8 Penyakit Mental Gen Z yang Meningkat di Era Digital, dari Brain Fry hingga Imposter Syndrome

Apr 6, 2026 - 08:01
 0  4
8 Penyakit Mental Gen Z yang Meningkat di Era Digital, dari Brain Fry hingga Imposter Syndrome

Generasi Z (Gen Z) yang tumbuh di tengah era digital menghadapi tekanan kesehatan mental yang berbeda dan jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Meski sering dianggap "lembek" secara stereotip, kenyataannya mereka berjuang melawan berbagai tantangan mental akibat paparan teknologi dan banjir informasi yang tiada henti.

Ad
Ad

Otak Gen Z dipaksa bekerja lembur setiap hari karena kebiasaan scrolling tanpa henti dan ekspektasi tinggi di berbagai aspek kehidupan. Fenomena ini memunculkan istilah-istilah medis dan psikologis baru yang menggambarkan kondisi mental generasi muda tersebut.

8 Penyakit Mental Modern yang Sering Dialami Gen Z

Berikut adalah delapan kondisi mental yang kini kerap terjadi dan memengaruhi fokus serta kesejahteraan mental Gen Z, seperti dirangkum dari berbagai sumber oleh KompasTekno.

  1. Brain Rot dan Dopamine Addiction
    Brain rot atau "otak membusuk" menggambarkan kondisi kurang fokus dan tumpulnya fungsi kognitif akibat terlalu banyak mengonsumsi konten singkat tanpa makna. Hal ini berhubungan erat dengan kecanduan dopamin dari penggunaan media sosial dan aplikasi hiburan secara berlebihan.
  2. Doomscrolling
    Kebiasaan terus menerus menggulir berita negatif dan informasi buruk di media sosial yang menyebabkan stres dan kecemasan meningkat. Doomscrolling membuat Gen Z sulit melepaskan diri dari lingkaran berita buruk yang berulang-ulang.
  3. Revenge Bedtime Procrastination
    Fenomena menunda tidur sebagai bentuk "balas dendam" karena merasa waktu pribadi kurang dihabiskan saat siang hari. Ini berdampak buruk pada kualitas tidur dan kesehatan mental jangka panjang.
  4. Imposter Syndrome
    Rasa tidak percaya diri dan merasa tidak layak meskipun memiliki kemampuan dan pencapaian. Sering dialami saat menghadapi tekanan sosial dan ekspektasi tinggi dari lingkungan sekitar.
  5. Social Media Fatigue
    Kelelahan mental akibat interaksi terus menerus di media sosial, yang sering kali menimbulkan perasaan iri, cemas, dan rendah diri.
  6. FOMO (Fear of Missing Out)
    Kecemasan karena takut ketinggalan tren, acara, atau berita terbaru yang membuat seseorang terus-menerus memantau media sosial tanpa henti.
  7. Attention Deficit
    Kesulitan mempertahankan perhatian dan fokus dalam waktu lama karena stimulasi digital yang berlebihan dan multitasking serba cepat.
  8. Burnout
    Kelelahan emosional dan fisik yang disebabkan oleh tekanan akademik, pekerjaan, dan tuntutan sosial yang berlebihan tanpa adanya keseimbangan yang baik.

Tekanan Digital dan Dampaknya pada Kesehatan Mental Gen Z

Teknologi digital memberikan kemudahan dan akses informasi yang luar biasa, tetapi juga membawa biaya tersembunyi bagi kesehatan mental. Gen Z sering kali menjadi korban "overload" informasi dan ekspektasi sosial yang tidak realistis. Kebiasaan seperti doomscrolling dan revenge bedtime procrastination adalah contoh nyata bagaimana teknologi dapat merusak pola hidup sehat.

Menurut penelitian, paparan terus-menerus terhadap konten negatif dan tekanan performa di dunia maya meningkatkan risiko gangguan kecemasan, depresi, dan gangguan tidur. Maka dari itu, penting bagi Gen Z dan lingkungan sekitarnya untuk memahami tanda-tanda penyakit mental ini dan mencari cara mengelolanya.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, fenomena delapan penyakit mental ini menunjukkan perubahan paradigma kesehatan mental yang harus direspons serius oleh masyarakat dan pemerintah. Label "lembek" yang disematkan pada Gen Z sama sekali tidak relevan jika kita memahami konteks tekanan psikologis yang mereka hadapi di era digital saat ini.

Lebih dari sekadar tren, kondisi ini mengindikasikan kebutuhan mendesak untuk edukasi kesehatan mental yang lebih baik dan akses layanan psikologis yang mudah dijangkau oleh generasi muda. Stigma terhadap gangguan mental juga harus dilawan agar Gen Z merasa nyaman mencari bantuan tanpa rasa takut atau malu.

Ke depan, kita perlu memantau bagaimana perubahan gaya hidup digital memengaruhi kesehatan mental secara luas dan mendorong inovasi solusi berbasis teknologi yang tidak hanya memperparah tetapi juga membantu mengatasi masalah tersebut. Menurut laporan KompasTekno, fenomena ini semakin nyata dan menjadi panggilan untuk bertindak bersama.

Dengan pemahaman yang lebih dalam dan pendekatan yang tepat, diharapkan Gen Z bisa menemukan keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan kesehatan mental yang terjaga.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad