Dampak Kesepakatan OpenAI dengan Pentagon: Protes Karyawan dan Pengguna Meningkat

Mar 9, 2026 - 12:40
 0  5
Dampak Kesepakatan OpenAI dengan Pentagon: Protes Karyawan dan Pengguna Meningkat

OpenAI biasanya akan merayakan keberhasilan mengamankan kesepakatan bergengsi dengan Pentagon. Namun, kali ini perusahaan justru menghadapi gelombang kritik keras dari karyawan dan konsumen yang khawatir teknologi kecerdasan buatannya dapat digunakan sebagai senjata.

Ad
Ad

Kesepakatan OpenAI dan Pentagon Memicu Kontroversi

Pada tanggal 28 Februari 2026, CEO OpenAI, Sam Altman, mengumumkan bahwa perusahaan telah menjalin perjanjian dengan Pentagon untuk memberikan akses kepada model AI mereka. Kesepakatan ini muncul hanya beberapa hari setelah pesaingnya, Anthropic, menolak perjanjian serupa.

"Kami tidak dapat dengan hati nurani menyetujui permintaan tersebut," kata CEO Anthropic, Dario Amodei, yang menegaskan bahwa perusahaannya menolak penggunaan teknologi untuk senjata otonom atau pengawasan massal domestik.

Meski Altman berupaya merevisi kesepakatan tersebut untuk meredakan kritik, langkah itu tidak cukup menghentikan gelombang protes yang cepat dan masif, yang mengancam reputasi OpenAI sebagai pembuat chatbot terpopuler di dunia.

Kepala Robotika OpenAI Mengundurkan Diri

Salah satu dampak paling nyata dari kontroversi ini adalah pengunduran diri Caitlin Kalinowski, kepala divisi robotika yang bergabung dari Meta pada tahun 2024. Dalam pengumuman pengunduran dirinya pada Sabtu, Kalinowski menyatakan kekecewaannya terhadap kesepakatan dengan Pentagon.

"AI memang memiliki peran penting dalam keamanan nasional. Namun, pengawasan terhadap warga Amerika tanpa pengawasan yudisial dan otonomi mematikan tanpa otorisasi manusia adalah batas yang seharusnya mendapat perhatian lebih," tulisnya di media sosial X.

Juru bicara OpenAI membela kesepakatan tersebut dengan menyatakan, "kami percaya perjanjian ini membuka jalan yang bertanggung jawab untuk penggunaan AI dalam keamanan nasional, dengan garis merah jelas: tidak ada pengawasan domestik dan tidak ada senjata otonom."

Tolakannya Meluas di Kalangan Karyawan OpenAI

Selain Kalinowski, banyak karyawan OpenAI yang secara terbuka mengkritik kesepakatan tersebut. Aidan McLaughlin, ilmuwan riset di OpenAI, menulis di X bahwa ia tidak merasa kesepakatan itu sepadan. Beberapa karyawan bahkan menyatakan rasa hormat pada Anthropic yang menolak kontrak Pentagon.

Sebanyak hampir 900 mantan dan karyawan saat ini dari OpenAI dan Google menandatangani petisi bersama yang menentang penggunaan teknologi AI untuk senjata yang dapat membunuh tanpa pengawasan manusia dan pengawasan massal.

"Pentagon sedang bernegosiasi dengan Google dan OpenAI untuk mencoba mendapatkan kesepakatan yang ditolak oleh Anthropic," tulis petisi tersebut.

Claude Menyalip ChatGPT di Tengah Protes Pengguna

Pasca pengumuman kesepakatan, banyak pengguna mulai beralih ke Claude, chatbot dari Anthropic, yang kini menduduki peringkat pertama aplikasi gratis paling banyak diunduh di Apple App Store AS, mengalahkan ChatGPT.

Penghapusan aplikasi ChatGPT melonjak lebih dari 295% pada 28 Februari, sehari setelah pengumuman. Claude juga memuncaki daftar aplikasi produktivitas teratas di App Store, diikuti ChatGPT, Google Gemini, dan xAI Grok.

Selain protes online, OpenAI juga menghadapi demonstrasi nyata. Para aktivis berkumpul di depan kantor pusat OpenAI di San Francisco menuntut gerakan "QuitGPT" sebagai bentuk penolakan terhadap perusahaan.

"Altman tinggal di sebuah mansion seperti penjahat super dan menggunakan teman-teman miliardernya untuk mendukung Presiden Donald Trump dalam kebijakan anggaran yang merugikan rakyat," kata salah satu pengunjuk rasa, Sarah Gao, kepada Business Insider.

Perhatian dari Legislator AS

Kesepakatan OpenAI dengan Pentagon juga menarik perhatian para anggota parlemen AS. Rep. Sam Liccardo dari California mengajukan amandemen terhadap Defense Production Act yang melarang Departemen Pertahanan membalas pengembang yang menerapkan pengamanan pada teknologi berisiko tinggi.

Amandemen tersebut gagal dengan suara 16-25 di Komite Keuangan DPR. Liccardo mengaku sebagai pengguna Claude dan mengkritik pendekatan Pentagon dalam negosiasi.

"Ketika perusahaan yang merancang jet tempur mengatakan kapan harus mengerem, kita harus dengarkan. Namun, birokrat Pentagon merasa mereka tahu lebih baik," katanya.

Sementara itu, Senator Demokrat Brian Schatz dari Hawaii juga mengumumkan telah mengunduh Claude.

Upaya Kerusakan Citra oleh Sam Altman

Setelah kritik meluas, Altman berusaha melakukan damage control. Ia menyatakan di X bahwa proses kesepakatan tersebut terburu-buru dan penampilannya buruk. Dalam memo internal yang dibagikan pada 2 Maret, Altman mengungkapkan revisi kontrak untuk memasukkan jaminan lebih jelas agar teknologi OpenAI tidak digunakan untuk pengawasan massal domestik.

Altman juga berjanji akan memperbaiki kontrak dengan melarang penggunaan data "komersial yang diperoleh" yang tidak dicakup dalam kesepakatan awal.

"Saya seharusnya tidak terburu-buru menyelesaikan kesepakatan ini. Itu terlihat oportunistik dan ceroboh," tulis Altman dalam memo tersebut.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kontroversi ini menyoroti dilema besar dalam pengembangan teknologi AI: bagaimana mengimbanginya antara inovasi dan etika penggunaan, terutama dalam konteks militer dan keamanan nasional. Kesepakatan OpenAI dengan Pentagon membuka perdebatan penting mengenai transparansi dan batasan penggunaan AI yang harus dipertimbangkan secara serius oleh seluruh pemangku kepentingan.

Selain itu, gelombang protes karyawan dan pengguna menunjukkan bahwa masyarakat dan profesional teknologi semakin peduli akan dampak sosial dari produk yang mereka ciptakan atau gunakan. Ini adalah peringatan serius bagi perusahaan teknologi agar tidak hanya fokus pada keuntungan dan kemajuan teknologi, tetapi juga pada tanggung jawab sosial dan moral.

Ke depan, kita perlu mengamati bagaimana OpenAI dan perusahaan lain akan menyeimbangkan kepentingan bisnis, keamanan nasional, dan etika penggunaan AI. Perubahan kebijakan internal, keterbukaan publik, dan peran regulasi pemerintah akan sangat menentukan arah masa depan AI yang aman dan bertanggung jawab di Indonesia dan dunia.

Terus ikuti perkembangan berita ini untuk memahami dampak lanjutan kesepakatan teknologi dan keamanan yang semakin kompleks di era kecerdasan buatan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad