Israel Bertekad Keluarkan Hizbullah dari Selatan Lebanon, Ini Strateginya

Mar 6, 2026 - 14:40
 0  5
Israel Bertekad Keluarkan Hizbullah dari Selatan Lebanon, Ini Strateginya

Israel bertekad mengusir Hizbullah dari selatan Lebanon melalui operasi militer yang melibatkan serangan udara dan pengiriman pasukan infanteri ke wilayah Lebanon. Langkah ini merupakan respons atas serangan roket dan drone yang dilancarkan Hizbullah ke utara Israel pada awal Maret 2026. Namun, operasi ini bukan sekedar aksi balasan, melainkan bagian dari strategi besar Israel untuk melemahkan kelompok milisi Syiah tersebut dan membatasi pengaruh Iran di kawasan.

Ad
Ad

Serangan Udara dan Penyerangan Darat di Selatan Lebanon

Dalam beberapa hari terakhir, militer Israel melancarkan serangan udara ke posisi-posisi Hizbullah di Beirut dan selatan Lebanon. Keputusan untuk mengerahkan pasukan infanteri ke wilayah Lebanon menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang sudah berlangsung lama antara Israel dan milisi Hizbullah, yang didukung oleh Iran.

Menurut laporan, serangan ini merupakan respons langsung terhadap serangan milisi Hizbullah yang menembakkan roket dan menerbangkan drone ke wilayah utara Israel dari Lebanon pada 1-2 Maret 2026. Namun, dari sudut pandang Israel, operasi ini memiliki tujuan yang lebih luas.

Tujuan Strategis Israel dalam Konflik Regional

Kepala Staf Umum militer Israel, Eyal Zamir, menegaskan bahwa perang ini tidak akan berakhir sebelum ancaman Hizbullah benar-benar dihilangkan. Israel menargetkan untuk melemahkan atau bahkan menghancurkan kemampuan militer Hizbullah yang dianggap sebagai ancaman utama bagi keamanan nasionalnya.

Peter Lintl, ahli militer dari Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Politik Jerman (SWP), menjelaskan bahwa orientasi Israel telah bergeser sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. "Tujuannya bukan sekadar menahan lawan, tetapi menghadapi mereka sehingga tidak lagi menjadi ancaman," jelasnya. Meski begitu, Lintl juga mengingatkan bahwa penghapusan total Hizbullah hampir tidak mungkin karena kelompok ini sangat terintegrasi dalam struktur sosial Lebanon.

Oleh karena itu, Israel kemungkinan akan berupaya menciptakan zona penyangga di selatan Lebanon dan menduduki posisi-posisi strategis yang dikuasai Hizbullah.

Menstabilkan Perbatasan Utara dan Melindungi Warga Sipil

Sejak Perang Gaza 2023 yang melibatkan Hizbullah, wilayah perbatasan utara Israel dan Lebanon mengalami ketidakstabilan. Puluhan ribu warga sipil Lebanon di selatan terpaksa mengungsi akibat konflik ini.

Pemerintah Tel Aviv menetapkan salah satu tujuan utama operasi militer ini adalah memastikan kembalinya warga utara Israel ke rumah mereka dengan aman. Namun, seperti yang diungkapkan Lintl, fokus saat ini lebih kepada melumpuhkan musuh ketimbang menyelesaikan persoalan politik yang lebih rumit di Lebanon.

"Anda tidak bisa membasmi ideologi politik dengan bom," tegasnya, menyoroti keterbatasan strategi militer dalam menyelesaikan akar konflik secara permanen.

Melemahkan Jaringan Proksi Iran di Kawasan

Israel memandang Hizbullah sebagai bagian dari poros Syiah yang dipimpin Iran yang juga mencakup kelompok pro-Iran di Irak, Suriah, dan Yaman. Kepala Staf Umum Israel menyatakan mereka ingin menghilangkan ancaman dari jaringan ini yang kerap menyerang Israel secara tidak langsung.

Lintl memahami langkah Israel sebagai upaya melindungi warganya, tetapi juga memperingatkan dampak serius bagi Lebanon. Pembentukan zona penyangga berarti puluhan ribu warga Lebanon di selatan harus mengungsi, memperparah krisis kemanusiaan di kawasan.

Mencegah Perang Multi-Front yang Lebih Besar

Israel menghadapi ancaman dari beberapa front sekaligus, termasuk Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Gaza, serta kelompok milisi lain yang berafiliasi dengan Iran. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut Israel tengah berada dalam perang multi-front dengan Iran dan sekutunya.

Dengan diperkirakan Hizbullah memiliki hingga 150.000 roket, Israel berupaya melemahkan satu per satu aktor dalam jaringan Iran sebelum konflik ini semakin membesar dan sulit dikendalikan.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, operasi militer Israel di selatan Lebanon menandai perubahan signifikan dalam kebijakan keamanan negara tersebut. Israel tidak sekadar ingin melakukan serangan balasan, melainkan mengadopsi pendekatan preemptive strike yang bertujuan menghancurkan kemampuan militer Hizbullah secara menyeluruh. Hal ini memperlihatkan tingkat ketegangan yang semakin tinggi di Timur Tengah dan risiko eskalasi konflik yang lebih luas.

Namun, strategi ini juga berpotensi menimbulkan dampak kemanusiaan yang besar, terutama bagi warga sipil Lebanon yang terjebak dalam zona konflik. Upaya menciptakan zona penyangga di selatan Lebanon bisa memicu krisis pengungsi baru serta ketidakstabilan politik di Lebanon, yang selama ini sudah rapuh.

Ke depan, yang perlu diwaspadai adalah bagaimana Iran akan merespons tekanan militer Israel terhadap sekutunya ini, serta kemungkinan keterlibatan aktor regional lain. Konflik ini berpotensi berkepanjangan jika tidak ada solusi politik yang komprehensif. Pembaca disarankan untuk terus mengikuti perkembangan situasi di perbatasan utara Israel dan Lebanon karena implikasinya tidak hanya regional, tetapi juga global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad