FKUI Kembangkan Metode Diagnostik Genetik Percepat Penanganan Penyakit Langka
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) terus berinovasi dengan mengembangkan metode diagnostik genetik sebagai solusi percepatan diagnosis dan penanganan penyakit langka sejak tahap awal. Pengembangan ini diinisiasi melalui Human Genetic Research Cluster (HGRC) di IMERI FKUI yang fokus pada berbagai teknik genetika canggih.
Inovasi Diagnostik Genetik untuk Penyakit Langka
Ketua HGRC IMERI FKUI, Prof. Damayanti Rusli Sjarif, menjelaskan bahwa pihaknya mengembangkan beragam metode diagnostik genetika, termasuk analisis mutasi gen, microarray, dan pemeriksaan genetik lainnya untuk mendukung identifikasi penyakit genetik secara dini.
“Melalui Human Genetic Research Cluster di IMERI FKUI, kami terus mengembangkan berbagai metode diagnostik genetik untuk mendukung identifikasi penyakit genetik sejak dini, termasuk analisis mutasi gen, microarray, serta pemeriksaan genetik lainnya,” ujar Prof. Damayanti.
Kolaborasi dengan mitra laboratorium di Asia dan dunia juga memperkuat riset genomik FKUI melalui teknologi next-generation sequencing (NGS), sehingga informasi genetika pasien dapat diperoleh lebih cepat dan komprehensif, memberikan manfaat besar bagi tenaga kesehatan dalam menetapkan diagnosis dan terapi.
Tantangan Diagnosis Penyakit Langka di Indonesia
Salah satu kendala utama dalam penanganan penyakit langka di Indonesia adalah keterbatasan fasilitas pemeriksaan genetika yang menyebabkan keterlambatan diagnosis. Selama bertahun-tahun, banyak pasien harus mengirimkan sampel ke luar negeri untuk analisis genetika komprehensif, sehingga waktu diagnosis menjadi lebih lama.
Prof. Damayanti menegaskan pentingnya pengembangan metode diagnostik ini sebagai langkah strategis untuk mempercepat proses diagnosis penyakit langka yang selama ini menjadi tantangan besar.
Komitmen FKUI dalam Riset dan Pelayanan Kedokteran Presisi
Dekan FKUI, Prof. Dr. Anna Rozaliyani, menekankan bahwa riset dan ilmu pengetahuan harus hadir sebagai harapan bagi pasien dan keluarga penderita penyakit langka. Ia mengingatkan bahwa di balik istilah "langka" terdapat manusia dengan perjalanan diagnosis yang panjang dan keterbatasan akses diagnostik serta terapi.
“Hari Penyakit Langka mengingatkan kita bahwa dibalik istilah langka selalu ada manusia, keluarga, dan pasien yang memiliki harapan besar. Banyak dari mereka harus melalui perjalanan diagnosis yang panjang serta menghadapi keterbatasan diagnostik maupun terapi, sehingga dukungan yang lebih luas sangat dibutuhkan. Di sinilah ilmu pengetahuan harus hadir sebagai harapan,” ujar Prof. Anna.
Melalui HGRC IMERI FKUI, pihaknya berkomitmen menjadikan institusi ini sebagai pusat riset nasional dan center of excellence untuk berbagai topik riset, termasuk riset genetik dan kedokteran presisi di Indonesia.
IMEI FKUI juga terus memperkuat kapasitas diagnostik genetika guna mendukung identifikasi penyakit langka dengan lebih cepat dan akurat, sehingga pelayanan kesehatan bagi pasien penyakit langka dapat meningkat.
Kesadaran Publik dan Dukungan Nasional
Peringatan Hari Penyakit Langka yang jatuh setiap 28 Februari dimanfaatkan oleh IMERI FKUI bersama Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Yayasan MPS, dan Penyakit Langka Indonesia untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap penyakit langka di Tanah Air.
Tema global tahun ini, "Equity Throughout Life: Representing Every Person with Rare Disease", menekankan pentingnya kesetaraan layanan kesehatan sepanjang siklus hidup bagi setiap individu dengan penyakit langka. Setiap pasien, mulai dari bayi hingga dewasa, berhak memperoleh diagnosis tepat, terapi memadai, serta dukungan sosial dan pembiayaan kesehatan yang setara.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, pengembangan metode diagnostik genetik oleh FKUI merupakan langkah krusial dalam memperbaiki ekosistem penanganan penyakit langka di Indonesia. Selama ini, keterbatasan fasilitas dan akses terhadap teknologi genetika membuat pasien harus menunggu lama untuk mendapatkan diagnosis yang tepat, yang pada akhirnya memperlambat penanganan dan mempengaruhi kualitas hidup pasien.
Dengan kolaborasi internasional dan penerapan teknologi next-generation sequencing, FKUI membuka peluang transformasi besar dalam bidang kedokteran presisi yang tidak hanya bermanfaat bagi pasien penyakit langka, tetapi juga dapat memperkuat posisi Indonesia dalam riset genomik global.
Ke depan, penting bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mendukung pengembangan fasilitas diagnostik genetika dan memperluas akses layanan ini ke seluruh lapisan masyarakat. Upaya ini akan mengurangi ketimpangan layanan kesehatan dan memberikan harapan nyata bagi ribuan pasien penyakit langka di Indonesia.
Terus ikuti perkembangan inovasi riset dan kebijakan kesehatan terbaru untuk mendukung kemajuan penanganan penyakit langka di tanah air.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0