Harga Minyak Meledak 35%: Krisis Pasokan Terburuk 40 Tahun Terjadi Sekarang

Mar 7, 2026 - 11:31
 0  3
Harga Minyak Meledak 35%: Krisis Pasokan Terburuk 40 Tahun Terjadi Sekarang

Harga minyak mentah melonjak tajam sebesar 35% pada pekan terakhir perdagangan Jumat (6/3/2026), mencapai level tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh penutupan efektif Selat Hormuz yang menjadi jalur vital ekspor minyak dunia akibat meluasnya konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran.

Ad
Ad

Kenaikan Harga Minyak Brent dan WTI Capai Rekor

Harga minyak Brent ditutup pada US$93,34 per barel, naik 9,3%, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) mengalami kenaikan lebih besar, mencapai US$90,9 per barel dengan lonjakan 12,21% pada Jumat. Kenaikan ini merupakan yang tertinggi sejak Mei 2020 untuk WTI dan tertinggi sejak September 2023 untuk Brent.

Secara mingguan, harga WTI melonjak 35,6%, menjadi kenaikan terbesar sejak kontrak berjangka minyak dimulai pada 1983, atau dalam 43 tahun terakhir. Sementara itu, Brent naik 28,7% selama sepekan.

Faktor Penyebab Kenaikan Harga dan Krisis Pasokan

Menurut Giovanni Staunovo dari UBS, pasar kini aktif mencari sumber alternatif pasokan minyak karena suplai dari Timur Tengah terhambat akibat konflik dan penutupan Selat Hormuz. Selat ini biasanya menjadi jalur lewat sekitar 20% pasokan minyak global, sehingga penutupannya mengakibatkan sekitar 140 juta barel minyak (setara 1,4 hari konsumsi global) tidak bisa mencapai pasar.

Janiv Shah dari Rystad Energy menambahkan bahwa penguatan operasi kilang di Pantai Teluk AS dan peluang arbitrase ekspor ke Eropa turut mendorong kenaikan harga minyak WTI yang melampaui Brent selama dua hari berturut-turut.

Potensi Harga Minyak Tembus US$100 Hingga US$150 per Barel

Menteri Energi Qatar, Saad al-Kaabi, dalam wawancara dengan Financial Times memperingatkan kemungkinan produsen energi di Teluk menghentikan ekspor secara total, yang bisa mendorong harga minyak hingga US$150 per barel. John Kilduff dari Again Capital juga menyebutkan bahwa skenario terburuk sedang terjadi dan harga minyak US$100 per barel sangat mungkin tercapai.

Reli harga ini dimulai setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara terhadap Iran yang dibalas dengan penutupan Selat Hormuz oleh Iran, memperparah gangguan pasokan global.

Dampak Penutupan Selat Hormuz Terhadap Pasokan dan Ekonomi Global

Selat Hormuz merupakan jalur penting untuk ekspor minyak, terutama untuk Asia yang mengimpor sekitar 60% minyak mentahnya dari Timur Tengah. Penutupan jalur ini menyebabkan kilang dan pabrik petrokimia mengurangi produksi bahkan menghentikan operasi karena kekurangan bahan baku.

Selain itu, produsen minyak di Teluk mulai kehabisan kapasitas penyimpanan karena ekspor terhambat, memaksa negara-negara seperti Irak menghentikan sebagian produksi minyaknya. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memiliki kapasitas penyimpanan terbatas yang hanya cukup untuk beberapa hari.

Ketersediaan Cadangan dan Langkah Antisipasi

Meski persediaan minyak global sempat meningkat sepanjang tahun 2025, sebagian besar cadangan minyak di kapal tanker merupakan milik negara-negara yang terkena sanksi seperti Iran, Rusia, dan Venezuela, sehingga tidak mudah diakses pembeli lain.

Amerika Serikat memiliki cadangan minyak strategis (SPR) lebih dari 400 juta barel, yang bisa digunakan untuk mengantisipasi guncangan pasokan. Namun, penggunaan cadangan SPR biasanya menjadi pilihan terakhir.

China yang juga mengumpulkan cadangan minyak besar belum memberikan sinyal pelepasan cadangannya meski sudah mengurangi ekspor bahan bakar.

Proyeksi dan Implikasi Jangka Panjang

Gangguan ini mengubah ekspektasi pasar dari surplus minyak menjadi kemungkinan kekurangan pasokan yang signifikan. Pemulihan pasokan dan rantai distribusi diperkirakan butuh waktu berminggu-minggu bahkan setelah Selat Hormuz dibuka kembali.

Menurut Paul Horsnell, analis minyak independen, cadangan minyak tidak dapat menggantikan aliran pasokan secara cepat, terutama dengan penurunan yang sangat besar seperti saat ini. Jika gangguan berlanjut, harga minyak kemungkinan akan tetap tinggi sepanjang tahun depan.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, lonjakan harga minyak saat ini bukan hanya masalah kenaikan harga semata, tetapi menandai sebuah titik kritis dalam ketahanan energi global. Konflik geopolitik yang melibatkan negara-negara penghasil minyak utama memperlihatkan betapa rentannya rantai pasokan energi dunia. Pasokan yang tercekik dan harga yang melambung tinggi berpotensi memicu inflasi global dan tekanan ekonomi yang lebih berat di banyak negara, khususnya yang sangat bergantung pada impor minyak.

Lebih jauh, pasar minyak sekarang menghadapi ketidakpastian lebih tinggi dengan potensi gangguan pasokan yang berkepanjangan. Negara-negara konsumen minyak besar seperti Indonesia harus mulai memikirkan strategi diversifikasi energi dan memperkuat cadangan minyak nasional, agar tidak terlalu terpukul jika krisis ini diperpanjang.

Kita juga harus mencermati respons kebijakan pemerintah AS dan negara produsen utama lainnya. Keputusan untuk menggunakan cadangan strategis atau memperluas produksi alternatif bisa menjadi penentu arah harga minyak global. Pasar sangat membutuhkan stabilitas, namun ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung justru memperuncing risiko pasokan.

Ke depan, situasi ini akan menjadi ujian besar bagi diplomasi internasional dan stabilitas ekonomi global. Publik dan pelaku industri disarankan untuk terus mengikuti perkembangan agar bisa memitigasi dampak buruk yang mungkin muncul.

Terus pantau perkembangan terbaru karena dinamika konflik dan pasokan minyak akan sangat menentukan kondisi energi dan ekonomi dunia di bulan-bulan mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad