Rupiah Tembus Rp17.300/US$, Menko Airlangga Respons Pelemahan Mata Uang

Apr 23, 2026 - 17:21
 0  4
Rupiah Tembus Rp17.300/US$, Menko Airlangga Respons Pelemahan Mata Uang

Nilai tukar rupiah melemah hingga menembus Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis pagi, 23 April 2026. Kondisi ini memicu perhatian berbagai pihak, termasuk Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, yang memberikan tanggapan terkait perkembangan nilai tukar rupiah yang sedang mengalami tekanan.

Ad
Ad

Pada pukul 09:40 WIB, rupiah tercatat melemah sebesar 0,76%, mencapai angka Rp17.305/US$. Pelemahan rupiah ini sejalan dengan tren mayoritas mata uang di kawasan Asia yang juga mengalami fluktuasi dan tekanan serupa, akibat ketidakpastian ekonomi global dan dinamika pasar keuangan internasional.

Tanggapan Airlangga Hartarto soal Pelemahan Rupiah

Di Kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Airlangga menyampaikan bahwa pihaknya terus memantau pergerakan mata uang ini secara seksama. Ia menegaskan bahwa kondisi ini bukan hanya dialami oleh rupiah, melainkan juga mata uang lain di kawasan yang sedang bergejolak.

“Kita monitor saja karena berbagai mata uang di regional juga bergejolak,” ujar Airlangga di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Ia juga menyinggung soal nilai tukar rupiah yang melemah melebihi asumsi makro yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Meski demikian, Airlangga menilai pemerintah tidak bisa bersikap reaktif setiap hari terhadap fluktuasi tersebut. Menurutnya, hal menjaga stabilitas rupiah merupakan tugas utama Bank Indonesia (BI).

“Ya kita monitor saja dan BI tugasnya menjaga [rupiah],” tambahnya.

Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah

Fluktuasi rupiah yang terjadi pada minggu ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal dan domestik. Secara global, ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang masih berlangsung menyebabkan capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Di sisi lain, pergerakan dolar AS yang menguat turut memberikan tekanan pada mata uang rupiah.

Pelemahan rupiah juga tercermin dari korelasi dengan mata uang regional lain seperti baht Thailand, ringgit Malaysia, dan peso Filipina yang mengalami depresiasi serupa dalam beberapa hari terakhir.

Peran Bank Indonesia dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia sejak awal tahun ini telah mengambil berbagai kebijakan guna menahan pelemahan rupiah dan menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Langkah-langkah tersebut meliputi intervensi pasar valas, operasi moneter, hingga penguatan cadangan devisa.

Menurut data resmi BI, cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 tercatat sebesar US$135 miliar, yang memberikan bantalan kuat dalam menghadapi tekanan eksternal. BI juga terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan kebijakan fiskal dan moneter berjalan sinergis dalam mengelola nilai tukar rupiah.

Dampak Pelemahan Rupiah bagi Ekonomi Indonesia

  • Inflasi: Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan harga impor, sehingga memberikan tekanan inflasi terutama pada barang-barang konsumsi dan bahan baku industri.
  • Biaya Produksi: Sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi kenaikan biaya produksi, berimbas pada harga jual produk akhir.
  • Ekspor: Rupiah yang lebih lemah bisa memberikan keuntungan kompetitif bagi eksportir Indonesia di pasar global.
  • Investasi Asing: Ketidakpastian nilai tukar dapat mempengaruhi minat investor asing dalam menanamkan modal di pasar domestik.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pelemahan rupiah hingga menembus Rp17.300 per dolar AS merupakan indikator penting yang menunjukkan tantangan ekonomi global masih membayangi Indonesia. Fluktuasi ini bukan sekadar soal angka, tetapi juga menggambarkan ketergantungan Indonesia terhadap kondisi eksternal, seperti penguatan dolar AS dan ketidakpastian geopolitik.

Meski Bank Indonesia memiliki peran kunci dalam menjaga stabilitas nilai tukar, pemerintah juga harus memperkuat fundamental ekonomi domestik, termasuk meningkatkan ekspor dan mengendalikan inflasi. Jika tidak, tekanan pada rupiah bisa berlanjut dan berdampak lebih luas pada daya beli masyarakat serta pertumbuhan ekonomi nasional.

Kedepannya, publik dan pelaku pasar perlu mencermati kebijakan BI dan pemerintah, terutama langkah-langkah stabilisasi yang akan diambil agar rupiah tidak terus melemah secara signifikan. Selain itu, penguatan koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter sangat krusial untuk menghadapi tantangan global yang dinamis.

Untuk informasi lebih lengkap dan update terkait pergerakan rupiah dan kebijakan ekonomi, simak terus berita terbaru dari sumber tepercaya seperti Bloomberg Technoz dan Kompas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad