Mayoritas Pemilih Nilai Risiko AI Lebih Besar dari Manfaatnya, Ini Faktanya

Mar 10, 2026 - 21:10
 0  3
Mayoritas Pemilih Nilai Risiko AI Lebih Besar dari Manfaatnya, Ini Faktanya

Mayoritas pemilih di Indonesia kini menunjukkan kekhawatiran besar terhadap risiko teknologi kecerdasan buatan (AI), menurut survei terbaru yang dilakukan oleh NBC News. Survei nasional ini mengungkap bahwa 57% pemilih terdaftar berpendapat bahwa risiko AI lebih besar daripada manfaatnya, sementara hanya 34% yang menilai sebaliknya.

Ad
Ad

Selain itu, survei menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap partai politik utama, baik Demokrat maupun Republik, dalam menangani kebijakan terkait AI sangat rendah. Hanya 26% pemilih yang memiliki pandangan positif terhadap AI, sedangkan 46% lainnya memiliki pandangan negatif. Bahkan, AI menjadi topik yang paling tidak populer setelah Partai Demokrat dan isu Iran dalam survei tersebut.

Persepsi Negatif Terhadap AI dan Ketidakpercayaan Pada Partai Politik

Para pemimpin industri AI telah memperingatkan bahwa teknologi ini akan menyebabkan pengurangan pekerjaan dalam beberapa tahun ke depan. Dampak AI terhadap lanskap politik masih dalam tahap pembentukan, dengan fokus utama saat ini pada isu-isu seperti kenaikan tagihan listrik akibat perluasan pusat data AI, keselamatan anak, serta penggunaan AI dalam militer.

Meski demikian, para ekonom, pemimpin teknologi, dan pejabat terpilih dari kedua partai utama di Amerika Serikat telah menyoroti potensi kemajuan yang dapat dibawa AI, sambil menekankan pentingnya mengamankan posisi teknologi ini agar dapat bersaing dengan China. Pemerintahan Trump bahkan menjadikan percepatan kemajuan AI sebagai prioritas, dengan Presiden Donald Trump menolak kekhawatiran terkait hilangnya pekerjaan akibat AI dalam sebuah wawancara dengan NBC News bulan lalu.

"Mereka bilang internet akan mengambil alih semua pekerjaan — robot akan membunuh lapangan kerja. Segala sesuatu akan membunuh pekerjaan," ujar Trump. "Namun pada akhirnya, jika Anda cerdas, Anda akan berhasil."

Ketika ditanya partai mana yang lebih mampu menangani isu AI, hanya 20% pemilih yang memilih Partai Republik dan 19% memilih Partai Demokrat. Sementara itu, 33% pemilih merasa tidak ada partai yang mampu menangani AI dengan baik, dan 24% merasa kedua partai sama saja.

Perbedaan Pandangan Berdasarkan Demografi dan Partai

Survei ini juga mengungkapkan bahwa kelompok usia 18-34 tahun dan perempuan usia 18-49 tahun memiliki pandangan paling negatif terhadap AI, dengan penilaian neto negatif masing-masing sebesar -44 dan -41. Sebaliknya, laki-laki di atas 50 tahun dan pemilih kelas atas menunjukkan pandangan paling positif dengan nilai neto +2.

Perpecahan juga terjadi berdasarkan afiliasi partai. Pemilih Partai Republik terbagi rata antara pandangan positif dan negatif terhadap AI (33% positif dan 33% negatif). Sementara itu, pemilih independen dan Demokrat cenderung lebih negatif, dengan 48% independen dan 56% Demokrat memandang AI secara negatif.

Dampak AI terhadap Pasar Kerja dan Penggunaan AI di Masyarakat

Survei dilakukan pada periode 27 Februari hingga 3 Maret 2026, bertepatan dengan kondisi pasar kerja yang menunjukkan kontraksi dalam lima dari sembilan bulan terakhir. Data terbaru mencatat 25% penganggur memiliki gelar sarjana, menandakan bahwa pengaruh AI terhadap lapangan kerja sangat luas, termasuk pekerja berpendidikan tinggi.

Penelitian dari Stanford menemukan bahwa pekerja usia 22-25 tahun di sektor yang paling terpapar AI generatif mengalami penurunan pekerjaan relatif sebesar 16% sejak akhir 2022. Laporan lainnya dari Anthropic, perusahaan AI yang mengembangkan Claude, menyatakan bahwa perempuan, pekerja berpendidikan tinggi, dan pekerja berpendapatan tinggi yang lebih tua dalam profesi yang rentan terhadap AI lebih berisiko kehilangan pekerjaan.

Micah Roberts, seorang pollster dari Public Opinion Strategies, menilai bahwa kekhawatiran terhadap dampak negatif AI pada pekerjaan sangat terasa terutama di kalangan pemilih muda dan perempuan di bawah usia 50 tahun. Ia menambahkan, "Sikap negatif terhadap AI menurun seiring dengan peningkatan tingkat pendidikan."

Survei juga menunjukkan bahwa 56% pemilih mengaku telah menggunakan AI dalam dua bulan terakhir, dengan proporsi tertinggi di antara manajer profesional (77%), pekerja kantoran (74%), pekerja lapangan (50%), dan pensiunan (30%). Hal ini mengindikasikan adanya keterkaitan antara pekerjaan dan penggunaan AI.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, hasil survei ini mencerminkan sebuah tantangan besar bagi partai politik dan pemimpin negara dalam merumuskan kebijakan yang efektif dan meyakinkan masyarakat terkait teknologi AI. Ketidakpercayaan yang kuat terhadap partai politik dalam mengelola isu AI berpotensi membuka ruang bagi pihak lain atau partai baru untuk mengambil posisi kepemimpinan di bidang teknologi ini.

Lebih jauh, kekhawatiran mendalam tentang dampak AI pada lapangan pekerjaan, terutama di kalangan generasi muda dan perempuan, menandakan kebutuhan mendesak untuk program pelatihan ulang dan peningkatan keterampilan agar tenaga kerja dapat beradaptasi dengan perubahan pasar kerja yang dipicu oleh AI. Tanpa langkah proaktif, risiko ketimpangan sosial dan ekonomi akan semakin meningkat.

Ke depan, publik dan pembuat kebijakan harus memantau bagaimana regulasi dan inovasi AI berkembang, serta bagaimana dampaknya pada berbagai kelompok demografis. Transparansi dan komunikasi yang jelas akan menjadi kunci untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap teknologi yang semakin dominan ini.

Terus ikuti perkembangan terbaru seputar teknologi AI dan kebijakan publik agar Anda tidak ketinggalan informasi penting yang berdampak langsung pada masa depan pekerjaan dan kehidupan sosial kita.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad