Harga Minyak Turun Drastis ke US$87 Setelah Rumor Perang Iran Mereda

Mar 11, 2026 - 13:30
 0  5
Harga Minyak Turun Drastis ke US$87 Setelah Rumor Perang Iran Mereda

Harga minyak dunia jatuh tajam ke level US$87 per barel pada perdagangan Rabu (11/3/2026), setelah beberapa hari mengalami volatilitas ekstrem yang jarang terlihat sejak krisis energi global beberapa tahun lalu. Penurunan ini dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya rumor bahwa perang antara Amerika Serikat dan Iran akan segera berakhir.

Ad
Ad

Volatilitas Harga Minyak Akibat Ketegangan Timur Tengah

Dalam beberapa hari terakhir, harga minyak sempat melonjak drastis. Pada 9 Maret, harga minyak Brent menyentuh US$98,96 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencapai US$94,77 per barel. Bahkan pada perdagangan intraday awal pekan, harga minyak sempat menembus US$119 per barel, level tertinggi sejak 2022.

Namun, meredanya konflik dan pernyataan optimistis dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyebut perang dengan Iran bisa berakhir lebih cepat dari perkiraan, memicu aksi ambil untung besar-besaran di pasar. Akibatnya, harga minyak anjlok lebih dari 11% dalam sehari, penurunan terdalam sejak 2022.

Pengaruh Rencana Pelepasan Cadangan Minyak Darurat Dunia

Selain sentimen perang yang mulai mereda, pasar minyak juga dikejutkan oleh kabar dari International Energy Agency (IEA). Melansir Reuters, IEA dikabarkan tengah mengusulkan pelepasan cadangan minyak strategis terbesar dalam sejarah organisasi tersebut untuk menutup potensi gangguan pasokan akibat perang di Iran.

Jika jadi direalisasikan, volume pelepasan cadangan ini bisa melampaui 182 juta barel yang pernah dilepas pada 2022 saat invasi Rusia ke Ukraina mengguncang pasar energi global. Rencana tersebut tengah dibahas oleh para pemimpin negara maju, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dijadwalkan menggelar pertemuan virtual dengan para pemimpin G7.

Gangguan Pasokan dan Risiko Jalur Energi Selat Hormuz

Meski ada tanda-tanda mereda, gangguan pasokan minyak masih terus terjadi. Contohnya, serangan drone yang menyebabkan kebakaran di kompleks kilang Ruwais milik perusahaan minyak Abu Dhabi, yang memaksa fasilitas tersebut berhenti sementara. Insiden ini menambah risiko terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk.

Fokus utama pasar tetap pada jalur distribusi energi paling krusial dunia, Selat Hormuz. Militer Amerika Serikat menyatakan telah menghancurkan 16 kapal Iran yang diduga digunakan untuk menebar ranjau di perairan tersebut. Washington juga mengingatkan bahwa ranjau tersebut harus segera dibersihkan agar jalur pelayaran tetap aman.

Konsultan energi Wood Mackenzie memperkirakan, perang di kawasan Teluk berpotensi memangkas suplai minyak dan produk minyak hingga 15 juta barel per hari dari pasar global. Dalam skenario gangguan berkepanjangan, harga minyak bahkan bisa terdorong menuju US$150 per barel.

Untuk menanggulangi risiko ini, negara-negara produsen seperti Arab Saudi mulai meningkatkan pengiriman melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Namun, volume tambahan tersebut masih belum cukup untuk menggantikan berkurangnya aliran minyak dari jalur Hormuz.

Permintaan Minyak Masih Kuat di Tengah Ketidakpastian

Dari sisi permintaan, data menunjukkan konsumsi energi tetap kuat. Berdasarkan data American Petroleum Institute yang dikutip Reuters, persediaan minyak mentah, bensin, dan distilat di Amerika Serikat turun pada pekan lalu. Penurunan stok ini menjadi indikator bahwa pasar minyak masih didukung oleh permintaan yang solid meski harga mengalami fluktuasi.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, penurunan harga minyak yang tajam setelah lonjakan ekstrem mencerminkan bagaimana pasar energi global sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Sentimen perang yang mereda memberikan ruang bagi aksi ambil untung dan koreksi harga, namun potensi gangguan pasokan masih mengintai, terutama di jalur vital Selat Hormuz.

Rencana pelepasan cadangan minyak strategis oleh IEA merupakan langkah penting untuk meredam gejolak harga dan menjaga stabilitas pasar. Namun, langkah ini juga menunjukkan betapa rapuhnya ketahanan energi global terhadap konflik regional. Pasar harus tetap waspada terhadap kemungkinan eskalasi kembali yang dapat dengan cepat mengerek harga minyak ke level tinggi.

Ke depan, perhatian utama harus tertuju pada dinamika geopolitik di Teluk dan efektivitas koordinasi negara-negara produsen dalam menjaga pasokan. Perubahan arus distribusi minyak melalui pelabuhan alternatif juga menjadi indikator penting yang akan memengaruhi harga minyak dunia. Pembaca disarankan untuk terus mengikuti perkembangan terbaru agar dapat memahami dampaknya secara menyeluruh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad