Netanyahu Terpojok, Bersaing Ketat dengan Eks Sekutu Gadi Eisenkot di Pemilu Israel 2026

Jul 27, 2026 - 17:00
 0  3
Netanyahu Terpojok, Bersaing Ketat dengan Eks Sekutu Gadi Eisenkot di Pemilu Israel 2026

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi tantangan sengit dalam Pemilu Israel yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026. Kali ini, pesaing utamanya bukan hanya dari pihak oposisi biasa, melainkan mantan sekutu sekaligus eks Kepala Staf Militer Israel, Gadi Eisenkot.

Ad
Ad

Persaingan antara Netanyahu dan Eisenkot ini menarik perhatian publik dan analis politik karena menandai pergeseran dinamika politik Israel yang signifikan. Elektabilitas Eisenkot yang terus meningkat membuat posisi Netanyahu dianggap mulai terdesak menjelang pemilu.

Elektabilitas Gadi Eisenkot Melesat, Partai Yashar Unggul atas Likud

Gadi Eisenkot, yang sebelumnya dikenal sebagai Kepala Staf Militer Israel dan anggota kabinet perang di bawah pemerintahan Netanyahu, kini membentuk partai politik baru bernama Yashar. Sebuah survei yang dirilis oleh media Israel Channel 12 menunjukkan bahwa partai Yashar unggul dibandingkan partai Likud milik Netanyahu, dengan perolehan 23 kursi berbanding 22 kursi.

Survei tersebut juga mengungkapkan bahwa 43 persen responden menganggap Eisenkot sebagai kandidat paling tepat untuk memimpin Israel sebagai perdana menteri. Sebaliknya, hanya 34 persen yang yakin bahwa Netanyahu akan tetap memimpin.

Visi dan Misi Eisenkot dalam Kampanye Politik

Dalam kampanyenya, Eisenkot menegaskan fokus pada tiga pilar utama, yakni:

  • Memulihkan keamanan nasional
  • Menggalang persatuan sosial
  • Memperkuat lembaga demokrasi

Selain itu, Eisenkot berjanji untuk membentuk komisi penyelidikan atas serangan dadakan Hamas yang memicu agresi militer Israel di Gaza. Ia juga berkomitmen memperjuangkan undang-undang wajib militer universal yang akan memperluas kewajiban militer bagi warga Yahudi ultra-Ortodoks dan warga Arab di Israel, sebuah kebijakan yang selama ini kontroversial.

Lebih jauh, Eisenkot menegaskan dukungannya terhadap:

  • Independensi peradilan
  • Supremasi hukum
  • Hak-hak minoritas
  • Kebebasan pers

Menurutnya, langkah-langkah ini penting untuk memastikan Israel tetap menjadi negara Yahudi yang demokratis, kuat, maju, dan aman.

Latar Belakang dan Popularitas Eisenkot

Popularitas Eisenkot juga didorong oleh latar belakang pribadinya yang dianggap berbeda dari elit politik Israel. Ia berasal dari keluarga imigran Maroko dan tumbuh besar di daerah pinggiran, bukan di kalangan elite politik atau militer. Selain itu, simpati publik meningkat setelah tragedi keluarga Eisenkot, dimana putranya, Gal, dan dua keponakannya meninggal dalam pertempuran di Gaza.

Kemunculan Eisenkot sebagai tokoh politik baru yang menantang Netanyahu menjadi sorotan media dan analis internasional, termasuk CNN Indonesia. Banyak yang memandang persaingan ini sebagai pertaruhan besar bagi masa depan politik Israel, apalagi dengan latar belakang kebijakan keamanan dan hubungan luar negeri yang sangat kompleks.

Doktrin Dahiya dan Warisan Militer Eisenkot

Saat menjabat sebagai Kepala Staf Militer, Eisenkot dikenal mengembangkan "Doktrin Dahiya", sebuah strategi militer yang menyatakan bahwa musuh seperti Hizbullah menggunakan infrastruktur sipil dan rumah warga sebagai tempat penyimpanan senjata dan logistik. Doktrin ini mengizinkan Israel melakukan serangan besar-besaran pada pusat-pusat populasi musuh sebagai respons yang proporsional.

Strategi ini menjadi kontroversial dan sering mendapat sorotan kritik internasional, namun tetap menjadi bagian dari warisan militer Eisenkot yang membentuk persepsi keamanan nasional Israel.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, persaingan antara Netanyahu dan Eisenkot bukan sekadar adu popularitas, melainkan mencerminkan pergeseran signifikan dalam lanskap politik Israel. Netanyahu, yang selama ini dianggap sosok dominan dan nyaris tak tergoyahkan, kini harus menghadapi lawan yang memiliki rekam jejak militer kuat sekaligus platform politik yang mengusung reformasi sosial dan demokrasi.

Situasi ini bisa membuka peluang bagi perubahan kebijakan dalam negeri dan luar negeri Israel, terutama soal hubungan dengan Palestina dan kebijakan keamanan. Eisenkot yang menawarkan pendekatan berbeda terhadap masalah militer dan demokrasi dapat menggerus basis dukungan Netanyahu yang selama ini mengandalkan politik keras dan nasionalisme konservatif.

Para pemilih Israel pun patut mengamati bagaimana debat dan kampanye kedua tokoh ini berjalan, terutama karena hasil pemilu akan sangat menentukan arah negara di tengah ketegangan regional yang terus bergejolak.

Untuk perkembangan terbaru seputar pemilu dan dinamika politik di Israel, terus ikuti berita dari sumber terpercaya seperti CNN Indonesia dan media internasional lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad