Film Horor Songko: Mengungkap Legenda Mistis Minahasa-Tomohon yang Mencekam

Apr 3, 2026 - 06:20
 0  4
Film Horor Songko: Mengungkap Legenda Mistis Minahasa-Tomohon yang Mencekam

Film horor Songko hadir sebagai karya terbaru dari Dunia Mencekam Studio bekerja sama dengan Rumah Produksi Santara, yang mengangkat kisah menegangkan berakar pada legenda lokal masyarakat Sulawesi Utara, khususnya Minahasa dan Tomohon. Film ini menjadi debut penyutradaraan Gerald Mamahit di layar lebar dan berfokus pada hyperlocal storytelling yang memadukan horor dengan budaya serta cerita rakyat Indonesia Timur.

Ad
Ad

Asal Usul dan Sinopsis Film Songko

Film ini berlatar waktu tahun 1986 di sebuah desa di Tomohon, tanah Minahasa, yang dilanda teror mengerikan. Satu per satu perempuan muda di desa itu ditemukan tewas secara mengenaskan tanpa penjelasan jelas. Warga desa akhirnya percaya kematian itu bukan kebetulan, melainkan ulah Songko, makhluk mistis yang dipercaya mengincar darah suci perempuan muda demi mendapatkan kekekalan.

Ketakutan ini berubah menjadi kecurigaan sosial yang tajam. Tuduhan mulai diarahkan pada keluarga Mikha, terutama Helsye, ibu tiri Mikha, yang dianggap sebagai dalang pemanggil Songko ke desa mereka. Konflik dan ketegangan ini menjadi inti cerita yang mengangkat tema ketakutan, tuduhan, dan perpecahan sebuah komunitas yang sedang dilanda teror yang tidak mereka pahami.

Penggarapan dan Pendekatan Budaya Lokal

Gerald Mamahit menjelaskan bahwa film ini bukan sekadar menyajikan horor visual, melainkan berusaha menggali akar budaya dan legenda Minahasa secara autentik.

“Songko adalah cerita yang sangat dekat dengan budaya dan legenda masyarakat Minahasa. Kami ingin menghadirkan horor yang terasa autentik, bukan hanya menakutkan secara visual, tetapi juga memiliki akar cerita yang kuat dari tradisi lokal,”
ujarnya.

Film ini menggandeng banyak talenta lokal, mulai dari pemeran hingga kru produksi, yang berasal dari Minahasa, Manado, dan Tomohon. Hal ini untuk memastikan kedekatan budaya dan keaslian cerita yang disampaikan. Selain itu, lokasi syuting dilakukan di kaki Gunung Lokon, Tomohon, di sebuah area yang dibangun khusus sebagai infrastruktur kreatif berkelanjutan, bukan sekadar set sementara. Langkah ini menunjukkan komitmen Santara dalam membangun ekosistem perfilman daerah jangka panjang.

Pemeran dan Atmosfer Suasana Syuting

Film ini dibintangi oleh Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satria, dan Khiva Iskak. Aktor Khiva Iskak mengungkapkan pengalaman unik saat syuting, karena kisah yang diangkat sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Tomohon.

“Yang membuat film ini menarik adalah kisahnya berasal dari legenda yang benar-benar dipercaya oleh masyarakat. Saat menjalani proses syuting di Tomohon, suasananya terasa sangat kuat dan mendukung atmosfer cerita,”
ungkap Khiva Iskak.

Sementara Annette Edoarda mengungkapkan ketertarikannya bergabung karena cerita Songko yang berbeda dari film horor kebanyakan, menyoroti tema ketakutan, tuduhan, dan perpecahan sosial di sebuah desa.

“Songko bukan hanya film horor biasa. Ceritanya tentang ketakutan, tuduhan, dan bagaimana sebuah desa bisa terpecah karena teror yang tidak mereka pahami,”
katanya.

Signifikansi dan Jadwal Tayang

Film Songko tidak hanya menawarkan hiburan horor, tetapi juga menjadi medium pelestarian budaya dan pengenalan cerita rakyat Minahasa yang mungkin belum banyak dikenal secara luas. Dengan latar yang kuat dan cerita yang kaya akan makna budaya, film ini dapat memperkaya industri perfilman nasional sekaligus membuka ruang apresiasi terhadap cerita lokal Indonesia Timur.

Film ini dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 23 April 2026. Keberadaan Songko di layar lebar diharapkan menjadi momentum penting bagi perfilman daerah dan pengembangan cerita lokal yang otentik.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kehadiran film Songko merupakan game-changer dalam industri film horor Indonesia yang selama ini banyak mengandalkan cerita horor generik dan pengulangan tema seram yang serupa. Dengan mengangkat legenda lokal Minahasa-Tomohon, film ini tidak hanya memberikan pengalaman horor yang baru dan lebih mendalam, tetapi juga memperkuat identitas budaya yang selama ini kurang terekspos di layar bioskop nasional.

Langkah membangun set lokasi permanen di Tomohon adalah inovasi strategis yang patut diapresiasi. Ini membuka peluang bagi pengembangan ekosistem perfilman daerah yang lebih profesional dan berkelanjutan, sekaligus memberdayakan talenta lokal. Jika diikuti dengan dukungan yang konsisten, hal ini bisa memicu munculnya banyak karya berkelas dari daerah lain di Indonesia.

Ke depan, penting untuk mengamati bagaimana film Songko diterima oleh publik dan kritik, serta bagaimana dampak budaya dan ekonomi yang dihasilkan. Apakah jalur hyperlocal storytelling ini akan menjadi tren baru dalam perfilman Indonesia? Kita tunggu bersama perkembangan berikutnya.

Informasi lebih lengkap dapat dibaca dalam sumber asli, tersedia di ANTARA News Manado dan liputan film horor Indonesia terbaru di Kompas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad