Ketika Publik Arab Sunni Berbalik Dukung Iran Syiah Serang Israel, Apa Sebabnya?
Konflik antara kelompok Sunni dan Syiah di dunia Arab telah lama menjadi isu yang kompleks dan penuh ketegangan, terutama terkait posisi Iran sebagai pusat Syiah global. Namun, sebuah fenomena mengejutkan terjadi ketika publik Arab Sunni secara tiba-tiba mengelu-elukan Iran Syiah karena menyerang Israel. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa dukungan ini muncul meski selama ini ada perbedaan sektarian yang tajam?
Fenomena Dukungan Arab Sunni Kepada Iran Syiah
Jurnalis asal Maroko, Adil Faouzi, mengulas fenomena ini dalam sebuah artikel berjudul "For Sunni Arabs, Iran’s Shia become Muslim only when they attack Israel" yang diterbitkan di Times of Israel. Faouzi menyoroti bagaimana publik Arab Sunni, yang selama ini sering berseberangan dengan Iran Syiah, justru memberikan dukungan ketika Iran terlibat perang melawan Israel dan Amerika Serikat.
Fenomena ini tampak seperti sebuah kontradiksi sektarian yang terjadi di tengah konflik Timur Tengah. Saat rudal-rudal Iran menghujani beberapa negara Arab seperti Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi, yang berujung pada kerusakan besar dan korban sipil, jutaan warga Arab Sunni justru mengutuk Amerika dan Israel, sekaligus menunjukkan solidaritas kepada Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran.
Menurut Faouzi, ini merupakan sebuah korsleting sektarian yang memperlihatkan betapa konflik dengan Israel mampu mengaburkan perbedaan agama dan politik yang selama ini mengakar dalam dunia Arab.
Asal Usul Perbedaan Sunni-Syiah dan Dampaknya
Untuk memahami fenomena ini, penting untuk mengetahui latar belakang perbedaan Sunni dan Syiah yang telah berlangsung selama lebih dari 14 abad. Sunni dan Syiah memiliki pandangan berbeda terkait penerus sah Nabi Muhammad SAW. Syiah meyakini penerus yang sah adalah Ali ibn Abi Talib dan keturunannya, sedangkan Sunni mempercayai para Khalifah Ar-Rasyidin sebagai pemimpin Islam pertama.
Perbedaan ini bukan hanya masalah teologis, tetapi juga menimbulkan ketegangan sosial, politik, dan militer yang cukup panjang, terutama di kawasan Timur Tengah. Iran, sebagai pusat Syiah dunia, sering dipandang dengan curiga oleh negara-negara Arab Sunni, khususnya Arab Saudi.
Namun, pepatah Arab kuno yang menyatakan "Ana wa akhouya ala ibn ammi, wa ana wa ibn ammi ala al-gharib" (Aku dan saudaraku melawan sepupuku, dan aku dan sepupuku melawan orang asing) menjelaskan mengapa perselisihan internal ini bisa mereda saat menghadapi ancaman luar seperti Israel.
Reaksi dan Kritik dari Para Pemimpin Arab
Menteri Dalam Negeri Bahrain, Sheikh Rashid bin Abdullah Al Khalifa, secara tegas mengkritik fenomena ini dengan mengatakan bahwa “siapa pun yang lebih loyal kepada Teheran daripada negaranya sendiri harus pergi ke Iran”. Pernyataan ini mencerminkan kekesalan para pemimpin Arab terhadap warga mereka yang mendukung Iran, meski Iran dianggap sebagai ancaman oleh negara-negara Arab tersebut.
Namun, di sisi lain, dukungan publik Sunni kepada Iran saat konflik dengan Israel menandakan adanya pergeseran solidaritas politik yang bersifat pragmatis, di mana permusuhan lama disampingkan demi menghadapi musuh bersama.
Konsekuensi dan Implikasi Jangka Panjang
Fenomena ini membawa beberapa implikasi penting bagi dinamika geopolitik Timur Tengah:
- Mengaburkan garis sektarian tradisional yang selama ini memisahkan Sunni dan Syiah.
- Meningkatkan ketegangan internal di negara-negara Arab antara kelompok yang loyal kepada negara dan yang mendukung Iran.
- Memperkuat narasi anti-Israel sebagai penyatu kelompok-kelompok yang biasanya berseberangan.
- Mendorong perubahan strategi diplomatik negara-negara Arab dalam menghadapi Iran dan Israel.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, fenomena publik Arab Sunni yang mendukung Iran Syiah ketika menyerang Israel bukan sekadar reaksi spontan terhadap konflik, melainkan cerminan realpolitik yang semakin mengedepankan kepentingan pragmatis atas identitas sektarian. Ini menunjukkan bahwa dalam konteks konflik dengan Israel, identitas keagamaan yang selama ini memecah belah dapat terkikis demi solidaritas anti-Israel.
Namun, dukungan ini juga berpotensi memperdalam ketegangan internal di negara-negara Arab, terutama bagi pemerintahan yang merasa terancam oleh loyalitas warga yang berbelah arah. Para pemimpin Arab harus waspada bahwa korsleting sektarian ini bisa memicu konflik domestik yang lebih besar jika tidak ditangani dengan bijak.
Ke depan, penting untuk mengamati apakah solidaritas yang muncul ini akan bertahan atau justru kembali memunculkan ketegangan sektarian setelah konflik dengan Israel mereda. Fenomena ini juga menandai pergeseran strategi geopolitik di Timur Tengah yang dapat mengubah peta politik regional secara signifikan.
Untuk itu, pembaca disarankan untuk terus mengikuti perkembangan terbaru mengenai hubungan Sunni-Syiah, dinamika konflik Israel-Iran, dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0