Dua Kapal Tanker Saudi Diserang, Trump Ultimatum Iran dan Houthi di Laut Merah

Jul 24, 2026 - 22:31
 0  2
Dua Kapal Tanker Saudi Diserang, Trump Ultimatum Iran dan Houthi di Laut Merah

Insiden dua kapal tanker milik Arab Saudi yang diserang di Laut Merah kembali memanas dengan ancaman tegas dari Presiden AS Donald Trump kepada Iran dan kelompok Houthi. Trump memperingatkan akan memberikan ultimatum keras kepada kedua pihak yang dianggap bertanggung jawab atas serangan tersebut, sekaligus mengancam akan menggunakan dana aset Iran yang dibekukan untuk membayar ganti rugi kerusakan kapal.

Ad
Ad

Ancaman Tegas Trump kepada Iran dan Houthi

Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat akan meminta pertanggungjawaban Iran atas aksi Houthi, yang menurutnya adalah proksi Iran di Yaman. Dalam unggahan di platform Truth Social, ia menyebutkan bahwa serangan terhadap dua kapal tanker Arab Saudi adalah pelanggaran serius yang tidak akan dibiarkan.

"Jika mereka melakukan ini lagi, AS akan meminta pertanggungjawaban Iran, karena Houthi adalah surrogat dan/atau proksi Iran, dan hukuman militer besar akan dijatuhkan kepada Iran dan, tentu saja, kepada Houthi itu sendiri," kata Trump.

Selain itu, Trump juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap Houthi yang selama ini dianggap bertindak profesional dan cerdas, namun kini kembali melakukan serangan yang mengancam stabilitas kawasan.

Lebih lanjut, Trump menyatakan bahwa semua kerusakan yang dialami kapal-kapal kargo akan dibayar menggunakan aset Iran yang dibekukan oleh Amerika Serikat. Namun, ia tidak menjelaskan secara rinci mekanisme penggunaan dana tersebut.

Respon Iran dan Ancaman Penyitaan Aset

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menanggapi ancaman Trump dengan tegas melalui platform X. Ia memperingatkan bahwa penyitaan aset suatu negara untuk membayar klaim lain dianggap sebagai preseden berbahaya yang dapat mengguncang keamanan internasional.

"Menyita aset suatu negara untuk membayar klaim lain yang tidak berkaitan merupakan preseden yang sangat berbahaya. Kekacauan yang akan terjadi tidak akan indah ataupun damai," tulis Araqchi.

Pengiriman Komandan IRGC dan Perlengkapan Militer ke Yaman

Ancaman Trump muncul bersamaan dengan laporan dari Reuters yang mengungkap bahwa Iran secara diam-diam telah mengirim komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) beserta perlengkapan militer ke Yaman pada 13 Juli 2026. Pengiriman ini dilakukan melalui penerbangan Mahan Air dari Teheran menuju Yaman.

Dua sumber Iran yang mengetahui masalah ini menyebutkan bahwa antara 10 hingga 21 personel IRGC termasuk komandan senior berada dalam penerbangan tersebut, yang awalnya hendak mendarat di Sanaa namun dialihkan ke pelabuhan Hodeidah setelah bandara Sanaa diserang oleh pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.

Salah satu sumber menjelaskan, "Komandan IRGC pergi ke sana untuk mendukung operasi Houthi dan memberikan pelatihan tentang sistem rudal baru". Selain itu, dikabarkan bahwa Iran juga mengirim emas dalam penerbangan tersebut untuk mendanai aktivitas Houthi.

Blokade dan Ancaman Terhadap Jalur Perdagangan Laut Merah

Hanya tiga hari setelah kedatangan komandan IRGC, kelompok Houthi mengumumkan blokade angkatan laut terhadap Arab Saudi sebagai respons atas pengeboman bandara Sanaa pada 13 Juli oleh Saudi. Langkah ini menandai berakhirnya gencatan senjata selama empat tahun antara Riyadh dan Houthi.

Blokade tersebut mengancam jalur perdagangan maritim penting di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb, yang merupakan jalur vital bagi pasokan energi global. Tak hanya itu, Houthi juga mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Saudi, menambah ketegangan di kawasan.

Kargo Militer dan Analisis Keamanan

Menteri Informasi Yaman yang didukung Saudi, Moammar al-Iryani, mengonfirmasi kedatangan personel IRGC dan perlengkapan militer, yang sebagian besar terdiri dari komponen rudal jarak pendek dan menengah serta drone. Komponen ini diyakini mirip dengan sistem senjata yang sebelumnya digunakan dalam serangan ke Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Analis keamanan Mzahem Alsaloum menegaskan bahwa pengiriman tersebut bertujuan memperkuat kemampuan militer Houthi agar dapat mengancam keamanan maritim internasional di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb.

Penolakan Houthi dan Klaim Iran

Pejabat media Houthi, Abdel Rahman al-Ahnomi, membantah klaim pengiriman militer Iran dan menyebutnya sebagai "kebohongan dan fabrikasi". Ia menegaskan bahwa semua penumpang pesawat adalah warga sipil dan menolak anggapan bahwa Houthi adalah proksi Iran, dengan menyatakan bahwa kelompoknya mampu mengembangkan senjata sendiri.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa penerbangan 13 Juli tersebut membawa delegasi Houthi yang menghadiri pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dibunuh, serta warga Yaman yang menerima perawatan medis di Iran.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, serangan terhadap kapal tanker Saudi dan keterlibatan langsung Iran melalui pengiriman komandan IRGC menunjukkan eskalasi signifikan di kawasan yang selama ini menjadi titik panas geopolitik. Ancaman Trump untuk menggunakan kekuatan militer dan menyita aset Iran menandai peningkatan tekanan diplomatik yang bisa memperburuk konflik yang sudah berlangsung lama.

Lebih jauh, blokade yang diberlakukan Houthi terhadap jalur perairan penting berpotensi mengganggu pasokan energi global dan memperparah ketegangan antara negara-negara di Timur Tengah. Ini bukan hanya soal perang proxy antara Iran dan Arab Saudi, tapi juga ancaman nyata terhadap keamanan maritim internasional.

Ke depan, perhatian harus difokuskan pada bagaimana komunitas internasional, terutama negara-negara besar, merespons konflik ini. Apakah akan ada upaya diplomasi yang efektif atau justru eskalasi militer yang lebih luas. Selain itu, pengawasan ketat terhadap pengiriman militer dan aktivitas kelompok proksi di Yaman wajib ditingkatkan untuk mencegah konflik yang lebih besar.

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat membaca berita lengkapnya di DetikNews dan peliputan mendalam Reuters terkait pengiriman militer Iran ke Yaman.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad