Orthorexia: Ketika Obsesi Makan Sehat Justru Memicu Gangguan Mental

Mar 9, 2026 - 06:40
 0  5
Orthorexia: Ketika Obsesi Makan Sehat Justru Memicu Gangguan Mental

Menjalani pola makan sehat memang sangat dianjurkan untuk menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh. Pola makan yang baik tidak hanya membantu mempertahankan berat badan ideal, tetapi juga dapat memperpanjang harapan hidup seseorang. Namun, ketika kebiasaan tersebut berlebihan, dampaknya bisa menjadi kontraproduktif, bahkan memicu gangguan mental serius yang dikenal dengan istilah orthorexia.

Ad
Ad

Apa Itu Orthorexia dan Mengapa Perlu Diwaspadai?

Orthorexia merupakan kondisi di mana seseorang mengalami obsesi berlebihan terhadap makanan sehat. Orang dengan orthorexia tidak sekadar ingin makan sehat, melainkan mendapatkan ketakutan yang berlebihan terhadap makanan yang dianggap tidak murni atau tidak sehat, sehingga mereka membatasi asupan makanan secara ekstrem.

Meski banyak ahli kesehatan mental menganggap orthorexia sebagai bagian dari gangguan makan, kondisi ini belum resmi tercantum dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). Psikoterapis Kevon Owen menegaskan bahwa ketidaktercantuman dalam DSM tidak berarti orthorexia tidak nyata, karena ada banyak gangguan yang awalnya tidak tercantum namun kemudian diakui secara resmi.

"Ini tidak berarti itu tidak ada, karena ada banyak gangguan yang pada suatu waktu bukan bagian dari DSM," ujar Kevon Owen.

Tanda-Tanda Orthorexia yang Sering Terjadi

Menurut terapis keluarga Ashley Moser dari The Renfrew Center, beberapa gejala umum orthorexia yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Terlalu sering memeriksa label nutrisi atau bahan makanan secara obsesif.
  • Menolak mengonsumsi makanan yang dianggap tidak sehat atau terlalu diproses.
  • Kecemasan yang tinggi saat tidak menemukan makanan yang sesuai standar sehatnya.
  • Membatasi jenis makanan hingga pilihan makanan sangat sedikit.
  • Menghindari acara sosial demi mengontrol asupan makanan secara ketat.

Psikolog Kelsey M. Latimer menambahkan bahwa perilaku ini kadang juga muncul pada penderita Anorexia Nervosa, namun orthorexia memiliki fokus khusus pada obsesi terhadap 'makanan bersih' atau sehat, bukan sekadar berat badan.

Dampak Negatif Orthorexia bagi Kesehatan

Kebiasaan makan yang ekstrem akibat orthorexia dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti:

  • Kekurangan nutrisi, karena pembatasan makanan terlalu ketat.
  • Penurunan berat badan yang berbahaya, bahkan hingga mengancam kesehatan fisik.
  • Gangguan mental seperti kecemasan berlebihan dan isolasi sosial.

Alih-alih membuat tubuh lebih sehat, obsesi ini justru mengancam keseimbangan nutrisi dan kualitas hidup penderitanya.

Cara Mengatasi Orthorexia

Penanganan orthorexia membutuhkan pendekatan multidisipliner. Kombinasi terapi psikologis dan konseling gizi menjadi langkah utama untuk membantu pasien membangun kembali hubungan yang sehat dengan makanan. Kelsey M. Latimer menekankan bahwa:

"Dalam kasus yang lebih parah, seperti kekurangan gizi atau penurunan berat badan drastis, perawatan intensif oleh tim medis diperlukan. Namun, untuk kondisi ringan hingga sedang, konsultasi dengan ahli gizi dan psikolog sudah dapat membantu."

Tujuan utama terapi adalah menciptakan pola makan yang lebih seimbang, tidak ekstrem, dan mengurangi kecemasan terkait makanan.

Keseimbangan Kunci Pola Makan Sehat

Memiliki keinginan untuk makan sehat adalah hal positif dan penting. Menambah konsumsi sayur dan memperhatikan kualitas makanan adalah langkah yang baik. Namun, menurut Kelsey, masalah timbul ketika pola makan sehat itu berubah menjadi obsesi yang mengganggu aktivitas sehari-hari dan hubungan sosial.

Jika pola makan mulai membatasi kebebasan hidup dan menimbulkan kecemasan berlebihan saat tidak bisa memenuhi standar sendiri, sudah saatnya untuk mengevaluasi kembali kebiasaan tersebut. Keseimbangan adalah kunci gaya hidup sehat, bukan aturan yang terlalu ketat dan membebani.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, fenomena orthorexia menunjukkan bahwa dalam dunia kesehatan mental, tidak semua yang tampak baik secara fisik otomatis sehat secara psikologis. Obsesi terhadap pola makan sehat yang berlebihan mencerminkan bagaimana tekanan sosial dan tren kesehatan dapat berbalik menjadi beban mental.

Kondisi ini penting untuk mendapat perhatian serius karena sering kali tidak terdiagnosis, padahal dampaknya bisa mengganggu kualitas hidup dan kesehatan jangka panjang. Masyarakat perlu lebih sadar bahwa pola makan sehat haruslah fleksibel dan tidak membuat seseorang merasa terkurung dalam aturan ketat yang justru merugikan.

Ke depan, edukasi tentang kesehatan mental terkait pola makan harus semakin digalakkan agar orthorexia dan gangguan makan lain dapat dikenali lebih dini. Ini juga menjadi pengingat bagi profesional kesehatan untuk memperhatikan aspek psikologis dalam penanganan masalah nutrisi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad