IHSG Turun 1,25% Imbas Pernyataan Trump, Harga Minyak Melonjak Tajam

Apr 2, 2026 - 16:30
 0  3
IHSG Turun 1,25% Imbas Pernyataan Trump, Harga Minyak Melonjak Tajam

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Kamis (2/4/2026), ditutup melemah 1,25% atau turun 89,91 poin ke level 7.094,53. Penurunan ini dipicu oleh kecemasan investor atas eskalasi ketegangan geopolitik yang dipicu oleh pernyataan keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait operasi militer di Iran.

Ad
Ad

Memasuki sesi pertama perdagangan, IHSG tercatat mengalami pelemahan signifikan dengan mayoritas saham melemah. Dari total perdagangan, sebanyak 463 saham turun, 234 saham naik, dan 261 saham stagnan. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp 6,88 triliun dengan volume perdagangan mencapai 13,33 miliar saham dalam lebih dari satu juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun terkikis menjadi Rp 12.461 triliun.

Tekanan Berat pada Sektor Utilitas dan Teknologi

Mengacu pada data Refinitiv, sektor utilitas, bahan baku, dan teknologi menjadi yang paling terpukul dengan penurunan berturut-turut sebesar 5,98%, 3,29%, dan 2,55%. Penurunan ini memperlihatkan bagaimana kekhawatiran investor global terhadap prospek industri yang sensitif terhadap ketidakpastian geopolitik dan harga energi.

  • Barito Renewables Energy (BREN) menjadi saham paling memberatkan dengan kontribusi penurunan sebesar -13,84 poin. Saham ini turun 6,82% ke level 5.125.
  • Saham DCI Indonesia (DCII) milik Toto Sugiri juga menyumbang penurunan -7,81 poin.
  • Amman Mineral Internasional (AMMN) milik Agus Projo dan Salim memberi beban -7,75 poin.

Penurunan ini terjadi setelah sehari sebelumnya IHSG berhasil menguat hampir 2%, didorong oleh meredanya ketegangan pasar setelah harapan perdamaian antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel sempat muncul.

Pidato Trump Picu Kecemasan Pasar

Pelemahan pasar kali ini berawal dari pidato Presiden Donald Trump yang mengonfirmasi bahwa operasi militer bertajuk "Epic Fury" terhadap Iran akan terus berlanjut hingga seluruh tujuan strategis tercapai. Trump mengancam akan melancarkan serangan "sangat keras" dalam dua hingga tiga minggu mendatang yang diprediksi akan berdampak besar.

"Kita akan membawa mereka kembali ke zaman batu," ujar Trump dalam pidato kenegaraan di Gedung Putih, Rabu (1/4/2026) malam waktu setempat.

Meski menegaskan bahwa perubahan rezim bukan tujuan utama, Trump menyebut bahwa banyak pemimpin Iran sudah tewas selama konflik. Ia juga memperingatkan kesiapan AS untuk menyerang infrastruktur penting Iran, termasuk pembangkit listrik, jika tidak tercapai kesepakatan dalam waktu dekat. Namun, fasilitas minyak Iran belum menjadi target saat ini meskipun dianggap sebagai sasaran yang paling mudah.

Trump juga mengklaim kemampuan pertahanan udara Iran sudah lumpuh, dengan radar hancur dan pertahanan udara yang tidak efektif. Ia menyoroti kerusakan besar yang dialami fasilitas nuklir Iran akibat serangan sebelumnya dan menegaskan AS akan kembali menyerang jika Iran mencoba memulihkan program nuklirnya.

"Kami memegang semua 'kartu'," ujar Trump.

Harga Minyak Melonjak dan Bursa Asia Tertekan

Seiring dengan pernyataan Trump, harga minyak dunia kembali melonjak tajam. Data Refinitiv per pukul 09.17 WIB menunjukkan harga minyak Brent naik lebih dari 4% ke US$105,61 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak 3,95% ke US$97,44 per barel.

Kenaikan harga minyak ini menambah tekanan pada pasar saham Asia. Bursa-bursa utama kawasan mencatatkan koreksi signifikan:

  • Indeks Kospi Korea Selatan anjlok 4,14%
  • Indeks Nikkei Jepang turun 2,4%
  • Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 1,42%
  • Indeks ASX200 Australia tergerus 1,06%

Fenomena ini menunjukkan bagaimana ketegangan geopolitik yang meningkat dapat langsung berdampak pada pasar global, terutama pada negara-negara yang memiliki hubungan perdagangan dan ekonomi erat dengan Amerika Serikat dan Timur Tengah.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pernyataan Trump yang keras dan tegas tentang kelanjutan operasi militer di Iran bukan hanya memicu kepanikan sesaat di pasar saham Indonesia, tapi juga memperlihatkan betapa rapuhnya sentimen investor terhadap ketidakpastian geopolitik. Penurunan IHSG yang cukup signifikan menunjukkan bahwa investor domestik masih sangat sensitif terhadap perkembangan global yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi.

Selain itu, lonjakan harga minyak yang signifikan akibat ancaman konflik militer ini bisa berdampak panjang pada inflasi dan biaya produksi di Indonesia. Sektor utilitas dan teknologi yang terdampak mengindikasikan bahwa perusahaan yang bergantung pada energi dan rantai pasok global akan menghadapi tekanan tambahan. Risiko eskalasi militer juga bisa memperpanjang ketidakpastian pasar dan membatasi aliran investasi asing ke dalam negeri.

Ke depan, pasar perlu mengawasi dengan cermat perkembangan situasi di Timur Tengah serta respon diplomatik dari negara-negara besar. Untuk investor, kehati-hatian dan diversifikasi portofolio menjadi kunci utama dalam menghadapi volatilitas yang meningkat. Informasi terbaru dapat terus dipantau melalui sumber resmi seperti CNBC Indonesia dan Bloomberg.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad