Israel Klaim Tidak Tahu Serangan Udara yang Tewaskan 148 Siswa di Iran
Militer Israel mengaku tidak mengetahui adanya serangan udara yang menargetkan sebuah sekolah perempuan di Iran Selatan, yang menewaskan ratusan siswa. Klaim ini muncul setelah serangan yang menghantam sekolah tersebut pada Sabtu (28/2) menimbulkan korban jiwa yang sangat besar.
Serangan Udara yang Menewaskan Ratusan Siswa
Menurut laporan dari otoritas Iran, serangan udara itu menewaskan 148 orang dan melukai 95 lainnya di Sekolah Shajaba Tayyiba, sebuah sekolah perempuan yang terletak di kota Minab, Iran Selatan. Serangan ini diduga merupakan bagian dari operasi gabungan antara Amerika Serikat dan Israel.
Jaksa penuntut setempat menyatakan bahwa sekolah tersebut berada sekitar 61 meter dari sebuah pangkalan militer Iran. Meski demikian, citra satelit menunjukkan bahwa sekolah dan pangkalan militer itu telah berdiri terpisah sejak setidaknya tahun 2016. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang target sebenarnya dari serangan tersebut.
Respons Militer Israel dan Situasi Regional
Juru Bicara Militer Israel, Letnan Kolonel Nadav Shoshani, menegaskan bahwa pihaknya tidak mengetahui adanya serangan yang dilakukan Israel atau AS di lokasi tersebut. Dalam pernyataannya yang dikutip AFP pada Minggu (1/3), Shoshani mengatakan,
"Pada saat ini, kami tidak mengetahui adanya serangan Israel atau AS di sana... Kami beroperasi dengan cara yang sangat akurat."
Pernyataan ini disampaikan di tengah kondisi ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait operasi gabungan AS dan Israel yang menggempur 20 dari 31 provinsi di Iran. Serangan tersebut terjadi saat negosiasi nuklir Iran masih berlangsung, yang menambah kerumitan situasi diplomatik.
Dampak Serangan dan Korban dari Pihak Iran
Serangan yang dilancarkan pada Sabtu (27/2) itu tidak hanya menimbulkan korban di kalangan warga sipil, tetapi juga menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Menteri Pertahanan Amir Hatami, serta Komandan Angkatan Bersenjata Korps Iran (IRGC) Mohammed Pakpour.
Organisasi kemanusiaan Bulan Sabit Merah Iran melaporkan bahwa serangan ini telah menyebabkan kerusakan luas di berbagai provinsi dan memutus akses internet selama 24 jam, yang semakin memperparah krisis kemanusiaan di Iran.
Respon Amerika Serikat
Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, membela operasi militer tersebut dengan menyatakan bahwa serangan itu bertujuan untuk menghilangkan ancaman nyata terhadap rakyat Amerika. Dalam sebuah pernyataan yang dikutip NPR, Trump menyebut serangan ini sebagai "operasi skala besar yang sedang berlangsung demi membela rakyat Amerika."
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, klaim militer Israel yang tidak mengetahui serangan ini perlu dicermati lebih dalam. Mengingat kompleksitas operasi militer gabungan antara AS dan Israel di wilayah yang sangat sensitif, sulit untuk membayangkan tidak ada koordinasi atau informasi yang diterima oleh Israel terkait serangan yang menewaskan ratusan warga sipil, termasuk pelajar.
Serangan yang menimpa sekolah perempuan ini tidak hanya menimbulkan tragedi kemanusiaan, tetapi juga berpotensi memperburuk ketegangan antara Iran dan blok Barat. Dalam jangka panjang, peristiwa ini bisa memperkeras sikap Iran dalam negosiasi nuklir, menghambat upaya diplomasi, dan memicu gelombang protes serta konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Selanjutnya, publik dan pengamat internasional harus terus memantau perkembangan situasi dan menuntut transparansi serta akuntabilitas dari semua pihak yang terlibat. Pengungkapan fakta yang jelas sangat penting untuk mencegah spekulasi dan menghindari eskalasi konflik yang lebih besar.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0