Faktor Sosial Jadi Penyebab Utama Remaja Kurang Kualitas Tidur, Studi Terbaru

Mar 3, 2026 - 11:53
 0  5
Faktor Sosial Jadi Penyebab Utama Remaja Kurang Kualitas Tidur, Studi Terbaru

Remaja di Indonesia dan dunia kini menghadapi krisis tidur yang semakin mengkhawatirkan. Studi terbaru yang diterbitkan di jurnal medis JAMA mengungkap bahwa faktor sosial memegang peranan besar dalam menyebabkan banyak remaja tidur kurang dari lima jam setiap malam, jauh di bawah rekomendasi tidur sehat antara delapan hingga sepuluh jam.

Ad
Ad

Jam Sekolah Pagi dan Penggunaan Layar Jadi Faktor Utama

Menurut laporan New York Post pada Senin (2/3), penelitian ini menunjukkan bahwa jam sekolah yang dimulai terlalu pagi dan kebiasaan menggunakan perangkat layar seperti ponsel dan tablet hingga larut malam menjadi penyebab utama para remaja secara konsisten kehilangan waktu tidur yang cukup. Hal ini berdampak pada kualitas hidup dan kesehatan mental mereka.

"Intinya, ada krisis tidur pada remaja dan situasinya semakin memburuk. Ini telah menjadi keadaan darurat kesehatan masyarakat yang serius," kata Dr. Courtney Bancroft, Direktur Klinis Kesehatan Perilaku Digital di Northwell Health.

Data yang dikumpulkan selama 16 tahun terakhir menunjukkan peningkatan signifikan dari jumlah remaja yang mengalami kurang tidur, dari 69 persen pada tahun 2007 menjadi hampir 77 persen pada tahun 2023. Angka ini menandakan masalah tidur yang makin meluas di kalangan pelajar.

Faktor Sosial Lebih Kompleks dari Sekadar Penggunaan Layar

Meski penggunaan ponsel sering dianggap sebagai biang keladi utama, studi ini juga menemukan bahwa remaja yang menggunakan perangkat digital kurang dari empat jam sehari tetap mengalami kualitas tidur yang buruk. Ini mengindikasikan bahwa faktor sosial lain turut berkontribusi.

Dr. Bancroft menjelaskan, selain kebiasaan layar, faktor keseharian seperti jadwal sekolah yang panjang, kegiatan ekstrakurikuler, dan kehidupan sosial yang padat turut menyita waktu istirahat remaja. Selain itu, faktor biologis juga mempengaruhi pola tidur mereka.

"Pergeseran pola tidur sirkadian pada remaja terjadi ketika otak mulai memproduksi melatonin lebih lambat, sekitar pukul 11 malam. Jadi, mereka tidak merasa mengantuk sampai waktu tersebut," jelas Bancroft.

Dampak Kurang Tidur pada Remaja dan Kesehatan Mental

Kurang tidur pada remaja bukan sekadar masalah fisik, namun juga berdampak besar pada kesehatan mental. Penelitian telah mendokumentasikan kaitan erat antara tidur yang tidak cukup dengan risiko depresi, kecemasan, gangguan fungsi otak, hingga penyakit seperti multiple sclerosis di masa depan. Bahkan, kurang tidur juga meningkatkan kecenderungan bunuh diri pada kalangan muda.

Fenomena ini berlaku hampir merata, termasuk pada remaja yang tidak terlibat dalam perilaku berisiko seperti penyalahgunaan zat. Oleh sebab itu, perhatian serius dari orang tua, sekolah, dan pemerintah sangat dibutuhkan.

Solusi dan Rekomendasi untuk Mengatasi Krisis Tidur Remaja

Membatasi penggunaan perangkat elektronik sebelum tidur tentu merupakan langkah yang disarankan. Namun, Dr. Bancroft menegaskan bahwa penyesuaian jam mulai sekolah menjadi lebih siang sangat krusial agar pola tidur biologis remaja dapat diselaraskan dengan lingkungan sosial mereka.

Rekomendasi ini sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan manfaat besar dari jam sekolah yang lebih fleksibel dalam meningkatkan kualitas tidur dan kesehatan mental pelajar.

  • Mengatur jadwal sekolah agar tidak dimulai terlalu pagi
  • Membatasi penggunaan ponsel dan tablet terutama menjelang waktu tidur
  • Mengelola kegiatan ekstrakurikuler dan sosial agar tidak berlebihan
  • Meningkatkan kesadaran orang tua dan guru akan pentingnya tidur bagi remaja

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, temuan studi ini menegaskan bahwa krisis tidur pada remaja bukan hanya masalah individu atau keluarga, tetapi juga masalah sosial dan kebijakan pendidikan. Penyesuaian jam sekolah yang selama ini jarang disentuh menjadi kunci utama dalam mengatasi permasalahan ini. Jika tidak segera direspons, dampak buruk kurang tidur akan terus membebani generasi muda, mulai dari prestasi akademik menurun hingga lonjakan masalah kesehatan mental.

Selain itu, faktor biologis yang mempengaruhi pola tidur remaja menunjukkan bahwa solusi semata-mata membatasi penggunaan layar tidak cukup. Pendekatan holistik yang melibatkan pengaturan jadwal sekolah, pendampingan psikologis, dan edukasi tentang kesehatan tidur harus menjadi prioritas.

Ke depan, penting bagi pemerintah dan pemangku kepentingan untuk mengkaji ulang kebijakan pendidikan dan mengintegrasikan ilmu kesehatan tidur dalam kurikulum. Masyarakat juga perlu lebih sadar akan pentingnya tidur berkualitas agar generasi muda dapat tumbuh sehat dan produktif.

Terus ikuti perkembangan informasi terkait kesehatan remaja dan tips meningkatkan kualitas tidur di platform kami.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad