 - 07:40
 0  7
Negara Eropa Tolak Awal Serang Iran, Tapi Akhirnya Ikuti AS

Sejumlah negara Eropa sempat menolak permintaan Amerika Serikat (AS) untuk menggunakan pangkalan militer mereka dalam operasi serangan terhadap Iran. Namun, perlahan sikap negara-negara tersebut berubah dan akhirnya tunduk pada tekanan AS, khususnya dari Presiden Donald Trump.

Ad
Ad

Penolakan Awal Inggris dan Prancis Terhadap Serangan Iran

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer secara terbuka menyatakan bahwa tindakan AS terhadap Iran adalah ilegal. Dalam pidatonya di parlemen pada Minggu (1/3), Starmer menegaskan bahwa upaya "perubahan rezim" tidak bisa dilakukan secara sepihak atau "dari langit". Pernyataan ini mengindikasikan sikap keras Inggris terhadap rencana serangan AS.

Namun, hanya beberapa hari setelahnya, Starmer mulai melunak. Dalam pernyataan bersama dengan Prancis dan Jerman, Starmer menyatakan kesiapan mengambil "tindakan defensif yang proporsional" untuk menghancurkan ancaman yang berasal dari Iran. Bahkan dalam pidato televisi, Starmer mengizinkan penggunaan pangkalan militer Inggris oleh AS untuk tujuan-tujuan defensif. Media Inggris melaporkan bahwa perubahan sikap ini diduga kuat dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok konservatif di negaranya.

Spanyol yang Awalnya Tegas Akhirnya Mengikuti

Spanyol juga menunjukkan sikap awal yang keras menolak permintaan AS. Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, menegaskan pada Minggu (1/3) bahwa pangkalan militer Spanyol tidak akan dipakai untuk operasi di luar perjanjian bilateral dan Piagam PBB. Albares bahkan menyebut serangan AS dan Israel terhadap Iran sebagai tindakan "sepihak".

Akan tetapi, pada Kamis (5/3), Kementerian Pertahanan Spanyol mengumumkan akan mengirim kapal fregat Christopher Columbus ke Siprus untuk bergabung dengan kapal induk Prancis dan kapal-kapal Yunani. Kapal fregat tersebut bertugas memberikan perlindungan dan pertahanan udara serta mendukung evakuasi warga sipil di tengah ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut.

Langkah ini diambil setelah pangkalan Inggris di Siprus diserang drone yang awalnya diduga milik Iran. Meski kemudian Inggris menyatakan drone tersebut bukan berasal dari Teheran, ketegangan tetap meningkat.

Tekanan Trump pada Negara-negara Eropa

Ketegangan politik ini semakin memuncak ketika Presiden AS Donald Trump mengancam akan memutus hubungan perdagangan dengan negara-negara yang menolak mengizinkan penggunaan pangkalan militer mereka, khususnya Spanyol.

"Kami akan memutus semua perdagangan dengan Spanyol. Kami tidak ingin berhubungan dengan Spanyol," ujar Trump yang dilaporkan dalam beberapa media internasional.

Ancaman tersebut tampaknya berpengaruh besar dalam perubahan sikap negara-negara Eropa yang awalnya menolak, namun kemudian mengizinkan penggunaan pangkalan militernya untuk tujuan yang disebut defensif oleh AS.

Implikasi dan Dampak Keterlibatan Negara-negara Eropa

Konflik antara AS dan Iran yang semakin memanas ini membawa negara-negara Eropa pada posisi sulit. Mereka harus menyeimbangkan antara:

  • menjaga hubungan strategis dengan AS, sekutu utama mereka,
  • mematuhi hukum internasional dan norma kemanusiaan,
  • dan menghadapi tekanan domestik yang beragam di masing-masing negara.

Perubahan sikap dari penolakan keras ke persetujuan terbatas ini menggambarkan bagaimana politik internasional sering kali dipengaruhi oleh dinamika tekanan luar dan kepentingan strategis jangka panjang.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, sikap awal negara-negara Eropa yang menolak penggunaan pangkalan militer mereka untuk serangan terhadap Iran menunjukkan adanya kesadaran penting akan prinsip hukum internasional dan kekhawatiran akan eskalasi konflik di Timur Tengah. Namun, tekanan dari AS, khususnya Presiden Trump yang agresif dengan ancaman pemutusan hubungan perdagangan, memperlihatkan betapa dominannya pengaruh AS dalam hubungan internasional.

Perubahan sikap ini juga mengindikasikan dilema besar yang dihadapi negara-negara Eropa: antara menjaga hubungan strategis dengan AS dan mematuhi prinsip kedaulatan serta hukum internasional. Langkah yang dinilai kontroversial ini bisa berdampak negatif pada reputasi mereka di mata komunitas internasional dan publik domestik yang semakin kritis terhadap perang dan intervensi militer.

Kedepannya, penting untuk mengawasi bagaimana negara-negara Eropa akan menyeimbangkan peran mereka di konflik ini, apakah mereka hanya menjadi pemain boneka dalam geopolitik AS atau mampu mengambil sikap independen yang lebih kuat. Situasi ini juga membuka diskusi lebih luas tentang kedaulatan nasional, hukum internasional, dan batasan campur tangan militer di era modern.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad