Jaga Pola Konsumsi Saat Lebaran untuk Cegah Sembelit, Diare, dan Lonjakan Gula Darah

Mar 11, 2026 - 06:10
 0  4
Jaga Pola Konsumsi Saat Lebaran untuk Cegah Sembelit, Diare, dan Lonjakan Gula Darah

Dokter Spesialis Penyakit Dalam mitra Halodoc, dr. Waluyo Dwi Cahyono, SpPD-KEMD, FINASIM, memberikan peringatan penting bagi masyarakat untuk menjaga pola konsumsi selama dan setelah Lebaran guna mencegah berbagai gangguan kesehatan seperti sembelit, diare, dan lonjakan gula darah.

Ad
Ad

Pernyataan tersebut disampaikan dr. Waluyo dalam acara Halodoc Talks bertajuk Transitioning Safely: Managing Ramadan Health Risks During Eid Festivities yang berlangsung di Jakarta pada Selasa, 10 Maret 2026.

Perubahan Pola Makan Jadi Pemicu Gangguan Pencernaan

Menurut dr. Waluyo, gangguan pencernaan sering muncul karena perubahan pola makan yang drastis selama Ramadhan hingga momen Idul Fitri. Biasanya, konsumsi makanan tinggi lemak meningkat sementara asupan serat menurun drastis.

“Untuk menghindari sembelit harus diimbangi dengan sayuran dan buah. Serat penting supaya tidak terjadi gangguan buang air besar,” ujar dr. Waluyo.

Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada ini menekankan pentingnya menjaga komposisi makanan yang seimbang di rumah selama Lebaran. Meski terbuai dengan hidangan khas Lebaran yang menggoda, konsumsi sayuran dan buah tetap harus diprioritaskan untuk menjaga fungsi pencernaan.

Pengendalian Porsi Makan dan Perhitungan Kalori

Selain komposisi makanan, pengendalian porsi juga menjadi faktor kunci. Sebagai contoh, makanan pelengkap seperti kerupuk yang sering dianggap ringan ternyata mengandung karbohidrat yang cukup tinggi.

“Sudah makan nasi, lalu tambah kerupuk. Itu tetap tambahan karbohidrat. Kalau tidak dihitung kalorinya, gula darah pasti naik,” jelas dr. Waluyo.

Menurutnya, masyarakat tidak perlu sepenuhnya menghindari makanan tertentu, termasuk kerupuk. Namun, konsumsi harus dibatasi agar tidak berlebihan.

  • Makan satu kerupuk tidak masalah, tapi jangan sampai dua atau tiga.
  • Semua jenis makanan boleh dinikmati asal porsinya terukur.

Selain itu, dr. Waluyo mengingatkan bahwa kapasitas lambung manusia terbatas. Idealnya, lambung hanya diisi sepertiga makanan padat, sepertiga cairan, dan sepertiga ruang udara agar proses pencernaan berjalan optimal.

Jika lambung terlalu penuh, risiko gangguan seperti rasa begah dan kenaikan gula darah pun meningkat.

Manfaat Puasa Syawal untuk Pemulihan Metabolik

Selain menjaga pola konsumsi, dr. Waluyo juga menyoroti manfaat puasa Syawal setelah Lebaran. Puasa ini dipercaya membantu tubuh melakukan proses detoksifikasi alami terhadap sisa metabolit dari makanan berlebihan saat Lebaran.

“Saat seseorang berpuasa selama 8 hingga 12 jam, tubuh melakukan proses detoksikasi alami. Setelah 12 jam, tubuh seperti mengalami proses penyegaran kembali,” jelasnya.

Menurut dr. Waluyo, puasa Syawal dapat dimanfaatkan untuk menyeimbangkan kembali metabolisme tubuh dan mendukung kesehatan secara keseluruhan setelah periode konsumsi berlebih.

Kesadaran Diri Kunci Utama Hindari Berlebihan

Meski demikian, dokter ini menegaskan bahwa kunci utama adalah kesadaran diri dalam mengendalikan porsi makan saat bersilaturahmi. Tidak perlu merasa tidak enak menolak makanan tambahan jika sudah merasa cukup.

“Jangan karena ditawari tambah lalu tidak enak menolak. Cukup secukupnya. Itu yang penting,” pungkas dr. Waluyo.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, peringatan dr. Waluyo ini sangat relevan mengingat momen Lebaran identik dengan konsumsi makanan berlemak, tinggi gula, dan kalori berlebihan yang berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan pencernaan dan metabolik. Banyak masyarakat yang tanpa sadar mengabaikan pola makan sehat karena tradisi dan kebiasaan sosial yang kuat.

Fenomena ini memerlukan pendekatan edukasi yang lebih intensif dari pemerintah dan pelaku kesehatan untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya konsumsi seimbang dan pengendalian porsi selama Lebaran. Puasa Syawal sebagai metode pemulihan metabolik juga merupakan game-changer yang perlu lebih digalakkan sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehat.

Ke depan, kita perlu mewaspadai potensi meningkatnya kasus diabetes dan gangguan pencernaan pasca-Lebaran bila kesadaran menjaga pola konsumsi tidak ditingkatkan. Pembaca disarankan untuk terus memantau informasi kesehatan terbaru dan menerapkan anjuran medis agar Lebaran tetap menyenangkan tanpa mengorbankan kesehatan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad