Eks Direktur CIA David Petraeus Kritik Penunjukan Mojtaba Khamenei Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
Jakarta, CNBC Indonesia – Mantan Direktur CIA, David Petraeus, memberikan respons kritis terhadap penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang menggantikan Ayatollah Ali Khamenei, ayahnya, yang tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel yang memicu eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Petraeus menilai penunjukan tersebut tidak tepat dan menyatakan harapan banyak pihak agar pemimpin baru Iran memiliki pendekatan yang lebih pragmatis, bukan meneruskan garis keras ideologis ayahnya.
"Kami berasumsi bahwa dia akan melanjutkan apa yang dilakukan ayahnya, yaitu seorang ulama ideologis garis keras," kata Petraeus dalam wawancara dengan Jessica Dean dari CNN International, Senin (9/3/2026).
Profil Mojtaba Khamenei dan Pengaruhnya di Iran
Mojtaba Khamenei, yang kini berusia 56 tahun, adalah putra kedua dari Ali Khamenei. Ia dikenal memiliki pengaruh signifikan di balik layar dan hubungan erat dengan dua institusi militer terkuat Iran, yakni Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan pasukan paramiliter sukarelawan Basij. Meski demikian, Mojtaba bukanlah seorang ulama berpangkat tinggi dan tidak pernah memegang posisi resmi dalam rezim Iran.
Dalam sejarah Republik Islam Iran sejak berdiri pada 1979, pemilihan Pemimpin Tertinggi hanya pernah terjadi sekali, yaitu ketika Ali Khamenei dipilih secara mendadak menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini. Penunjukan Mojtaba ini menambah dinamika politik dan pertanyaan soal arah kebijakan Iran di masa depan.
Harapan dan Skeptisisme Amerika Serikat
Menurut Petraeus, Amerika Serikat mengharapkan sosok pemimpin Iran yang dapat memenuhi tuntutan kebijakan AS, seperti menghentikan program nuklir dan rudal yang dianggap mengancam stabilitas kawasan. Namun, Petraeus mengungkapkan keraguannya bahwa Mojtaba akan mengambil langkah tersebut di masa depan.
"Saya rasa dia bahkan bukan seorang ayatollah kecuali dia baru saja dipromosikan, yang juga terjadi pada ayahnya, omong-omong, dia tidak begitu terkenal ketika dipilih beberapa dekade lalu," tegas Petraeus.
Dia menambahkan, "Tampaknya itu tidak terjadi saat ini, kecuali, tentu saja, dia muncul sebagai seseorang yang berbeda ketika dia benar-benar berkuasa." Hal ini menandakan ketidakpastian dari sisi AS tentang perubahan kebijakan Iran di bawah kepemimpinan baru.
Implikasi Penunjukan Pemimpin Baru bagi Konflik Timur Tengah
Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran berpotensi mempengaruhi dinamika politik dan keamanan di Timur Tengah. Diperkirakan akan terjadi:
- Konsolidasi kekuatan IRGC dan Basij yang selama ini menjadi instrumen pengaruh politik dan militer Iran di dalam dan luar negeri.
- Peningkatan ketegangan dengan Amerika Serikat dan sekutunya akibat pendekatan garis keras yang diperkirakan akan berlanjut.
- Ketidakpastian dalam negosiasi program nuklir Iran yang menjadi fokus utama diplomasi internasional.
- Potensi eskalasi konflik di kawasan terutama mengingat hubungan tegang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran merupakan langkah yang menguatkan kekuatan kelompok garis keras di Iran, khususnya IRGC dan Basij, yang selama ini menjadi pilar utama dalam politik dan keamanan negara tersebut. Langkah ini bisa jadi tantangan besar bagi diplomasi internasional, terutama Amerika Serikat, yang berharap bisa meredam ambisi nuklir dan militer Iran.
Selain itu, meskipun Mojtaba belum memiliki jabatan resmi dan belum diakui sebagai ayatollah berpangkat tinggi, pengaruhnya di balik layar cukup besar. Ini menunjukkan bahwa rezim Iran memilih pemimpin yang dapat menjaga kesinambungan ideologi dan kekuasaan rezim, bukan sosok yang membawa perubahan pragmatis.
Ke depan, para pengamat dan pelaku diplomasi harus mengantisipasi kemungkinan peningkatan ketegangan dan menyiapkan strategi baru untuk menghadapi Iran yang dipimpin oleh figur yang lebih berorientasi ideologi dan militer. Penting untuk terus memantau perkembangan kebijakan dalam negeri Iran serta reaksi komunitas internasional terhadap kepemimpinan baru ini.
Dengan begitu, publik dan pengambil kebijakan dapat lebih siap menghadapi dinamika yang terjadi serta mengantisipasi dampak yang mungkin timbul di kawasan dan global.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0