Kusta di Indonesia: Antara Cinta, Stigma, dan Upaya Eliminasi Penyakit Tropis

Mar 1, 2026 - 10:49
 0  3
Kusta di Indonesia: Antara Cinta, Stigma, dan Upaya Eliminasi Penyakit Tropis

Kusta atau penyakit lepra sering disalahpahami sebagai kutukan atau penyakit turun-temurun, padahal ini adalah penyakit infeksi bakteri yang bisa disembuhkan. Memahami kusta dari segala aspek menjadi kunci utama untuk menghapus stigma dan diskriminasi yang selama ini memperburuk penanganannya di Indonesia.

Ad
Ad

Perjalanan Rusdan Sidiqi Melawan Kusta

Rusdan Sidiqi, pria berusia 25 tahun, mengalami gejala kusta sejak 2016, namun baru didiagnosis secara tepat pada 2023. Awalnya, ia mengalami lesi putih mati rasa dan pembengkakan, namun keluarganya justru mempercayai ritual mistis sebagai pengobatan.

“Disuruh minum air jampi, mandi kembang malam jam 02.00-an. Di desa saya di Tangerang itu belum pernah ada yang terkena kusta dari generasi ke generasi,” ujar Rusdan.

Rusdan harus menemui enam orang dukun berbeda yang malah menuduhnya terkena kutukan atau pelet. Ia pun sempat mendapat diagnosa salah di puskesmas dan klinik seperti dermatitis dan eksim. Baru setelah tujuh tahun, dokter spesialis kulit memastikan kusta yang dideritanya.

Mengonsumsi Multi-Drug Therapy (MDT) menjadi perjuangan beratnya karena efek samping obat yang parah, hingga harus menjalani rawat inap hingga 50 kali. Namun, tekad Rusdan kuat untuk sembuh dan tidak menularkan penyakit ini ke orang terdekatnya.

Stigma dan Diskriminasi Masih Menghantui Penderita

Selain efek fisik, Rusdan juga menghadapi stigma sosial yang membuatnya kehilangan pekerjaan dan merasa dikucilkan. Ia pun aktif membentuk komunitas penyintas kusta untuk edukasi dan dukungan sesama penderita.

“Ada yang dibuang keluarganya, padahal kusta tidak secepat itu menular. Jika sudah minum obat, penularan bisa dicegah dan hubungan keluarga tetap aman,” jelas Rusdan.

dr. Christina Widaningrum dari NLR Indonesia menambahkan bahwa stigma membuat penderita merasa malu, stres, dan depresi sehingga enggan mencari pengobatan.

Pentingnya Edukasi dan Kolaborasi Penanganan Kusta

Menurut Guru Besar Dermatologi FKUI Sri Linuwih Susetyo Wardhani Menaldi, kusta adalah penyakit bakteri Mycobacterium leprae yang menular dengan kontak erat dan lama. Masa inkubasi bisa sampai 2-5 tahun atau lebih.

  • Faktor risiko penularan adalah tinggal serumah atau kontak sosial intens dengan penderita belum diobati.
  • Obat MDT sudah tersedia gratis sejak 1982 dan efektif memutus rantai penularan.
  • Namun, stigma yang kuat dan diskriminasi menjadi hambatan terbesar eliminasi kusta.
  • Perlu kolaborasi lintas sektor seperti pendidikan dan ketenagakerjaan agar penderita tidak kehilangan haknya.

Kementerian Kesehatan Indonesia juga aktif melakukan skrining masif dan edukasi melalui pendekatan tokoh agama agar stigma bisa diputus.

“Ajak ulama, kiai, dan pendeta untuk membicarakan kusta dalam khotbah agar stigma hilang,” ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, perjalanan Rusdan dan fakta epidemiologis kusta di Indonesia menggambarkan bahwa penyakit ini bukan sekadar masalah medis, tapi juga sosial yang kompleks. Stigma yang melekat pada penderita menghambat mereka untuk mendapatkan penanganan yang tepat sehingga penyakit bisa berkembang parah dan menular ke lingkungan.

Upaya pemerintah dan organisasi non-pemerintah dalam edukasi dan skrining harus terus diperkuat, terutama dengan menghadirkan pendekatan budaya dan agama yang mampu mengubah pola pikir masyarakat. Selain itu, sistem pelayanan kesehatan harus responsif dan tidak menambah beban bagi penderita, misalnya dengan memudahkan akses perawatan tanpa diskriminasi.

Kita harus menempatkan cinta dan empati sebagai fondasi bersama untuk menghapus stigma, sehingga penderita merasa diterima dan termotivasi untuk sembuh. Ini bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga hak asasi manusia yang harus dijaga demi masa depan Indonesia tanpa kusta.

Terus ikuti perkembangan penanganan kusta dan dukung kampanye anti stigma agar Indonesia makin dekat dengan eliminasi total penyakit ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad