20 Negara dengan Work-Life Balance Terburuk 2025: Filipina hingga Nigeria

May 4, 2026 - 11:35
 0  5
20 Negara dengan Work-Life Balance Terburuk 2025: Filipina hingga Nigeria

Work-life balance atau keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi semakin menjadi perhatian penting dalam menilai kualitas hidup pekerja di seluruh dunia. Namun, sebuah laporan terbaru yang dirilis pada 2025 menunjukkan bahwa masih banyak negara yang menghadapi masalah serius terkait jam kerja yang panjang, hak cuti yang terbatas, serta tingkat stres yang tinggi di kalangan pekerjanya.

Ad
Ad

Studi yang dilakukan oleh Remote.com ini menganalisis 60 ekonomi terbesar dunia berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) untuk mengukur bagaimana negara-negara tersebut mengelola keseimbangan antara produktivitas, kesehatan, dan kebahagiaan pekerja. Penilaian ini menggunakan berbagai indikator, termasuk jumlah hari cuti berbayar, kebijakan cuti sakit, durasi dan upah cuti melahirkan, serta jam kerja rata-rata per minggu termasuk lembur.

Selain itu, faktor-faktor lain seperti upah minimum, kualitas layanan kesehatan, tingkat kebahagiaan, inklusivitas LGBTQ+, dan tingkat keamanan juga diperhitungkan dalam laporan tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa negara-negara dengan jam kerja yang panjang dan perlindungan pekerja yang minim cenderung menempati peringkat terbawah dalam work-life balance.

Filipina dan Nigeria di Peringkat Terendah

Salah satu temuan menarik adalah posisi Filipina yang berada di peringkat ke-41 dengan skor 46,60 dari 100. Meskipun masih tergolong rendah, Filipina menunjukkan perbaikan signifikan dari tahun sebelumnya. Rata-rata pekerja di Filipina bekerja sekitar 42,25 jam per minggu, dengan indeks kebahagiaan 6,04 yang relatif lebih tinggi dibandingkan beberapa negara lain dalam daftar.

Di sisi lain, Nigeria menempati posisi terbawah atau peringkat ke-60 secara global, menjadikannya negara dengan work-life balance terburuk di dunia. Faktor utama yang mempengaruhi posisi Nigeria adalah rendahnya tingkat keamanan dan minimnya hak cuti yang tersedia bagi pekerja.

Negara-negara yang Masuk Daftar 20 Terburuk

Berikut adalah daftar 20 negara dengan work-life balance terburuk berdasarkan laporan Remote.com yang dikutip dari The Economics Times:

  1. Filipina (Manila)
  2. Kazakhstan (Nursultan)
  3. Uni Emirat Arab (Abu Dhabi)
  4. Meksiko (Mexico City)
  5. Hong Kong
  6. Aljazair (Algiers)
  7. Iran (Tehran)
  8. Maroko (Rabat)
  9. China (Beijing)
  10. India (New Delhi)
  11. Bangladesh (Dhaka)
  12. Qatar (Doha)
  13. Pakistan (Islamabad)
  14. Irak (Baghdad)
  15. Ethiopia (Addis Ababa)
  16. Mesir (Kairo)
  17. Amerika Serikat (Washington, D.C.)
  18. Nigeria (Abuja)
  19. Rusia (Moskow)
  20. Turki (Ankara)

Negara-negara seperti Amerika Serikat juga masuk dalam daftar ini karena tidak memiliki sistem cuti berbayar yang dijamin secara nasional, yang berdampak pada kesejahteraan pekerja. Sementara itu, negara-negara seperti China dan India mendapat sorotan karena budaya kerja yang menuntut jam kerja sangat panjang, yang mengurangi waktu untuk kehidupan pribadi dan keluarga.

Faktor Penyebab dan Dampak

Beberapa faktor utama yang menyebabkan rendahnya work-life balance di negara-negara tersebut antara lain:

  • Jam kerja panjang tanpa perlindungan lembur yang memadai.
  • Hak cuti yang terbatas, termasuk cuti sakit dan cuti melahirkan.
  • Minimnya jaminan sosial dan perlindungan pekerja.
  • Tingkat stres dan tekanan kerja yang tinggi akibat tuntutan produktivitas.
  • Rendahnya tingkat keamanan dan kondisi sosial yang tidak kondusif untuk kehidupan keluarga.

Hal ini tidak hanya mempengaruhi kesehatan mental dan fisik pekerja, tetapi juga berdampak pada produktivitas jangka panjang dan stabilitas sosial di negara-negara tersebut.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, laporan ini menjadi alarm penting bagi pemerintah dan pelaku bisnis di berbagai negara untuk segera memperbaiki kondisi kerja demi meningkatkan kesejahteraan pekerja. Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi agar sumber daya manusia dapat berkembang secara optimal.

Negara-negara dengan work-life balance buruk biasanya menghadapi risiko tinggi terhadap masalah kesehatan mental, tingkat burnout, dan penurunan kualitas hidup secara keseluruhan. Ini juga bisa berdampak negatif pada ekonomi jika produktivitas menurun dan tenaga kerja tidak mampu berkontribusi maksimal.

Ke depan, penting bagi negara-negara tersebut untuk meningkatkan kebijakan cuti berbayar, mengatur jam kerja yang masuk akal, dan memperkuat perlindungan pekerja. Selain itu, membangun lingkungan kerja yang inklusif dan aman juga menjadi aspek krusial.

Untuk informasi lengkap dan data lebih rinci, Anda bisa mengakses laporan lengkapnya di situs CNBC Indonesia dan laporan resmi dari Remote.com. Jangan lewatkan update terkait tren work-life balance yang akan terus berkembang seiring perubahan dunia kerja global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad