Tradisi Lebaran di Indonesia Dikritik Pejabat Belanda: Ngutang Demi Baju Baru

Mar 12, 2026 - 11:28
 0  8
Tradisi Lebaran di Indonesia Dikritik Pejabat Belanda: Ngutang Demi Baju Baru

Lebaran di Indonesia adalah momen penuh kegembiraan dan tradisi, namun tahukah Anda bahwa pengeluaran untuk perayaan ini sering kali membengkak? Mulai dari ongkos mudik, kue kering, baju Lebaran baru, hingga amplop untuk sanak saudara, semuanya menjadi kebutuhan wajib saat Hari Raya Idulfitri. Tradisi ini bukan hanya berlangsung saat ini, melainkan sudah berlangsung selama ratusan tahun, bahkan sempat menjadi sorotan pejabat Belanda pada masa kolonial.

Ad
Ad

Sejarah Kritik Pejabat Belanda terhadap Tradisi Lebaran

Pada awal abad ke-20, seorang pejabat kolonial Belanda bernama Snouck Hurgronje mencatat kebiasaan unik masyarakat Indonesia, khususnya di Aceh dan Batavia, terkait tradisi Lebaran. Dalam karyanya Aceh di Mata Kolonialis (1906), ia mengungkapkan bahwa masyarakat Aceh lebih memilih membeli barang baru seperti baju dibanding membeli daging saat Lebaran. Hal ini karena di budaya Aceh, kasih sayang dan penghargaan suami kepada keluarga diukur dari kemampuan membeli barang seperti baju baru dan daging untuk hari raya.

Sementara itu, di Batavia (sekarang Jakarta), tradisi Lebaran juga diwarnai dengan pesta besar, hidangan khas, silaturahmi, pembelian pakaian baru, dan hiburan. Snouck mencatat bahwa pengeluaran untuk pakaian baru, petasan, dan makanan bisa lebih besar dibanding hari biasa karena masyarakat menganggap Lebaran sebagai hari istimewa yang wajib dirayakan secara meriah.

Kritik dan Kontroversi dari Pemerintah Kolonial

Dua pejabat kolonial, Stienmetz dan De Wolff, mengkritik kebiasaan ini dengan alasan pemborosan. Mereka menyoroti bahwa banyak pegawai pribumi yang mengadakan pesta Lebaran dengan modal dari utang, dan tidak jarang perayaan juga menggunakan dana kas negara, terutama saat pejabat seperti bupati menggelar acara di kantor pemerintah.

Atas dasar ini, keduanya sempat mengajukan larangan perayaan Idulfitri yang menggunakan kas negara, sesuai aturan kolonial yang melarang penggunaan dana publik untuk kegiatan yang dianggap tidak penting. Meski demikian, Snouck Hurgronje menolak pelarangan tersebut.

"Tidak ada alasan tepat untuk mengadakan imbauan agar membatasi perayaan Lebaran. Bahkan, dengan cara itu pun belum tentu orang akan dapat lebih membangkitkan hasrat berhemat," ujar Snouck, yang juga menjabat sebagai penasehat agama Islam.

Menurut Snouck, Lebaran sudah menjadi kebiasaan kuat umat Muslim di Indonesia dan pelarangan hanya akan merepotkan masyarakat.

Kenapa Tradisi Beli Baju Baru Jadi Fokus Utama?

Fakta bahwa pembelian baju baru jadi bagian penting tradisi Lebaran memiliki akar budaya yang kuat. Dalam konteks sosial, baju baru bukan sekadar pakaian, tapi simbol penghormatan, kebersamaan, dan kebahagiaan menyambut hari suci. Tradisi ini juga menjadi momen untuk menunjukkan status sosial dan kasih sayang dalam keluarga.

  • Simbol kasih sayang: Suami menunjukkan perhatian melalui pembelian barang untuk keluarga.
  • Simbol kebersamaan: Baju baru dipakai saat silaturahmi ke sanak saudara dan tetangga.
  • Penguat identitas budaya: Setiap daerah punya ciri khas pakaian Lebaran yang berbeda.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kritik pejabat kolonial Belanda terhadap tradisi Lebaran di Indonesia sebenarnya mencerminkan ketidaktahuan mereka terhadap makna sosial dan budaya yang melekat pada perayaan tersebut. Kebiasaan berutang demi baju baru dan pesta Lebaran bukan sekadar pemborosan, melainkan bagian dari ritual sosial yang memperkuat ikatan keluarga dan komunitas.

Namun, di era modern, kebiasaan ini juga menimbulkan tantangan, terutama soal pengelolaan keuangan keluarga. Fenomena ngutang demi baju baru atau kebutuhan Lebaran lainnya bisa berujung pada masalah ekonomi rumah tangga jika tidak dikelola dengan bijak. Oleh karena itu, masyarakat perlu menyesuaikan tradisi dengan kondisi ekonomi saat ini tanpa menghilangkan makna dan nilai budaya Lebaran.

Ke depan, penting bagi pemerintah dan komunitas untuk memberikan edukasi keuangan dan alternatif perayaan yang tetap menjaga semangat Lebaran tanpa harus membebani secara finansial. Pemahaman ini juga membantu menepis stigma negatif yang pernah dilontarkan oleh pejabat kolonial dan menguatkan kebanggaan atas tradisi asli Indonesia.

Kesimpulan

Meski sempat mendapat kritik keras dari pejabat Belanda pada masa kolonial, tradisi Lebaran di Indonesia, termasuk kebiasaan membeli baju baru dan menggelar pesta, tetap lestari hingga kini. Tradisi ini tidak hanya soal kebutuhan material, melainkan bagian penting dari identitas budaya dan sosial masyarakat Muslim di Indonesia. Tantangan saat ini adalah bagaimana menjaga tradisi tersebut tetap bermakna dan berkelanjutan secara ekonomi.

Selalu ikuti perkembangan dan tips mengelola keuangan Lebaran agar tradisi indah ini dapat dinikmati tanpa beban di masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad