Bahaya Skinny Fat: Tubuh Kurus Belum Tentu Sehat, Risiko Penyakit Serius Meningkat
Banyak orang mengira memiliki tubuh kurus otomatis berarti sehat. Namun, dokter mengungkap fakta mengejutkan bahwa kondisi skinny fat atau normal weight obesity dapat membuat seseorang yang berat badannya normal justru memiliki risiko penyakit serius lebih tinggi. Kondisi ini terjadi saat seseorang memiliki kadar lemak tubuh yang tinggi namun massa otot rendah, sehingga penampilan fisik terlihat kurus tapi sebenarnya tidak sehat.
Apa Itu Skinny Fat dan Mengapa Berbahaya?
Menurut dr. Putri Sakti Dwi Permanasari, dokter spesialis gizi, banyak orang salah kaprah menganggap obesitas hanya berhubungan dengan ukuran tubuh besar atau kegemukan. Padahal obesitas adalah penyakit metabolik kronis yang juga bisa diderita oleh mereka yang berat badannya normal.
"Jadi benar-benar normal pun, kalau ototnya rendah, lemaknya tinggi, dia juga punya risiko penyakit yang ternyata secara penelitian dua kali lebih besar dibanding orang obesitas," ujar dr. Putri dalam acara Hari Obesitas Sedunia 2026 pada 7 Mei 2026.
Artinya, seseorang dengan tubuh kurus tapi proporsi lemak tubuh tinggi berpotensi terkena penyakit yang biasanya terkait obesitas, seperti diabetes, gangguan jantung, dan penyakit metabolik lainnya.
Pentingnya Memeriksa Komposisi Tubuh dan Lemak Viseral
dr. Putri menegaskan bahwa pemeriksaan berat badan saja tidak cukup untuk menilai kesehatan. Indeks massa tubuh (BMI) harus dilengkapi dengan evaluasi komposisi tubuh, termasuk kadar lemak dan massa otot. Salah satu indikator mudah mengenali obesitas sentral adalah dengan mengukur lingkar pinggang:
- Perempuan dengan lingkar pinggang di atas 80 cm masuk kategori obesitas sentral
- Laki-laki dengan lingkar pinggang di atas 90 cm juga termasuk obesitas sentral
Ukuran celana atau jeans pun bisa menjadi indikator sederhana untuk memantau kesehatan tubuh.
Selain itu, dr. Gia Pratama menekankan bahaya lemak viseral yang menumpuk di sekitar organ tubuh. Lemak viseral jauh lebih berbahaya dibandingkan lemak di bawah kulit karena dapat mengganggu fungsi organ-organ vital seperti hati, pankreas, ginjal, dan jantung.
"Lemak ini bisa melingkupi semua organ-organ tubuh di dalam. Perlemakan hati, perlemakan ginjal, itu terjadi karena visceral," jelas dr. Gia.
Menurutnya, seseorang bisa memiliki kadar lemak viseral tinggi meski tubuhnya terlihat ramping. Kondisi ini sangat berbahaya dan sering tidak disadari.
Faktor Penyebab dan Cara Penanganan Skinny Fat
Obesitas, termasuk skinny fat, dipengaruhi oleh banyak faktor seperti genetika, pola hidup, hormon, kualitas tidur, dan tingkat stres. Oleh karena itu, penanganannya tidak bisa hanya mengandalkan diet ketat atau olahraga sesaat.
"Komitmen dan konsistensi itu adalah kunci," tegas dr. Putri.
Perubahan gaya hidup secara menyeluruh yang meliputi pola makan sehat, olahraga teratur, tidur cukup, dan manajemen stres sangat diperlukan untuk mengurangi risiko kondisi skinny fat dan obesitas sentral.
Dampak Skinny Fat pada Risiko Penyakit Serius
dr. Gia juga mengingatkan bahwa obesitas menjadi faktor risiko utama berbagai penyakit mematikan seperti diabetes, stroke, dan serangan jantung. Ia menyinggung fakta mengkhawatirkan bahwa usia rata-rata pasien serangan jantung di Indonesia semakin muda.
- Pada 2013, rata-rata usia serangan jantung adalah di usia 50-an
- Pada 2023, usia rata-rata turun menjadi sekitar 41 tahun, hampir 10 tahun lebih muda
Hal ini menunjukkan bahwa masalah metabolik akibat obesitas, termasuk skinny fat, semakin mengancam generasi muda Indonesia.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, fenomena skinny fat menjadi peringatan penting bahwa penilaian kesehatan tidak bisa hanya berdasarkan berat badan atau penampilan fisik. Kondisi ini menuntut masyarakat untuk lebih sadar akan pentingnya body composition dan pemeriksaan kadar lemak viseral sebagai indikator kesehatan yang lebih akurat.
Selain itu, tren penurunan usia serangan jantung menegaskan perlunya intervensi kesehatan yang lebih agresif, terutama pada kelompok usia produktif. Pemerintah dan tenaga medis harus meningkatkan edukasi publik mengenai obesitas metabolik dan skinny fat agar pencegahan bisa dilakukan lebih awal.
Kita juga perlu mewaspadai pendekatan instan seperti diet ekstrem yang tidak berkelanjutan dan kurang memperhatikan keseimbangan otot dan lemak. Konsistensi dalam pola hidup sehat adalah kunci utama untuk mencegah risiko penyakit serius akibat skinny fat.
Untuk informasi lebih lengkap dan update terbaru mengenai skinny fat dan risiko obesitas, Anda bisa mengunjungi artikel sumber resmi CNBC Indonesia dan sumber terpercaya lainnya seperti Kompas.
Dengan pemahaman yang lebih mendalam, masyarakat diharapkan dapat mengambil langkah preventif dan menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh, bukan hanya fokus pada berat badan semata.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0