Harga Minyak Melunak, Tekanan Global Masih Berat, IHSG Harus Kuat Hari Ini

Mar 10, 2026 - 10:21
 0  3
Harga Minyak Melunak, Tekanan Global Masih Berat, IHSG Harus Kuat Hari Ini

Pasar keuangan Indonesia kembali menghadapi tekanan berat di tengah gejolak global dan dinamika domestik yang belum stabil. Pada perdagangan Senin (9/3/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat koreksi signifikan sebesar 3,27%, turun 248 poin ke level 7.337,37, setelah sempat anjlok hingga 5,2% di level 7.156. Pelemahan ini terjadi di tengah kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, terutama akibat konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah dan data ekonomi domestik yang kurang menggembirakan.

Ad
Ad

Tekanan Global Masih Berat, Harga Minyak dan Konflik Iran Jadi Sumber Kekhawatiran

Kondisi geopolitik semakin memperumit sentimen pasar. Perang yang terus berlanjut di Iran serta penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai penerus pemimpin tertinggi Iran menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang berkepanjangan. Hal ini mendorong investor global untuk mengalihkan asetnya ke safe haven, terutama dolar AS, sehingga mata uang negara berkembang termasuk rupiah berada di bawah tekanan.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun ke kisaran US$81 per barel setelah sempat menyentuh level US$119 per barel, tertinggi sejak 2022. Penurunan harga minyak ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa perang melawan Iran mendekati akhir dan kapal-kapal sudah kembali melintasi Selat Hormuz. Namun, ketegangan yang belum mereda tetap menjaga tekanan di pasar keuangan dan komoditas global.

Pergerakan IHSG dan Rupiah di Tengah Ketidakpastian

IHSG mengalami tekanan cukup dalam dengan mayoritas sektor perdagangan melemah, terutama sektor infrastruktur dan industri. Sebanyak 708 saham turun, sementara hanya 68 saham yang naik, menandakan aksi jual yang masif di pasar domestik. Namun, asing justru mencatatkan net buy sebesar Rp 1,1 triliun, menunjukkan adanya peluang masuknya modal asing walaupun kondisi pasar sedang negatif.

Nilai transaksi saham mencapai Rp 23,77 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 46,64 miliar lembar. Saham-saham blue chip seperti BBRI, BYAN, BREN, AMMN, dan BMRI menjadi pemberat terbesar IHSG.

Sementara itu, nilai tukar rupiah melemah 0,21% ke posisi Rp16.935/US$ pada penutupan perdagangan Senin, menandai level terlemah dalam tujuh pekan terakhir. Penguatan dolar AS yang mencapai 0,42% di level 99,412 menjadi faktor utama pelemahan rupiah, seiring meningkatnya permintaan investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian global.

Data Ekonomi Domestik dan Global yang Mempengaruhi Pasar

  • Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indonesia turun ke 125,2 pada Februari 2026 dari 127,0 bulan sebelumnya, mencerminkan kehati-hatian masyarakat terhadap kondisi ekonomi ke depan.
  • Indeks Ekspektasi Ekonomi melemah 4,4 poin menjadi 134,4, dengan penurunan harapan pendapatan dan ketersediaan lapangan kerja.
  • Inflasi konsumen Tiongkok melonjak ke 1,3% yoy pada Februari, tertinggi sejak 2023, didorong oleh momentum Tahun Baru Imlek dan kenaikan harga pangan.
  • Indeks Harga Produsen (PPI) Tiongkok menunjukkan perbaikan dengan kontraksi yang mereda menjadi -0,9% yoy pada Februari.
  • Pertumbuhan ekonomi Jepang melambat, dengan PDB kuartal IV 2025 tumbuh hanya 0,1% kuartalan, menandakan konsumsi yang masih tertekan.
  • Tiongkok mencatat rekor surplus neraca perdagangan US$1,189 triliun sepanjang 2025, meskipun menghadapi tekanan tarif AS.

Pasar Saham AS Bangkit Setelah Sentimen Positif

Berbeda dengan pasar domestik, bursa Wall Street justru bangkit pada perdagangan Senin. Indeks S&P 500 naik 0,83%, Dow Jones menguat 0,5%, dan Nasdaq melonjak 1,38%. Kenaikan ini disebabkan oleh optimisme pasar setelah pernyataan Presiden Trump yang menyebut perang dengan Iran hampir selesai. Namun, volatilitas tetap tinggi dengan penurunan tajam yang sempat terjadi pada sesi perdagangan.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, walaupun harga minyak mulai melunak dan ada sinyal positif dari pernyataan Presiden AS Donald Trump, tekanan global terhadap pasar keuangan Indonesia masih sangat berat. Konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian geopolitik menjadi faktor utama yang membuat investor asing tetap berhati-hati, walaupun ada aksi beli bersih di pasar saham domestik.

Di sisi lain, pelemahan rupiah dan kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) menunjukkan tekanan pasar obligasi yang belum mereda. Hal ini bisa menjadi tantangan bagi pemerintah dalam mengelola pembiayaan anggaran dan stabilitas ekonomi makro.

Investor perlu memantau perkembangan konflik Timur Tengah dan respons kebijakan pemerintah, terutama terkait ketahanan pasokan energi dan kebijakan fiskal untuk memastikan stabilitas pasar domestik. Data makroekonomi seperti IKK dan penjualan eceran juga akan menjadi indikator kunci bagi arah pasar dalam jangka pendek.

Kesimpulan dan Prospek Ke Depan

Pada perdagangan hari ini dan pekan mendatang, IHSG dan rupiah masih berpotensi menghadapi tekanan dari sentimen eksternal, terutama perkembangan geopolitik dan harga komoditas global. Namun, peluang rebound tetap terbuka jika kondisi konflik mereda dan data ekonomi domestik menunjukkan perbaikan.

Pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada dan memantau berita terbaru terkait perang Iran, kebijakan energi global, serta rilis data ekonomi Indonesia yang akan mempengaruhi sentimen investor. Stabilitas pasar keuangan Indonesia sangat penting untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad