Pemkot Surabaya Targetkan Banjir di Kawasan Selatan Tuntas Tahun 2026

May 5, 2026 - 11:37
 0  3
Pemkot Surabaya Targetkan Banjir di Kawasan Selatan Tuntas Tahun 2026

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menetapkan target ambisius untuk menuntaskan permasalahan banjir di wilayah selatan kota pada tahun 2026. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa penanganan banjir menjadi salah satu program prioritas dalam agenda pembangunan kota tahun ini.

Ad
Ad

Dalam upaya mengatasi banjir yang kerap melanda sejumlah titik rawan, Pemkot Surabaya berencana membangun rumah pompa baru di beberapa lokasi strategis seperti Panjang Jiwo dan Medokan Semampir, tepatnya di depan Gereja Bethany Nginden. Lokasi ini diketahui sering mengalami genangan setiap tahun saat musim hujan.

"Ini adalah pembangunan yang akan dilakukan di tahun 2026. Karena itu nanti target di tahun 2026 tidak ada lagi banjir," ujar Eri Cahyadi pada Selasa (5/5/2026).

Strategi Penanganan Banjir di Titik Rawan

Selain pembangunan rumah pompa baru, Pemkot Surabaya juga memprioritaskan perbaikan di titik-titik rawan lain yang selama ini menjadi langganan banjir, antara lain:

  • Rumah Pompa Ahmad Yani
  • Jalan Gayungsari Barat
  • Rumah Pompa Nanggala di Dukuh Menanggal
  • Jalan Raya Jemursari
  • Jalan Raya Kendangsari
  • Jalan Raya Tenggilis Mejoyo

Wali Kota optimistis, dengan progres pengerjaan yang dilaksanakan pada tahun ini, genangan di kawasan tersebut tidak akan terjadi lagi, bahkan saat hujan deras sekalipun.

Penyesuaian Metode Pengerjaan Sesuai Kondisi

Untuk kawasan Menanggal dan Gayung Kebonsari, Pemkot akan menyesuaikan metode pengerjaan berdasarkan kondisi saluran air yang ada. Bila penggunaan box culvert (saluran bawah tanah) terlalu mahal, alternatif seperti CCSP (Concrete Circular Steel Pipe) akan digunakan terlebih dahulu, dengan pendalaman saluran dilakukan tahun ini.

Wali Kota menambahkan, di beberapa lokasi seperti Jalan Tenggilis Mejoyo hingga Panjang Jiwo, pelebaran saluran air tidak memungkinkan karena terhalang jaringan SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi). Oleh karena itu, solusi yang diambil adalah membangun storage air di jalan sebagai tempat penampungan sementara untuk mengurangi beban saluran irigasi.

Storage Air sebagai Solusi Efisien

Mayoritas saluran di Surabaya berfungsi sebagai irigasi, yang kini kurang mampu menampung debit air hujan akibat meningkatnya kepadatan bangunan dan berkurangnya area resapan. Oleh sebab itu, pembangunan storage air menjadi solusi lebih efisien dan ekonomis dibandingkan dengan pembebasan lahan dan pembangunan saluran baru yang memerlukan biaya besar.

Menurut Eri Cahyadi, storage berperan sebagai pembagi air sehingga air hujan dapat dialirkan secara terkontrol menuju sungai besar seperti Kali Jagir, Kali Surabaya, atau rumah pompa. Seluruh pekerjaan storage juga disesuaikan dengan kemampuan saluran yang ada agar efektif mengurangi genangan.

Perubahan Fungsi Lahan dan Konektivitas Saluran

Salah satu penyebab utama genangan yang semakin parah adalah perubahan fungsi lahan di Surabaya. Semakin padatnya permukiman mengakibatkan berkurangnya resapan air sehingga hampir seluruh air hujan langsung mengalir ke saluran irigasi.

"Dulu Surabaya masih sepi, sehingga air hujan bisa terserap. Sekarang hampir semua resapan hilang karena rumah, maka air langsung masuk ke saluran irigasi," jelas Eri.

Pemkot juga fokus memperkuat konektivitas dan elevasi jaringan saluran agar sistem pengairan antar wilayah terintegrasi dengan baik sehingga potensi banjir dapat diminimalisir. Koreksi konektivitas antar area ini menjadi kunci penting dalam pengendalian banjir.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, langkah Pemkot Surabaya menuntaskan banjir di kawasan selatan merupakan upaya strategis yang sangat penting bagi kelangsungan hidup dan kenyamanan warga kota. Banjir yang berulang selama ini tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari namun juga berdampak pada kesehatan dan ekonomi masyarakat.

Pemilihan metode pembangunan storage air sebagai solusi efisien menunjukkan pemahaman mendalam tentang keterbatasan ruang dan dana di perkotaan padat. Namun, tantangan ke depan adalah memastikan implementasi program ini berjalan lancar tanpa kendala birokrasi atau teknis yang dapat menghambat target 2026.

Selain itu, perubahan fungsi lahan yang menyebabkan berkurangnya resapan air harus menjadi perhatian jangka panjang. Pemkot perlu menyiapkan regulasi ketat terkait tata ruang dan pengelolaan air hujan agar tidak terjadi krisis resapan di masa depan. Masyarakat juga harus dilibatkan dalam menjaga dan memaksimalkan area resapan air.

Untuk perkembangan terkini dan detail proyek penanganan banjir ini, Anda dapat membaca langsung di situs Suara Surabaya dan mengikuti update dari Dinas PU Kota Surabaya.

Penanganan banjir bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga soal sinergi pemerintah dan masyarakat demi Surabaya yang lebih tangguh menghadapi perubahan iklim dan urbanisasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad