Penjualan Hermes dan Kering Turun Akibat Perang Iran, Saham Anjlok Tajam

Apr 24, 2026 - 10:33
 0  4
Penjualan Hermes dan Kering Turun Akibat Perang Iran, Saham Anjlok Tajam

Konflik yang terus membara di Timur Tengah, khususnya perang Iran, mulai berdampak serius terhadap industri barang mewah global. Penjualan perusahaan ternama seperti Hermes dan Kering menurun signifikan, yang berimbas pada anjloknya saham kedua raksasa tersebut di pasar saham internasional. Situasi ini memicu kekhawatiran investor dan menekan sentimen pasar secara luas.

Ad
Ad

Penurunan Kinerja Hermes dan Kering di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Saham Hermes sempat jatuh hingga 8,2%, sementara Kering mengalami penurunan lebih dalam yaitu 9,3%. Tekanan yang sama juga dirasakan oleh perusahaan barang mewah lain seperti Burberry, Christian Dior, dan Moncler, yang semuanya ditutup di zona merah pada perdagangan terakhir.

Hermes melaporkan penjualan kuartal pertama 2026 sebesar 4,1 miliar euro, naik 5,6% secara tahunan. Namun, angka ini masih di bawah ekspektasi analis yang memperkirakan pertumbuhan hingga 7,1%. Salah satu penyebab utama perlambatan ini adalah menurunnya arus wisatawan akibat konflik di Timur Tengah, terutama di toko-toko bandara dan gerai konsesi yang selama ini menjadi kontributor signifikan.

"Perlambatan arus wisatawan di Timur Tengah menjadi faktor utama yang menekan kinerja kami," ungkap perwakilan Hermes.

Analis Jefferies, James Grzinic, juga menyoroti dua kekhawatiran pasar yang memengaruhi saham Hermes, yaitu ekspose besar ke kawasan Timur Tengah dan melambatnya permintaan dari China, pasar utama barang mewah dunia.

Kinerja Kering Turun, Gucci Jadi Biang Kerok

Kinerja Kering juga menunjukkan tren negatif. Pendapatan kuartal pertama tercatat 3,57 miliar euro, turun 6% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terutama disebabkan oleh merosotnya penjualan Gucci yang turun 8% secara organik, lebih dalam dari prediksi analis.

Selain Gucci, Kering yang membawahi merek-merek seperti Yves Saint Laurent, Bottega Veneta, dan Balenciaga, mengalami penurunan penjualan ritel di Timur Tengah sebesar 11% pada kuartal pertama. Kawasan Timur Tengah selama ini menjadi salah satu titik terang di tengah lesunya pasar barang mewah global, dengan kontribusi sekitar 5% terhadap pendapatan ritel Kering.

"Pemulihan Gucci tetap menjadi prioritas utama kami. Transformasi besar sedang dilakukan mulai dari strategi pelanggan hingga distribusi produk," tegas CEO Kering, Luca de Meo.

Namun, analis Bernstein, Luca Solca, menilai hasil ini sebagai ujian realitas yang menunjukkan pemulihan bisnis barang mewah tidak semudah yang diharapkan pasar, terutama dengan tekanan geopolitik yang terus berlangsung.

Pengaruh Konflik Timur Tengah terhadap Industri Barang Mewah

Konflik yang meningkat sejak serangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari 2026 memicu krisis energi global dan gangguan di Selat Hormuz. Kondisi tersebut membuat pasar global bergejolak dan menekan kepercayaan investor, terutama yang sebelumnya berharap pemulihan permintaan barang mewah tahun ini.

Raksasa industri barang mewah, LVMH, bahkan mengungkap bahwa konflik Timur Tengah telah menggerus pertumbuhan organik perusahaan sekitar 1% pada kuartal pertama. Chief Financial Officer LVMH, Cécile Cabanis, mengatakan permintaan sempat turun tajam antara 30% hingga 70% di sejumlah pusat perbelanjaan sejak konflik memanas.

Meskipun demikian, sinyal positif masih terlihat dari pasar Amerika Serikat dan China yang mulai menunjukkan perbaikan permintaan, meskipun belum cukup kuat untuk menahan tekanan global yang sedang berlangsung.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, dampak perang Iran terhadap industri barang mewah adalah contoh nyata bagaimana geopolitik dapat mengganggu sektor ekonomi yang tampak jauh dari pusat konflik. Penurunan penjualan Hermes dan Kering mencerminkan kerentanan pasar barang mewah terhadap ketidakpastian global dan gangguan rantai pasok wisatawan.

Selain itu, penurunan tajam di Timur Tengah menandakan bahwa kawasan ini bukan hanya pasar potensial yang penting, tetapi juga indikator kesehatan pasar barang mewah dunia. Jika ketegangan tidak segera mereda, sektor ini akan sulit pulih sepenuhnya di 2026, bahkan dengan membaiknya kondisi di pasar lain seperti AS dan China.

Investor dan pelaku industri harus mewaspadai perkembangan konflik geopolitik selanjutnya yang bisa menimbulkan dampak domino ke sektor lain, termasuk energi dan keuangan. Pasar akan terus sensitif terhadap berita dan perubahan situasi di Timur Tengah, sehingga strategi mitigasi risiko menjadi kunci bagi perusahaan barang mewah dan investor global.

Untuk informasi lebih lengkap dan update terbaru seputar dampak perang Iran terhadap pasar global, Anda dapat merujuk langsung ke artikel asli di CNBC Indonesia dan berita terkait dari CNN Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad