Harga Emas Turun ke Terendah 3 Pekan, Level US$4.900 Kini Tinggal Kenangan

Apr 24, 2026 - 09:34
 0  8
Harga Emas Turun ke Terendah 3 Pekan, Level US$4.900 Kini Tinggal Kenangan

Harga emas kembali anjlok ke level terendah dalam hampir tiga pekan pada Kamis (23/4/2026), mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap dampak inflasi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah dan ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi untuk jangka waktu lebih lama.

Ad
Ad

Data dari Refinitiv menunjukkan bahwa harga emas pada penutupan perdagangan Kamis berada di posisi US$ 4.692,69 per troy ons, turun 0,95% dari sebelumnya. Ini merupakan level terendah sejak 6 April 2026, atau hampir tiga minggu terakhir.

Pada Jumat pagi, harga emas mulai sedikit menguat, tercatat naik 0,12% menjadi US$ 4.698,27 per troy ons pada pukul 06.43 WIB.

Pengaruh Konflik Timur Tengah terhadap Harga Emas

Analis independen Tai Wong menjelaskan bahwa ketegangan yang terus berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran telah menimbulkan kekhawatiran pasar bahwa gencatan senjata dapat runtuh kapan saja. Kondisi ini menyebabkan harga minyak melonjak tajam, yang pada gilirannya menekan aset-aset lain termasuk emas.

"Emas yang mendekati US$4.900 pada Jumat lalu kini terasa seperti kenangan jauh karena reli logam mulai memudar," ujar Tai Wong kepada Reuters.

Iran semakin memperketat kontrolnya atas Selat Hormuz dengan menunjukkan video pasukan komando yang menyerbu kapal kargo besar pada Kamis, menyusul kandasnya pembicaraan damai yang diharapkan dapat membuka kembali jalur pelayaran vital tersebut.

Akibatnya, harga minyak Brent naik signifikan, menembus level di atas US$100 per barel. Pada penutupan Kamis, harga minyak Brent bahkan melonjak lebih dari 3% ke posisi US$ 105,07 per barel, tertinggi sejak 7 April 2026.

Indeks dolar AS juga menguat ke level 98,77, tertinggi sejak 9 April 2026, yang menambah tekanan pada harga emas.

Imbas Inflasi dan Suku Bunga terhadap Harga Emas

Kenaikan harga energi seperti minyak mentah biasanya mendorong inflasi naik. Namun, kenaikan inflasi ini justru meningkatkan peluang bank sentral, khususnya Federal Reserve AS, untuk mempertahankan suku bunga tinggi guna menekan inflasi tersebut.

Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi justru mengurangi daya tarik emas, karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti bunga atau dividen.

Survei Reuters terhadap para ekonom memperkirakan Federal Reserve akan menunda penurunan suku bunga setidaknya selama enam bulan ke depan tahun ini, memperkuat tekanan negatif pada harga emas.

Selain itu, penguatan dolar AS membuat emas yang berdenominasi dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga menekan permintaan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga naik ke level tertinggi lebih dari sepekan, meningkatkan biaya peluang untuk memegang emas.

Harga Perak Ikut Tertekan

Tidak hanya emas, harga perak juga mengalami tekanan signifikan. Pada Kamis (23/4/2026), harga perak turun 2,92% ke posisi US$ 75,43 per troy ons, yang merupakan level terendah sejak 8 April 2026.

Pada Jumat pagi, harga perak sedikit menguat 0,25% menjadi US$ 75,61 per troy ons.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, penurunan harga emas ke level terendah hampir tiga pekan ini bukan sekadar reaksi jangka pendek terhadap konflik Timur Tengah dan lonjakan harga minyak. Ini menunjukkan dinamika pasar yang lebih kompleks, di mana kekhawatiran inflasi dan sikap agresif bank sentral dalam menaikkan suku bunga secara simultan menciptakan tekanan berkelanjutan pada aset safe haven seperti emas.

Ketegangan geopolitik memang cenderung mendorong harga minyak dan inflasi, tetapi respons kebijakan moneter yang ketat dari Federal Reserve justru membatasi potensi kenaikan harga emas. Investor kini menghadapi dilema antara mencari perlindungan dari inflasi dan mempertimbangkan biaya peluang dari aset tanpa imbal hasil.

Ke depan, investor perlu mewaspadai perkembangan ketegangan di Selat Hormuz yang bisa memperburuk volatilitas pasar energi dan logam mulia. Selain itu, pergerakan kebijakan suku bunga Federal Reserve akan sangat menentukan arah harga emas dan perak dalam beberapa bulan mendatang.

Situasi ini juga menegaskan pentingnya diversifikasi portofolio dan kewaspadaan terhadap risiko geopolitik serta moneter global yang saling berkaitan erat. Untuk informasi terkini dan analisis mendalam lainnya, pembaca dapat mengikuti berita terbaru di CNBC Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad