Pramono Anung Sindir Tokoh, Dede Budhyarto Sebut 3 Figur yang Justru Jadi Besar Setelah Tinggalkan Partai

Jul 23, 2026 - 22:30
 0  2
Pramono Anung Sindir Tokoh, Dede Budhyarto Sebut 3 Figur yang Justru Jadi Besar Setelah Tinggalkan Partai

Pramono Anung, Gubernur DKI Jakarta sekaligus politikus PDI-P, baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang menyindir orang-orang yang meninggalkan partainya dengan klaim bahwa mereka tidak akan pernah menjadi besar. Namun, pernyataan ini langsung mendapat kritik tajam dari Dede Budhyarto, mantan Komisaris Independen PT Pelni, yang menyinggung fakta sejarah politik Indonesia dengan menyebut tiga tokoh besar yang justru sukses dan menjadi figur penting setelah meninggalkan partai asalnya.

Ad
Ad

Klaim Pramono Anung dan Kritik Dede Budhyarto

Dalam acara pelantikan Ketua DPC PKB se-Indonesia di Kota Tua Jakarta pada Rabu, 22 Juli 2026 malam, Pramono Anung mengatakan, "Prestasi PKB dan kepemimpinan Bapak Muhaimin Iskandar (Cak Imin) sudah sangat teruji. Saya bisik-bisik sama beliau, 'Cak, hafal enggak? Semua orang yang meninggalkan partainya, enggak pernah ada yang menjadi besar.'" Pernyataan ini tidak menyebut nama secara spesifik, tapi menyinggung bahwa hal ini pernah terjadi di PDI-P dan PKB.

Namun, Dede Budhyarto langsung memberikan tanggapan yang menohok melalui akun X pribadinya pada Kamis, 23 Juli 2026. Ia mempertanyakan siapa sebenarnya yang dimaksud oleh Pramono, karena ada sejumlah tokoh besar yang justru meninggalkan partainya, lalu kemudian menjadi sangat berpengaruh di kancah politik nasional.

"Bang Gubernur mungkin lupa sejarah. Megawati Soekarno Putri ninggalin PDI, bikin PDP-Perjuangan. Prabowo Subianto ninggalin Golkar bikin Gerindra. Surya Paloh ninggalin Golkar bikin Nasdem. Semuanya jadi besar. Yang dimaksud siapa yah?"

Tokoh Besar yang Sukses Setelah Tinggalkan Partai

Ketiga tokoh yang disebutkan Dede merupakan figur politik yang memiliki jejak karier yang kuat dan berpengaruh:

  • Megawati Soekarnoputri: Mantan Ketua Umum PDI yang kemudian mendirikan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan menjadi Presiden Indonesia ke-5.
  • Prabowo Subianto: Awalnya anggota Golkar, kemudian keluar dan mendirikan Partai Gerindra yang kini menjadi kekuatan politik utama di Indonesia.
  • Surya Paloh: Mantan anggota Golkar yang mendirikan Partai Nasional Demokrat (NasDem) dan menjadi tokoh penting dalam politik Indonesia modern.

Fenomena ini menunjukkan bahwa meninggalkan partai lama dan membangun partai baru bukan berarti seseorang tidak bisa menjadi besar, justru sebaliknya dalam beberapa kasus. Ini menjadi kritik tajam terhadap pernyataan Pramono yang seolah menutup peluang sukses bagi mereka yang berani meninggalkan partai.

Konsekuensi dan Implikasi Pernyataan

Pernyataan Pramono Anung ini bisa diartikan sebagai bentuk dukungan kuat untuk menjaga soliditas partai, khususnya di internal PDI-P dan dukungan terhadap PKB. Namun, kritik Dede membuka diskursus tentang dinamika politik yang lebih kompleks, termasuk bagaimana figur politik membangun kekuatan dan pengaruhnya di luar partai lama.

Selain itu, pernyataan tersebut berpotensi menimbulkan kontroversi di kalangan politikus dan publik, terutama bagi mereka yang selama ini membangun karier lewat jalur baru atau partai yang didirikan sendiri. Hal ini juga bisa menimbulkan pertanyaan soal kebebasan berpolitik dan peluang bagi regenerasi kepemimpinan di Indonesia.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pernyataan Pramono Anung yang menyatakan bahwa orang yang meninggalkan partainya tidak akan menjadi besar terlihat sebagai upaya untuk memperkuat loyalitas partai dan mempertahankan stabilitas internal. Namun, kritik dari Dede Budhyarto sangat relevan karena sejarah politik Indonesia menunjukkan banyak tokoh yang sukses meniti karier luar biasa setelah meninggalkan partainya.

Fenomena tokoh besar yang keluar dan kemudian mendirikan partai baru ini merupakan bagian dari dinamika demokrasi dan politik yang sehat, di mana ide dan kepemimpinan bisa berkembang tanpa harus terhambat oleh struktur partai lama yang mungkin sudah stagnan. Ini juga menunjukkan bahwa kesuksesan politik tidak hanya ditentukan oleh struktur partai, tapi juga oleh visi, strategi, dan dukungan publik.

Ke depan, publik dan pengamat politik perlu mencermati apakah pernyataan seperti ini akan menjadi narasi dominan di politik Indonesia, yang bisa membatasi ruang gerak politik individu, ataukah akan muncul lebih banyak tokoh yang berani berinovasi dan membangun kekuatan baru demi kemajuan bangsa.

Untuk perkembangan terbaru dan analisis lainnya soal politik Indonesia, Anda dapat mengikuti berita resmi di Warta Ekonomi dan sumber berita terpercaya lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad