IHSG Ambruk 3%: Bank Mandiri dan Saham Big Caps Jadi Sasaran Jual Asing
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam sebesar 3,27% pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026. Koreksi ini terjadi di tengah tekanan jual dari investor asing yang menjual bersih sejumlah saham, terutama saham perbankan berkapitalisasi besar. Kondisi ini menyebabkan pasar saham domestik jatuh ke level 7.337,37, setelah sempat terkoreksi lebih dalam hingga 5,2%.
Investor Asing Lepas Saham Big Caps, Bank Mandiri Paling Terdampak
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai beli asing sebesar Rp8,758 triliun dan nilai jual asing sebesar Rp7,648 triliun sehingga secara keseluruhan tercatat masih ada net foreign buy sebesar Rp1,11 triliun. Namun, aksi distribusi terjadi di beberapa saham unggulan, terutama sektor perbankan yang menjadi sorotan utama.
Bank Mandiri (BMRI) menjadi saham yang paling banyak dilepas asing dengan net sell mencapai Rp269,7 miliar. Disusul oleh Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan penjualan bersih asing sebesar Rp170 miliar dan Bank Central Asia (BBCA) sebesar Rp106,8 miliar.
Daftar Saham dengan Penjualan Bersih Asing Terbesar
Selain saham perbankan, beberapa saham lain juga mengalami tekanan jual asing signifikan. Berikut adalah 10 saham dengan net foreign sell terbesar pada perdagangan 9 Maret 2026:
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI): Rp269,7 miliar
- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI): Rp170 miliar
- PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN): Rp137,1 miliar
- PT Darma Henwa Tbk (DEWA): Rp107,4 miliar
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Rp106,8 miliar
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM): Rp73,5 miliar
- PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG): Rp51,1 miliar
- PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF): Rp34,9 miliar
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN): Rp25,3 miliar
- PT Essa Industries Indonesia Tbk (ESSA): Rp24,2 miliar
Tekanan Jual Menyeluruh, Seluruh Sektor Rontok
Pelemahan IHSG yang tajam tersebut disertai dengan dominasi saham yang turun. Sebanyak 708 saham melemah, hanya 68 saham menguat dan 41 saham stagnan. Volume perdagangan mencapai 46,64 miliar saham dengan total nilai transaksi mencapai Rp23,77 triliun dalam 1,62 juta kali transaksi.
Semua sektor perdagangan di Bursa Efek Indonesia ditutup di zona merah. Sektor infrastruktur dan industri menjadi yang paling terpukul dengan penurunan terdalam, memperkuat gambaran tekanan pasar yang meluas.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, aksi jual asing pada saham-saham big caps seperti Bank Mandiri dan BRI menunjukkan adanya kekhawatiran investor global terhadap prospek sektor perbankan Indonesia di tengah kondisi makroekonomi yang belum stabil. Penurunan IHSG yang mencapai lebih dari 3% sekaligus menandakan sentimen negatif yang cukup dalam di pasar domestik.
Faktanya, walaupun secara total masih tercatat net foreign buy, distribusi di saham unggulan menjadi sinyal bahwa asing melakukan seleksi ketat terhadap portofolionya. Ini bisa menjadi indikasi bahwa risiko global dan regional mulai membebani pasar modal Indonesia, terutama menjelang rilis data ekonomi penting atau kebijakan moneter terbaru.
Ke depan, investor dan pelaku pasar harus mewaspadai potensi volatilitas yang terus berlanjut jika tekanan jual asing berlanjut, khususnya di saham-saham blue chip yang menjadi barometer pasar. Perkembangan geopolitik dan kebijakan Bank Indonesia juga akan menjadi faktor kunci yang menentukan arah pasar saham nasional.
Investor disarankan untuk terus memantau pergerakan IHSG dan data fundamental perusahaan, serta memperhatikan sentimen global yang bisa memengaruhi pasar di minggu-minggu berikutnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0