Harga Emas Jatuh di Tengah Perang Iran: 5 Alasan Fenomena Ini Terjadi
Harga emas mengalami penurunan yang tidak biasa di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat akibat perang antara Amerika Serikat dan Iran. Fenomena ini menarik perhatian banyak pihak karena biasanya, emas menjadi aset pilihan saat terjadi krisis global. Namun, pada perdagangan Senin (9/3/2026), harga emas justru turun sebesar 0,64% menjadi US$ 1.536,91 per troy ons, berbanding terbalik dengan lonjakan 1,8% pada pekan sebelumnya.
Pada Selasa (10/3/2026) pagi, harga emas mulai membaik sedikit dengan kenaikan tipis 0,17% menjadi US$ 1.545,67 per troy ons, namun tetap menunjukkan tren yang jauh dari ekspektasi sebagai aset safe haven di tengah perang.
Ketegangan Geopolitik dan Penguatan Dolar AS
Konflik di Timur Tengah, khususnya perang antara AS dan Iran, seharusnya mendorong kenaikan harga emas sebagai pelindung nilai saat ketidakpastian tinggi. Namun, saat ini dolar AS menguat kuat karena meningkatnya permintaan global terhadap mata uang tersebut, yang menekan harga emas. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya risk aversion di pasar sehingga investor cenderung mencari aset berbasis dolar yang dianggap lebih likuid dan aman.
Selain itu, lonjakan harga minyak akibat perang turut memperkuat dolar AS karena perdagangan minyak secara global menggunakan dolar. Hal ini meningkatkan permintaan dolar dan mengurangi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
5 Pemicunya Harga Emas Jatuh di Tengah Perang Iran
- Penguatan dolar AS dan ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed: Pasar memperkirakan Federal Reserve akan menahan suku bunga karena ketidakpastian harga energi. Hal ini menekan sentimen positif terhadap emas.
- Aksi ambil untung investor: Setelah harga emas dan perak naik signifikan beberapa bulan terakhir, banyak investor melakukan profit taking sehingga terjadi koreksi harga.
- Peralihan investasi ke obligasi dan aset berbasis dolar: Obligasi pemerintah AS (US Treasuries) menawarkan imbal hasil yang menarik, membuat investor mengalihkan dana dari emas.
- Penurunan pasar saham dan likuiditas: Ketika pasar saham turun, sebagian investor menjual emas untuk menambah likuiditas, menekan harga emas dalam jangka pendek.
- Tingginya suku bunga global: Imbal hasil obligasi yang meningkat membuat emas kurang menarik karena emas tidak memberikan kupon atau bunga.
Aksha Kamboj, Wakil Presiden India Bullion & Jewellers Association, menambahkan bahwa dana investor juga banyak mengalir ke minyak mentah seiring eskalasi perang dan kekhawatiran pasokan energi global.
Perbedaan Perang Iran dengan Konflik Rusia-Ukraina
Berbeda dengan krisis Rusia-Ukraina tahun 2022, ketika emas menjadi primadona sebagai aset aman, kondisi saat ini lebih kompleks. Renisha Chainani, Kepala Riset di Augmont, menjelaskan bahwa penguatan dolar dan imbal hasil obligasi AS yang tinggi mengurangi daya tarik emas. Pasar saat ini juga lebih likuid dan terdiversifikasi, sehingga investor memilih berbagai instrumen seperti saham sektor pertahanan dan energi sebagai alternatif lindung nilai.
Selain itu, posisi investor saat ini tercatat sudah tinggi setelah reli emas sepanjang 2025. Oleh karena itu, ruang untuk pembelian baru saat konflik meningkat menjadi terbatas. Para analis juga memperkirakan konflik AS-Iran ini akan tetap terbatas, tidak berkembang menjadi perang global berkepanjangan, sehingga pembelian emas panik tidak terlalu kuat.
Data Inflasi AS dan Kebijakan Moneter Jadi Kunci Pergerakan Harga Emas
Data inflasi AS yang akan dirilis pada Rabu dan Jumat mendatang menjadi fokus utama pasar. Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) diharapkan memberi gambaran lebih jelas tentang tekanan inflasi. Hasil data ini akan sangat menentukan langkah Federal Reserve pada pengumuman kebijakan moneter minggu depan.
Jika angka inflasi semakin tinggi, kekhawatiran pasar akan bertambah, dan hal ini dapat memicu perubahan sentimen terhadap emas. Namun jika inflasi terkendali, kemungkinan The Fed akan menahan kenaikan suku bunga sehingga memberikan ruang bagi harga emas untuk kembali naik.
Harga Perak Menguat, Emas Tertahan
Berbeda dengan emas, harga perak justru menunjukkan penguatan. Pada perdagangan Senin, harga perak naik tajam 3,2% ke posisi US$ 87,02 per troy ons dan pada Selasa pagi terus menguat ke US$ 87,69. Hal ini menunjukkan adanya pergerakan berbeda pada logam mulia lain yang mungkin dipengaruhi oleh faktor industri dan permintaan berbeda.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, fenomena harga emas yang jatuh di tengah perang Iran ini menandakan dinamika pasar yang semakin kompleks dan tidak bisa hanya mengandalkan pola tradisional. Safe haven seperti emas kini harus bersaing dengan dolar AS dan aset berbunga seperti obligasi yang menawarkan imbal hasil lebih menarik di tengah ketidakpastian global.
Investor juga semakin cermat dalam mengelola portofolio dengan diversifikasi ke sektor energi dan pertahanan, yang dianggap lebih responsif terhadap konflik geopolitik. Selain itu, peran data inflasi AS dan kebijakan The Fed menjadi faktor kunci yang menentukan arah harga emas ke depan.
Ke depan, penting bagi para pelaku pasar dan masyarakat untuk terus memantau perkembangan geopolitik dan data ekonomi AS yang dapat mengubah sentimen pasar secara signifikan. Harga emas mungkin akan kembali berkilau jika ketegangan berlanjut dan inflasi AS tidak terkendali, namun saat ini pasar lebih berhati-hati dan terfragmentasi.
Terus ikuti update terbaru untuk memahami bagaimana pergerakan harga emas dan aset safe haven lainnya berkembang di tengah ketidakpastian global ini.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0