Obama Ungkap Netanyahu Sering Hasut AS Serang Iran, Ini Faktanya
Presiden ke-44 Amerika Serikat, Barack Obama, mengungkapkan pengalamannya saat sering mendapatkan dorongan dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar Washington melakukan serangan militer besar-besaran ke Iran. Pengakuan ini disampaikan dalam sebuah video yang dirilis oleh New Yorker pada Senin, 4 Mei 2026.
Netanyahu dan Tekanan untuk Serang Iran
Dalam video tersebut, Obama menjelaskan bahwa Netanyahu menggunakan argumen yang sama ketika mencoba membujuk Presiden Donald Trump agar melancarkan serangan militer terhadap Iran. Namun, Obama menegaskan bahwa antara dirinya dan Netanyahu terdapat perbedaan mendasar dalam menentukan kebijakan terhadap Iran.
"Saya pikir ada catatan yang cukup tentang perbedaan pendapat saya dengan Bapak Netanyahu," ujar Obama, sebagaimana dikutip oleh Middle East Monitor (MEMO).
Obama juga menyatakan keraguannya bahwa perang terhadap Iran akan memberikan keuntungan bagi Amerika Serikat dan Israel, walaupun dia menduga tujuan Netanyahu dalam mendorong langkah tersebut telah tercapai.
Tekanan Serupa dari Mantan Menteri Luar Negeri AS
Pengakuan Obama ini bukan yang pertama. Sebelumnya, Mantan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, juga mengungkap bahwa Netanyahu berulang kali mendesak pemimpin-pemimpin AS, termasuk George W. Bush, Barack Obama, dan Joe Biden, untuk meluncurkan serangan militer ke Iran.
"Dia [Netanyahu] ingin kami menyerang [Iran]," kata Kerry, dikutip Anadolu Agency.
Kerry menambahkan bahwa Netanyahu bahkan mengajukan proposal serangan secara langsung kepada para presiden AS tersebut, namun selalu menemui penolakan atau jalan buntu.
Proposal "Presentasi Empat Poin" Netanyahu
Proposal yang diajukan Netanyahu dikenal sebagai "presentasi empat poin". Dalam proposal ini, Netanyahu mengklaim bahwa serangan militer terhadap Iran dapat:
- Membunuh jajaran kepemimpinan Iran
- Memicu perubahan rezim di Iran
- Menghancurkan kekuatan militer Iran
- Mengamankan kepentingan strategis Israel dan AS di kawasan
Meskipun banyak penolakan dari presiden-presiden sebelumnya, hanya Donald Trump yang akhirnya menerima bujuk rayu Netanyahu dan melancarkan serangan militer pada 28 Februari 2026.
Operasi Militer dan Dampaknya
Serangan brutal yang dipimpin AS dan Israel pada Februari 2026 menewaskan beberapa pejabat tinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi dan pejabat pertahanan utama. Aksi ini memicu balasan keras dari Iran yang meluncurkan serangan balik ke Israel dan aset militer AS di negara-negara Teluk.
Selain itu, Iran menutup jalur perdagangan minyak global di Selat Hormuz, yang berdampak signifikan pada ekonomi dunia dan keamanan energi global.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, pengakuan Barack Obama ini membuka perspektif baru tentang dinamika hubungan AS-Israel dan bagaimana tekanan politik dari sekutu strategis dapat memengaruhi kebijakan luar negeri Amerika Serikat, terutama dalam hal keamanan regional di Timur Tengah.
Seringnya Netanyahu mendorong serangan ke Iran menunjukkan adanya perbedaan kepentingan yang tajam antara kebijakan keamanan Israel dan pendekatan diplomasi AS yang lebih berhati-hati selama masa pemerintahan Obama. Hal ini juga mencerminkan bagaimana Israel berperan aktif dalam membentuk narasi ancaman Iran di panggung internasional.
Keputusan Trump menerima proposal Netanyahu dan melancarkan serangan militer menjadi titik balik yang kritis, memicu konflik terbuka dengan konsekuensi luas bagi stabilitas regional dan hubungan AS dengan negara-negara Teluk. Pembaca perlu mencermati perkembangan selanjutnya, terutama bagaimana respons diplomatik dan militer akan berlangsung menyusul eskalasi tersebut.
Untuk informasi lebih lengkap dan update terkini, pembaca dapat mengakses berita terkait melalui CNN Indonesia dan sumber resmi lainnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0