Harga Saham Bank Longsor, Emiten Perbankan Kompak Gelar Buyback Triliunan
Sejumlah emiten perbankan di Indonesia tengah menghadapi tekanan harga saham yang terus menurun pada tahun 2026. Untuk merespons kondisi ini, beberapa bank besar secara kompak meluncurkan aksi buyback saham dengan nilai hingga triliunan rupiah. Meski langkah ini diambil untuk menstabilkan harga saham dan memperkuat kepercayaan investor, pergerakan harga saham masih menunjukkan tren lesu.
Buyback Saham PT Allo Bank Indonesia (BBHI) Senilai Rp 200 Miliar
PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) menjadi yang terbaru mengumumkan rencana pembelian kembali saham dengan nilai maksimal Rp 200 miliar. Buyback ini dijadwalkan berlangsung antara 1 Juli hingga 1 September 2026. Manajemen Allo Bank menyatakan bahwa aksi ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga saham agar lebih mencerminkan kinerja fundamental bank.
"Buyback ini sekaligus untuk menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan dalam usaha Perseroan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan," tulis manajemen Allo Bank dalam keterbukaan informasi pada 30 Juni 2026.
Namun, hingga penutupan sesi pertama perdagangan pada Kamis (2/7/2026), harga saham BBHI masih stagnan di level Rp 935, mencerminkan pelemahan sebesar 37,25% sejak awal tahun (year-to-date/ytd).
Buyback Triliunan Rupiah dari Bank Besar BBCA dan BMRI
Sebelum BBHI, dua bank besar yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sudah melakukan aksi buyback saham dengan nilai yang jauh lebih besar. BBCA mengalokasikan dana maksimal Rp 5 triliun untuk buyback saham pada periode 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027. Sementara BMRI menetapkan buyback senilai maksimal Rp 1,17 triliun.
Meski dana buyback tersebut tergolong besar, harga saham kedua bank ini belum menunjukkan perbaikan signifikan. Pada sesi pertama perdagangan 2 Juli 2026, harga saham BBCA ditutup pada level Rp 5.820 atau turun 27,86% ytd. Sedangkan BMRI berada di harga Rp 3.930 dengan penurunan sebesar 22,94% ytd.
Pergerakan Harga Saham: Menyentuh Titik Terendah, Namun Mulai Bergerak Naik
Meskipun harga saham masih dalam tren negatif, buyback ini sedikit banyak membantu kedua bank meninggalkan titik terendahnya. BBCA sempat mencatat harga terendah selama lima tahun terakhir di Rp 4.850, sedangkan BMRI mencapai titik terendah dalam tiga tahun terakhir di Rp 3.710 pada 8 Juni 2026.
- Buyback saham diharapkan dapat meningkatkan permintaan dan memberikan sinyal positif kepada pasar.
- Langkah ini juga bertujuan memperkuat struktur permodalan dan mengurangi jumlah saham yang beredar.
- Namun, aksi ini tidak bisa secara langsung menahan tekanan eksternal yang mempengaruhi harga saham perbankan.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, aksi buyback yang dilakukan oleh bank-bank besar ini merupakan langkah strategis untuk menahan laju penurunan harga saham yang sangat dalam. Namun, buyback bukanlah solusi jangka panjang jika tidak diikuti oleh perbaikan kinerja fundamental dan sentimen pasar yang positif.
Tekanan dari kondisi makroekonomi global, suku bunga, dan risiko kredit yang masih membayangi sektor perbankan menjadi faktor utama yang menyebabkan harga saham bank masih lesu. Investor perlu mewaspadai bahwa harga saham bisa tetap volatil meskipun buyback terus dilakukan.
Ke depan, yang patut dicermati adalah bagaimana bank-bank ini mampu mengoptimalkan pertumbuhan kredit, meningkatkan efisiensi operasional, dan menjaga kualitas aset agar dapat memperbaiki persepsi pasar. Selain itu, perkembangan kebijakan moneter dan kondisi ekonomi global juga akan sangat menentukan arah pergerakan harga saham perbankan.
Untuk informasi lebih lengkap dan update terkini, Anda bisa membaca laporan lengkapnya di Kontan.co.id serta mengikuti berita dari CNN Indonesia Ekonomi.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0