Pemko Palembang Targetkan Pengurangan Sampah 50% Lewat Edukasi Perilaku Warga
Pemerintah Kota (Pemko) Palembang mengambil langkah revolusioner dalam pengelolaan sampah dengan menggeser paradigma dari sekadar pembersihan menjadi gerakan perubahan perilaku warga. Target ambisius Pemko adalah menekan produksi sampah harian dari 0,7 kg per jiwa menjadi hanya 0,3 kg, melalui edukasi masif yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
Paradigma Baru Pengelolaan Sampah di Palembang
Sekretaris Daerah Kota Palembang, Aprizal Hasyim, menegaskan bahwa fokus utama kini adalah membangun kesadaran masyarakat melalui KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi). Menurutnya, pengelolaan sampah bukan lagi menjadi tanggung jawab “Pasukan Kuning” semata, melainkan kewajiban bersama seluruh warga kota.
“Pengelolaan sampah bukan hanya tugas ‘Pasukan Kuning’, tapi kewajiban seluruh lapisan masyarakat,” ujar Aprizal, Kamis (9/4/2026).
Program ini merupakan instruksi langsung dari Walikota dan Wakil Walikota Palembang dengan tujuan menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Edukasi ini dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam kepada warga, terutama di tingkat rumah tangga, mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan.
Aprizal menambahkan, harapan Pemkot adalah tidak hanya mendapatkan lingkungan bersih, tapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan sampah yang baik.
Implementasi Program dan Lokasi Percontohan
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Palembang, Ahmad Mustain, menjelaskan bahwa edukasi adalah kunci utama untuk menekan timbunan sampah yang saat ini mencapai rata-rata 900 hingga 1.000 ton per hari. Untuk itu, Pemko berencana memadukan program ini dengan program Low Carbon Sustainable Development Program (LSDP) dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
Dua kecamatan telah dipilih sebagai lokasi percontohan, yaitu Sukarami dan Sako. Pemilihan ini didasarkan pada lokasi kedua kecamatan yang cukup jauh dari pusat pengolahan sampah di Keramasan. Jika pengelolaan sampah di kedua kecamatan ini berhasil, diharapkan volume sampah yang harus diangkut ke hilir akan menurun drastis.
“Kami memilih dua kecamatan ini karena lokasinya yang cukup jauh dari pusat pengolahan sampah di keramasan. Jika penanganan sampah di sini berhasil, maka volume sampah yang dibawa ke hilir akan berkurang drastis,” ujar Mustain.
Strategi dan Langkah Pengurangan Sampah
Program ini menargetkan perubahan pola pikir masyarakat, dimana produksi sampah per jiwa yang saat ini 0,7 kg diharapkan turun menjadi 0,3 kg. Langkah strategis yang akan dilakukan antara lain:
- Mengajak masyarakat meninggalkan penggunaan kemasan sekali pakai.
- Memotivasi pengolahan sampah rumah tangga menjadi kompos.
- Memasukkan pendidikan pengelolaan sampah dalam kurikulum sekolah, dengan mendorong sekolah mendapatkan penghargaan Adiwiyata sebagai bentuk apresiasi.
- Mengelola sampah secara desentralisasi melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di tingkat kecamatan, sehingga hanya residu kecil yang diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Menurut Mustain, pendekatan ini tidak hanya akan membawa dampak positif bagi lingkungan, tetapi juga secara signifikan akan menghemat anggaran daerah. Dengan volume sampah yang berkurang, biaya operasional pengangkutan dan transportasi dapat ditekan.
Harapan dan Kolaborasi untuk Palembang Bersih
Kerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Kemendagri diharapkan segera terealisasi untuk mewujudkan kota Palembang yang bersih melalui kesadaran mandiri warganya.
“Mudah-mudahan kolaborasi dengan KLHK dan Kemendagri ini segera terwujud sehingga Palembang menjadi kota yang benar-benar bersih melalui kesadaran warganya sendiri,” kata Mustain.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, inisiatif Pemko Palembang untuk mengurangi produksi sampah hingga 50% melalui perubahan perilaku masyarakat merupakan langkah yang sangat progresif dan strategis. Alih-alih hanya fokus pada penanganan sampah setelah terbuang, pendekatan edukasi dan pengurangan dari hulu ini berpotensi menciptakan dampak jangka panjang yang berkelanjutan.
Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada komitmen masyarakat dan efektivitas komunikasi publik. Perubahan kebiasaan konsumsi dan pengelolaan sampah rumah tangga bukan hal mudah dan memerlukan waktu. Selain itu, kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, sekolah, dan masyarakat harus terus diperkuat agar target ambisius dapat tercapai.
Ke depan, publik perlu terus memantau perkembangan program ini, terutama hasil di lokasi percontohan Sukarami dan Sako. Jika berhasil, model ini dapat direplikasi di kecamatan lain, sekaligus menjadi contoh inspiratif bagi kota-kota lain di Indonesia dalam menghadapi masalah sampah perkotaan.
Untuk informasi lebih lengkap, kunjungi sumber asli berita di SumselSatu.com.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0