Iran Perang Habis-habisan Lawan AS, Kenapa Milisi Houthi Yaman Masih Diam?
- Milisi Houthi: Diam di Tengah Konflik Iran vs AS-Israel
- Faktor Kerugian dan Tekanan yang Dialami Houthi
- Pengaruh Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran pada Semangat Houthi
- Potensi Keterlibatan Houthi dalam Konflik Jika Diminta Iran
- Ancaman Serangan Houthi ke Target AS dan Israel
- Gangguan di Laut Merah dan Dampaknya
- Analisis Redaksi
- Kesimpulan
Ketegangan di Timur Tengah semakin memuncak setelah serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran yang berlangsung sejak 28 Februari 2026. Konflik ini telah menyebar ke berbagai kota di negara-negara tetangga, mulai dari Abu Dhabi (Uni Emirat Arab), Doha (Qatar), Manama (Bahrain), hingga Beirut (Lebanon). Namun, satu fenomena menarik adalah sikap tenang dan diam yang ditunjukkan oleh milisi Houthi di Yaman, sekutu dekat Iran, meskipun situasi kian memanas.
Milisi Houthi: Diam di Tengah Konflik Iran vs AS-Israel
Berbeda dengan eskalasi militer yang terus meningkat di wilayah sekitar Iran, Houthi di Yaman nyaris belum menunjukkan aksi nyata mendukung Iran dalam konflik ini. Sejak perang meletus, dukungan mereka hanya sebatas retorika tanpa serangan langsung atau operasi militer yang signifikan. Padahal, pada Oktober 2023 saat genosida Israel di Jalur Gaza, Houthi aktif meluncurkan serangan terhadap Israel dan sekutunya.
Menurut analis senior Yaman dan Teluk dari lembaga pemantau konflik ACLED, Luca Nevola, sikap diam Houthi ini merupakan strategi kesabaran dan kehati-hatian. Nevola meyakini bahwa keterlibatan Houthi dalam peperangan tetap mungkin terjadi, namun mereka memilih untuk tidak langsung terjun agar menghindari pembalasan langsung dari AS dan Israel.
"Intervensi Houthi akan tetap menjadi kemungkinan, dan itu bisa berupa eskalasi bertahap. Saat ini, prioritas utama mereka adalah menghindari serangan balasan," ujar Nevola.
Faktor Kerugian dan Tekanan yang Dialami Houthi
Kerugian besar yang dialami Houthi pada Agustus 2025 menjadi salah satu alasan mereka bersikap hati-hati. Serangan Israel yang menewaskan sedikitnya 12 pejabat tinggi militer dan pemerintahan Houthi, termasuk Perdana Menteri Ahmed Al Rahawi dan Kepala Staf Mohammed Al Ghumari, menjadi pukulan berat.
Tekanan dari intelijen Israel dan ancaman serangan terhadap pimpinan mereka juga membuat Houthi takut mengambil risiko besar dalam waktu dekat. Hal ini ditegaskan Nevola, yang menyatakan bahwa ketakutan terhadap serangan langsung menjadi faktor utama ketidakaktifan Houthi saat ini.
Pengaruh Wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran pada Semangat Houthi
Pengamat politik Yaman, Sadam Al Huraibi, menambahkan bahwa kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan AS-Israel, turut memukul moral Houthi. Sebagai ikon keagamaan dan simbol kekuatan Iran, wafatnya Khamenei berpengaruh besar pada semangat tempur kelompok milisi tersebut.
"Iran adalah ikon keagamaan bagi Houthi. Kejatuhan rezim Iran dapat mengawali keruntuhan proksi-proksinya di kawasan, termasuk di Yaman," ujar Huraibi kepada Al Jazeera.
Potensi Keterlibatan Houthi dalam Konflik Jika Diminta Iran
Meski belum bertindak, Huraibi meyakini bahwa keterlibatan Houthi dalam perang hanyalah soal waktu dan bergantung pada keputusan Iran. Menurutnya, Iran sengaja menyimpan Houthi sebagai kartu untuk fase berikutnya dalam konflik ini.
- Houthi kemungkinan akan memulai serangan jika serangan AS-Israel terhadap Iran terus berlanjut.
- Mereka sudah mempersiapkan perlawanan di wilayah Sanaa dan provinsi yang dikuasai.
- Serangan dapat dilakukan melalui drone dan rudal ke wilayah Israel dan Laut Merah.
Nevola juga setuju bahwa Yaman berperan sebagai tempat berlindung yang aman bagi Houthi, yang diprioritaskan oleh Iran untuk menjaga kontinuitas operasi jangka panjang.
Ancaman Serangan Houthi ke Target AS dan Israel
Houthi memiliki kemampuan serangan rudal dan drone yang signifikan. Jika konflik semakin memanas dan Houthi merasa terancam, mereka dapat memperluas serangan ke berbagai target, termasuk:
- Wilayah Israel
- Kapal perang AS di kawasan
- Aset militer AS dan sekutunya, termasuk di UEA dan Somaliland
Seiring berjalannya waktu, serangan rudal dan drone Houthi dinilai dapat semakin merusak, terutama saat sistem pertahanan udara AS dan Israel mulai kewalahan.
"Serangan jarak jauh Houthi dapat sangat efektif pada tahap berikutnya dari konflik, apalagi jika sistem pertahanan udara mengalami kendala pasokan," jelas Nevola.
Gangguan di Laut Merah dan Dampaknya
Sejak akhir 2023 hingga 2025, Houthi telah melancarkan serangan berkelanjutan terhadap kapal-kapal di Laut Merah, menewaskan sembilan pelaut dan menenggelamkan empat kapal. Laut Merah adalah jalur penting yang dilewati barang senilai sekitar 1 triliun dolar AS setiap tahunnya sebelum perang.
Gangguan ini bukan hanya berdampak pada lalu lintas perdagangan internasional, tapi juga menjadi ancaman strategis bagi AS dan sekutunya di kawasan.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, sikap diam strategis yang diambil oleh milisi Houthi bukan sekadar ketakutan semata, melainkan sebuah taktik bertahan jangka panjang dalam menghadapi kekuatan militer AS dan Israel yang jauh lebih superior. Houthi tampaknya menyadari bahwa keterlibatan langsung saat ini bisa membuka peluang serangan balasan yang fatal bagi kepemimpinan mereka, mengingat kerugian besar yang pernah mereka alami.
Namun, potensi Houthi sebagai kartu truf Iran dalam konflik ini sangat nyata. Jika situasi berkembang menjadi perang berkepanjangan, keterlibatan milisi ini bisa menjadi faktor pengubah dinamika perang, khususnya dengan kemampuan mereka menyerang jalur perdagangan vital di Laut Merah dan meluncurkan rudal ke wilayah musuh.
Publik dan pengamat pun harus waspada terhadap kemungkinan eskalasi yang datang dari Yaman, yang bisa membuka front baru dalam konflik Iran-AS-Israel. Perkembangan berikutnya sangat bergantung pada keputusan politik Iran dan respon militer AS-Israel terhadap ancaman ini.
Kesimpulan
Milisi Houthi di Yaman saat ini memilih strategi menunggu dan bersabar di tengah perang habis-habisan antara Iran dan AS-Israel. Meskipun belum beraksi, potensi mereka untuk terlibat dalam konflik ini sangat besar dan bisa memengaruhi jalannya perang di Timur Tengah. Oleh karena itu, perkembangan sikap dan aksi Houthi menjadi salah satu aspek penting yang perlu terus dipantau dalam beberapa minggu dan bulan ke depan.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0