90% Pengidap Hepatitis di Indonesia Tidak Sadar, Kemenkes Targetkan Eliminasi 2030
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia mengungkap fakta mengejutkan bahwa sekitar 90% pengidap hepatitis tidak menyadari dirinya terinfeksi. Kondisi ini menjadi tantangan besar dalam upaya pemerintah untuk mengeliminasi hepatitis pada tahun 2030.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni M.A., menyatakan bahwa hepatitis B dan C bisa berkembang tanpa gejala, sehingga banyak orang yang tidak tahu sedang terinfeksi. Padahal, kedua jenis hepatitis ini berpotensi menyebabkan penyakit serius seperti sirosis hati dan kanker hati yang bisa berujung pada kematian.
Prevalensi Hepatitis di Indonesia Masih Tinggi
Berdasarkan data Kemenkes, Indonesia menempati peringkat keempat dunia untuk jumlah infeksi hepatitis B terbanyak dan peringkat keenam untuk hepatitis C. Prevalensi hepatitis B di Indonesia mencapai 4,3%, sementara hepatitis C sebesar 0,4%. Penularan virus hepatitis ini dapat terjadi melalui beberapa cara:
- Kontak dengan darah yang terinfeksi
- Hubungan seksual
- Penggunaan jarum suntik yang tidak steril
- Penularan dari ibu ke bayi, khususnya pada hepatitis B
"Perlu kita catat bersama bahwa sekitar 90% daripada orang-orang yang menderita hepatitis tidak tahu dirinya terinfeksi virus tersebut," ujar Andi dalam temu media Hari Hepatitis Sedunia 2026 secara daring pada 27 Juli 2026.
Strategi Kemenkes untuk Eliminasi Hepatitis 2030
Untuk mengatasi tantangan ini, Kemenkes menargetkan eliminasi hepatitis pada 2030 dengan mengandalkan empat strategi utama:
- Pencegahan melalui vaksinasi hepatitis B pada bayi baru lahir dan skrining ibu hamil.
- Penemuan kasus dan surveilans untuk meningkatkan deteksi dini.
- Penanganan kasus dengan perluasan akses pemeriksaan dan pengobatan.
- Promosi kesehatan dan perilaku hidup sehat di masyarakat.
Sejak 2025, pemerintah mengintegrasikan pemeriksaan hepatitis B dan C ke dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk memperluas akses deteksi dini di masyarakat. Namun, cakupan pemeriksaan ibu hamil masih menjadi kendala, dengan hanya sekitar 71,6% ibu hamil yang menjalani pemeriksaan hepatitis B hingga 2025, dan 1,36% di antaranya dinyatakan reaktif.
"Cakupan pemeriksaan di sejumlah wilayah Indonesia Timur juga masih relatif rendah dibanding daerah lain," tambah Andi.
Kemajuan dan Tantangan Pengendalian Hepatitis
Komite Ahli Hepatitis Kemenkes, Prof. David Handojo Muljono, menyatakan bahwa Indonesia sudah menunjukkan kemajuan signifikan dalam pengendalian hepatitis B. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hepatitis B turun menjadi 2,4% di seluruh kelompok usia dan hanya 0,1% pada balita.
"Kita boleh berbangga bahwa untuk balita, kita sudah mencapai target WHO 2030," ujar David.
Meski begitu, Prof. David mengingatkan bahwa laporan terbaru WHO menunjukkan sebagian besar negara, termasuk Indonesia, masih menghadapi tantangan besar untuk mencapai eliminasi hepatitis secara menyeluruh pada 2030. Oleh sebab itu, perluasan akses layanan kesehatan, peningkatan deteksi dini, dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, fakta bahwa 90% pengidap hepatitis tidak menyadari infeksinya menunjukkan lemahnya sistem deteksi dan edukasi masyarakat mengenai hepatitis. Meski pemerintah gencar melakukan vaksinasi dan skrining, rendahnya kesadaran dan akses pemeriksaan terutama di wilayah timur Indonesia menjadi hambatan serius.
Hal ini berpotensi membuat kasus hepatitis yang sebenarnya jauh lebih tinggi dari data resmi, sehingga risiko komplikasi serius seperti sirosis dan kanker hati meningkat. Oleh karena itu, upaya eliminasi hepatitis 2030 tidak hanya memerlukan strategi medis, tapi juga edukasi masif dan kebijakan yang memastikan pemerataan akses layanan di seluruh nusantara.
Ke depan, publik perlu mengawasi perkembangan cakupan skrining ibu hamil dan program Cek Kesehatan Gratis yang terintegrasi, karena ini adalah garda terdepan dalam mendeteksi infeksi hepatitis sejak dini. Kolaborasi antara pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat menjadi krusial untuk menurunkan beban penyakit ini.
Untuk informasi lengkap dapat dibaca melalui sumber resmi CNBC Indonesia serta laporan WHO terkait hepatitis global.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0