Trump Hapus Foto AI Mirip Yesus Setelah Banjir Kritik di Media Sosial

Apr 14, 2026 - 08:21
 0  4
Trump Hapus Foto AI Mirip Yesus Setelah Banjir Kritik di Media Sosial

Donald Trump, mantan Presiden Amerika Serikat, baru-baru ini menjadi sorotan publik setelah mengunggah sebuah foto yang dihasilkan oleh teknologi kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkan dirinya menyerupai Yesus Kristus. Foto kontroversial itu kemudian dihapus tak lama setelah mendapat banjir kritik dari warganet di seluruh dunia.

Ad
Ad

Foto tersebut pertama kali diposting pada Minggu, 12 April 2026, melalui platform media sosial milik Trump, Truth Social. Namun, pada Senin, 13 April 2026, unggahan itu dihapus oleh Trump setelah kritik keras melanda di berbagai kanal media sosial.

Detail Foto Kontroversial dan Reaksi Publik

Dalam foto tersebut, Trump digambarkan mengenakan jubah putih layaknya sosok Yesus Kristus, dengan tangan yang bercahaya dan sedang meletakkan tangan di kepala seorang pria seolah melakukan penyembuhan. Gambar ini dibuat menggunakan teknologi AI yang semakin populer namun tetap menimbulkan kontroversi ketika digunakan untuk menggambarkan figur publik dengan cara yang dipandang tidak pantas.

Kritik keras datang dari berbagai kalangan, termasuk penulis dan aktivis politik. Meghan Basham, seorang penulis asal AS, mengungkapkan kekesalannya dalam sebuah cuitan:

"Saya tidak tahu apakah Presiden mengira dia sedang bercanda atau berada di bawah pengaruh suatu zat, tapi penghujatan ini sangat keterlaluan. Dia perlu segera menghapus foto ini dan minta maaf kepada rakyat Amerika serta Tuhan."

Sementara itu, Riley Gaines, aktivis politik yang pernah diundang Trump ke Gedung Putih, juga menyuarakan kritik serupa di media sosial:

"Kenapa? Serius, saya tidak mengerti kenapa dia mengunggah ini. Apakah dia mencari respons? Apakah dia benar-benar berpikir seperti ini? Dua hal pasti: sedikit kerendahan hati akan sangat bermanfaat dan Tuhan tidak boleh diolok-olok."

Latar Belakang Unggahan: Ketegangan dengan Paus Leo XIV

Unggahan foto tersebut muncul setelah Trump melontarkan kritik pedas terhadap Paus Leo XIV, pemimpin Gereja Katolik sedunia. Trump menuding Paus Leo XIV "lemah dalam menangani kejahatan" dan "sangat liberal" karena tidak mendukung kebijakan keras Trump, termasuk sikapnya terhadap Iran dan operasi militer AS di Venezuela.

Trump mengklaim bahwa Paus terlalu lunak dan tidak memberikan dukungan yang diharapkannya dalam menghadapi isu-isu global yang dianggapnya sebagai kejahatan. Ketegangan antara figur politik dan pemimpin agama ini menjadi salah satu konteks penting yang memicu unggahan foto AI tersebut.

Respons Trump atas Kontroversi

Ketika ditanyai oleh wartawan mengenai foto yang menghebohkan tersebut, Trump membantah bahwa dirinya memosisikan sebagai Yesus Kristus. Ia mengklaim bahwa gambar tersebut merupakan representasi dirinya sebagai seorang dokter, khususnya dokter Palang Merah yang didukungnya.

"Saya kira itu adalah gambar saya sebagai seorang dokter. Dokter Palang Merah, yang kami dukung. Hanya berita palsu yang akan menggembar-gemborkan masalah ini," ujar Trump membela diri.

Implikasi dan Reaksi Masyarakat

Kasus ini memicu perdebatan luas mengenai bagaimana figur publik menggunakan teknologi AI untuk menciptakan citra diri mereka sendiri dan batasan etika dalam hal tersebut. Banyak yang menilai unggahan Trump sebagai langkah yang dinilai kontroversial dan tidak sensitif terhadap nilai-nilai keagamaan.

Berikut beberapa poin penting dari kontroversi ini:

  • Penggunaan AI untuk manipulasi citra publik yang dapat menimbulkan kesalahpahaman dan konflik sosial.
  • Respons cepat dari masyarakat dan tokoh publik dalam menentang penghinaan terhadap simbol agama.
  • Ketegangan antara politik dan agama yang tetap menjadi isu sensitif di AS dan dunia internasional.
  • Pentingnya kerendahan hati dalam berkomunikasi, terutama oleh figur publik yang memiliki pengaruh besar.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kejadian ini bukan sekadar kontroversi biasa, melainkan cerminan dari tantangan era digital dan politik modern di mana teknologi seperti AI dapat digunakan secara provokatif untuk membentuk opini publik. Trump, yang dikenal dengan gaya komunikasi yang kontroversial, memanfaatkan media sosial dan AI untuk mempertahankan sorotan publik, namun hal ini juga berisiko menimbulkan kemarahan dan perpecahan.

Lebih jauh, insiden ini menyoroti ketegangan yang terus berlangsung antara dunia politik dan institusi keagamaan, khususnya ketika tokoh politik mengkritik pemimpin agama secara terbuka. Dalam konteks AS yang memiliki latar belakang pluralisme agama, tindakan seperti ini dapat memperburuk polarisasi sosial.

Ke depan, publik dan tokoh politik perlu lebih bijak dalam menggunakan teknologi dan bahasa yang sensitif terhadap nilai-nilai masyarakat luas. Terutama menjelang pemilu dan dinamika politik yang semakin kompleks, penggunaan gambar dan simbol keagamaan harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati.

Untuk perkembangan terbaru dan analisis mendalam lainnya, pembaca dapat mengikuti liputan dari CNN Indonesia dan media terpercaya lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad