Saham Paling Berisiko Terkena Disrupsi AI: Waspada Investor 2026
Jefferies baru-baru ini merilis daftar saham yang paling berisiko terdampak disrupsi teknologi kecerdasan buatan (AI), memberikan peringatan penting bagi para investor di tengah kondisi pasar saham AS yang sedang rapuh. Kekhawatiran bahwa AI yang berkembang pesat akan menggantikan berbagai model bisnis tradisional telah memicu aksi jual di beberapa sektor, terutama penyedia perangkat lunak sebagai layanan (SaaS), layanan asuransi, logistik, dan saham properti.
Salah satu indikatornya adalah iShares Expanded Tech-Software Sector ETF (IGV) yang turun lebih dari 23% sepanjang tahun 2026, menandakan sektor ini sudah memasuki pasar bearish. Penurunan ini terkadang bersifat indiscriminative, namun beberapa perusahaan besar seperti Robinhood dan ServiceNow masih terus terkena dampaknya. Kekhawatiran bahwa sentimen negatif akibat AI bisa menjalar ke industri lain juga masih tinggi, sehingga para investor harus tetap waspada terhadap risiko-risiko yang mungkin muncul.
Bagaimana Jefferies Mengidentifikasi Saham dengan Risiko Disrupsi AI
Desh Peramunetilleke, kepala strategi kuantitatif Jefferies, menyatakan dalam catatan kepada klien bahwa meskipun ada rebound baru-baru ini, sektor perangkat lunak masih rentan terhadap perkembangan AI selanjutnya. Saat ini, sektor perangkat lunak diperdagangkan dengan rasio harga terhadap laba (PE) sekitar 21x, setara dengan pasar secara umum, dengan pertumbuhan EPS sekitar 16% per tahun. Namun, ketidakpastian masa depan membuat sektor ini bahkan berpotensi diperdagangkan dengan diskon.
Untuk mengidentifikasi saham yang paling rentan, Jefferies menggunakan metode gabungan berupa profil pengembalian saham dan algoritma pencarian berbasis AI. Mereka menemukan sekitar 150 saham dengan kapitalisasi pasar di atas 1 miliar dolar AS yang menghadapi risiko AI seperti repricing aset, substitusi permintaan, penggantian tenaga kerja, penurunan keunggulan kompetitif (moat decay), dan tekanan harga.
Metodologi ini melibatkan pencarian sub-industri yang berpotensi terkena dampak disrupsi, lalu dikombinasikan dengan analisis pengembalian saham secara spesifik yang kemudian diproses menggunakan prompt pelatihan AI untuk menentukan risiko di tingkat saham.
Saham-saham dengan Risiko AI Tertinggi
- Unity Software: Saham pembuat mesin video game ini turun tajam hingga 59% di 2026. AI berpotensi menurunkan biaya perpindahan (switching costs) dengan memudahkan pengembang mereplikasi dan memigrasi aset antar platform, melemahkan daya tarik ekosistem Unity.
- MongoDB: Risiko AI mengancam keunggulan database ini karena alat coding AI bisa mengurangi ketergantungan pengembang pada satu arsitektur database tertentu.
- ServiceNow, Datadog: Perusahaan perangkat lunak lainnya yang juga terdampak kekhawatiran disrupsi AI.
- Duolingo: Saham platform belajar bahasa ini anjlok 42% di tahun ini akibat hasil kuartal pertama yang mengecewakan dan ekspektasi pemesanan 2026 yang turun. Risiko AI di sini adalah potensi tutor AI yang bisa mengkomoditisasi pembelajaran bahasa, mengurangi nilai unik Duolingo.
- Robinhood Markets: Turun 33% tahun ini, risiko muncul dari kemungkinan agen AI yang menggantikan peran trading ritel, mengurangi kebutuhan pengguna pada platform tradisional.
- Accenture dan DoorDash: Salah satu perusahaan jasa profesional dan layanan pengantaran yang juga masuk dalam daftar risiko AI Jefferies.
Imbas Lebih Luas dan Tantangan Investor
Penurunan saham-saham ini bukan hanya soal pendapatan meleset atau ekspektasi pasar yang gagal dipenuhi, namun juga dipacu oleh ketakutan bahwa AI dapat secara radikal mengubah lanskap industri. Investor harus menimbang risiko teknologi baru yang dapat membuat model bisnis lama usang, sekaligus mencari peluang di perusahaan yang justru diuntungkan oleh AI.
Ke depan, laporan pekerjaan penting pada awal Maret 2026 akan menjadi ujian besar bagi pasar saham karena dapat memperjelas arah ekonomi dan sentimen investor terhadap risiko teknologi.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, daftar saham yang dirilis Jefferies ini bukan hanya sekedar peringatan, melainkan juga cerminan dari perubahan fundamental yang sedang terjadi di dunia bisnis akibat AI. Disrupsi AI bukan hanya soal teknologi baru, tapi bagaimana teknologi tersebut mengikis model bisnis tradisional yang selama ini dianggap aman.
Investor harus menyadari bahwa risiko AI ini bersifat multidimensi, meliputi potensi penggantian fungsi manusia, perubahan preferensi konsumen, hingga tekanan harga akibat otomatisasi. Saham yang memiliki moat kuat dan kemampuan beradaptasi dengan AI akan lebih bertahan, sementara yang stagnan berpotensi mengalami penurunan signifikan.
Ke depan, penting bagi investor untuk melakukan riset mendalam dan menilai kesiapan perusahaan dalam menghadapi AI, bukan hanya melihat kinerja keuangan historis. Perusahaan yang mampu mengintegrasikan AI sebagai keunggulan kompetitif akan menjadi pemenang di era baru ini.
Dengan begitu, investor yang cerdas dapat membedakan antara ancaman dan peluang, serta memposisikan portofolio mereka agar tahan banting menghadapi gelombang disrupsi berikutnya.
Terus ikuti perkembangan teknologi AI dan dampaknya pada pasar saham untuk mengambil keputusan investasi yang lebih tepat dan terinformasi.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0